Jakarta, innews.co.id – Sejak Khonghucu diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, tahun 2000 silam, secara rutin Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) mengadakan Perayaan Imlek Tingkat Nasional yang selalu dihadiri oleh Presiden RI.

Tahun ini, Perayaan Imlek Nasional memasuki tahun ke-20 yang akan diadakan di Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (10/2/2019) nanti.

Serangkaian kegiatan akan dilakukan pada perayaan kali ini dan dimulai pagi hari, di antaranya Pesta Rakyat dan Kesenian, Ritual Sembahyang, dan Perayaan yang mengundang Presiden RI Joko Widodo.

Dalam rilis yang diterima innews, Jum’at (8/2/2019) dikatakan, sejak tahun 2000 hingga 2014, Perayaan Imlek Nasional selalu dihadiri oleh Presiden RI.

Masih membekas diingatan Ws. Budi Santoso Tanuwibowo betapa kemeriahan Perayaan Imlek Nasional pertama, 17 Februri 2000 yang dihadiri oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pun demikian di tahun selanjutnya.

“Saya sangat terharu mengenang momen itu. Gus Dur tidak saja begitu baik buat umat Khonghucu, tetapi sekaligus membuat sebuah sejarah baru dengan mendukung penyelenggaraan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang pertama, dan yang orang jarang mengetahuinya juga Perayaan Cap Go Meh pertama. Kita harus tetap mengingat jasa beliau dan mengenangnya, meski sekarang sudah banyak orang yang lupa atau malah mengaburkan. Tanpa Gus Dur, tidak ada cerita soal Imlek seperti hari-hari ini,” urai Budi yang kini duduk sebagai Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pimpinan Pusat MATAKIN. Di tahun 2000, Budi dipercaya sebagai Ketua Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional pertama.

Ditambahkannya, pada Perayaan Imlek Nasional selanjutnya, juga dihadiri oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan dilanjutkan tatkala Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden RI.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional ke-20, tahun ini tema yang diusung adalah “Penimbunan kekayaan akan menimbulkan perpecahan diantara rakyat, tersebarnya kekayaan akan menyatukan rakyat”.

Tema kali ini, kata Budi, terinspirasi oleh masih tingginya jumlah penduduk yang masih di bawah garis kemiskinan.

Menurut data BPS, per September 2018 angka kemiskinan masih 9,66 persen dari populasi. Ini artinya ada 25 jutaan yang hidup dengan penghasilan 470 ribu rupiah per bulan/per kapita. Ini jelas persoalan serius dan bukan persoalan yang ringan dan mudah diatasi.

Terkait hal di atas, Matakin menghimbau dan mengingatkan kita semua untuk lebih peduli dan saling bantu-membantu. Budaya gotong-royong harus digalakkan kembali, tentu dengan variasi disana-sini.

Para tokoh agama sebagai pimpinan informal, wajib membantu penyelesaian masalah ini dalam arti tidak jemu-jemunya untuk selalu mengingatkan masyarakat.

Dari pantauan innews, sejauh ini belum ada konfirmasi dari pihak Istana Negara akan kehadiran Presiden RI Joko Widodo yang juga diundang khusus pada Perayaan Imlek Nasional tahun 2019 yang diadakan oleh Matakin ini. (RN)