Batam, innews.co.id – Koperasi Simpan Pinjam (KSP) harus memberikan manfaat kepada anggotanya, agar mendapatkan kepercayaan dari anggotanya maupun masyarakat pada umumnya. Ini menjadi dasar bagi KSP itu untuk bisa berkembang.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Kospin Jasa Pekalongan, Andy Arslan Djunaid, di sela Forum Konsultasi Penguatan Koperasi sebagai Lembaga Pembiayaan Formal bagi Usaha Mikro Kecil (UMK) di Batam, Kamis (27/7).

Menurut Andy, “Percuma kalau Koperasi, khususnya KSP, ngajak semua orang jadi anggota, tapi anggotanya ndak merasakan manfaatnya”.

Ia mencontohkan, di Kospin Jasa, selain memberikan SHU (Sisa Hasil Usaha), juga memberikan perlindungan asuransi pada semua anggotanya, dimana setiap anggota yang meninggal dunia, keluarganya mendapatkan santunan Rp 5 juta. “Kami juga memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) secara rutin pada anggota,” papar Andy yang memperoleh penghargaan Satya Lencana Wirakarya pada Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-71, tahun ini.

Selain itu, produk-produk KSP harus sesuai dengan kebutuhan angggota. “Misalnya sekarang anggota kami lagi banyak yang pergi haji, mereka membutuhkan dana pelunasan ONH sesegera mungkin. Karena anggota kami umumnya pedagang, dan baru sebulan kemudian mendapatkan dana hasil penjualan, maka kami harus cepat memberikan dana talangan,” jelas Andy.

Hal ketiga sebagai dasar KSP bisa berkembang adalah, pengurus dan pengelola harus transparan dan memberikan laporan secara rutin kepada anggotanya, agar anggota percaya, pengurus dan pengelola itu kredibel, dan ini akan menumuhkan kepercayaan anggota maupun calon anggota.

Dengan ketiga hal itu, KSP akan mampu berkembang dari tahun ke tahun, bahkan sampai menjadi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) seperti yang terjadi pada Kospin Jasa. “Setelah menjadi penyalur KUR, kami juga tak berhenti menawarkan produk-produk kami pada pemasok debitur KUR,” tambahnya.

Menjadi penyalur KUR, menurut Andy banyak manfaat yang diperoleh Kospin Jasa, antara lain nama koperasi yang semakin terkenal, karena sering disebut-sebut dalam setiap acara. “Tata kelola perusahaan yang sudah mapan maupun kinerja keuangan menjadi semakin kredibel,” tandasnya.

Hingga kini, Kospin Jasa berhasil mencatatkan aset Rp6,428 triliun untuk layanan keuangan konvensional atau tumbuh 11,44 persen dari 2016. Adapun simpanan pada 2017 berhasil mencapai Rp5,7 triliun naik 15,68 persen dari 2016.

Peningkatan yang sangat baik justru ditunjukkan oleh kinerja keuangan syariah. Pada 2017, aset layanan syariah tumbuh 16,94 persen menjadi Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,3 triliun. Simpanan juga menunjukkan kenaikan yang tinggi, yakni Rp1,49 triliun atau tumbuh 18,82 persen. Di sisi pinjaman tumbuh 12,8 persen.

Kue pembangunan

Pada kesempatan yang sama, General Manajer KSP Kopdit Obor Mas Maumer, Leonardus Frediyanto Moat Lering yang juga tampil sebagai pembicara membagikan pengalamannya. Dikatakan, keinginan koperasinya menjadi penyalur KUR ini, dilatarbelakangi KUR tidak memberikan bantuan keuangan, namun hanya subsidi ada biaya bunga.

“Itu membuat prinsip swadaya pada Kopdit Obor Mas tetap terjaga, dari oleh dan untuk anggota. Makanya kami mau menjadi penyalur KUR. Selain itu kami juga ingin Koperasi juga menikmati kue pembangunan melalui KUR ini, jangan hanya lembaga keuangan bank saja,” ujar Yanto—panggilan akrabnya Leonardus Frediyanto.

Menurut Yanto, yang harus disiapkan KSP untuk menuju menjadi penyalur KUR adalah sistem IT dimana harus terkoneksi dengan Kemenkeu, Bank Indonesia (BI) dan OJK (Otiritas Jasa Keuangan), karena harus mengakses pada Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) di Kemenkeu, SID (Sistem Informasi Debitur) ke BI, dan kini dilimpahkan menjadi SILK (Sistem Informasi Layanan Keuangan) ke OJK.

Selain itu penyiapan SDM koperasi yang harus bersertifikasi. Pihaknya juga menyiapkan dan menekankan pada anggota, bahwa KUR ini dananya berasal dari koperasi sendiri, bukan dari pemerintah. Karena itu, anggota harus sungguh-sungguh mengangsur pinjaman, karena jika menunggak, maka mengorbankan anggota yang lain.

Di tahun 2018, KSP Kopdit Obor Mas Maumere dipercaya menyalurkan KUR Rp150 miliar. “Total plafon Rp150 miliar, meliputi Rp100 miliar untuk usaha mikro dan sisanya Rp50 miliar untuk ritel. Kami berusaha mencapainya paling tidak nanati ada evaluasi lagi karena praktis tinggal lima bulan lagi pada 2018 ini,” akunya.

“Banyak manfaat yang kami peroleh setelah menjadi penyalur KUR. Kini, kami sejajar dengan bank. Nama Obor Mas juga semakin terkenal di NTT. Kami sangat bersyukur dengan kepercayaan ini. Di Indonesia, hanya dua koperasi yang layak salurkan KUR, kami berharap KSP lainnya segera menyusul,” imbuh Yanto. (RN)