Dr. M.L. Denny Tewu, SE., MM

Manado, innews.co.id – Selama ini menjadi pertanyaan besar, mengapa Sulawesi Utara begitu kukuh dalam menghadapi gelombang radikalisme yang telah banyak menerpa berbagai daerah di Indonesia?

Ternyata, kekuatan toleransi antar-umat beragama di Sulut menjadi kekuatan yang mendasari kokohnya ‘benteng’ daerah itu dari serangan radikalisme.

Hal itu secara langsung dikemukakan tokoh nasional Dr. M.L. Denny Tewu, SE., MM., lewat pesan singkatnya, Selasa, (12/6).

Menurut sosok yang kini memilih jalur perjuangan lewat DPD RI ini, “Untuk menangkal radikalisme, kita harus jadi toleran. Seperti yang terjadi di Sulut. Manado baru dapat penghargaan sebagai kota paling toleran di Indonesia. Ada juga daerah Bolaang Mongondouw (Bolmong). Masing-masing kuat akan ajaran agamanya, tapi juga masih bisa menerima pluralism.”

Ditambahkan Denny Tewu, pada kenyataannya, masyarakat di kedua daerah ini, bahkan Sulut pada umumnya masih bisa hidup berdampingan dengan damai bersama penganut agama lain sampai suku yang berbeda.

“Meski kuat dengan agama yang dianut, tetap menerima pluralisme. Itu yang hebat. Kalau semua daerah bisa seperti itu, Indonesia pasti Jaya,” kata Denny Tewu.

Paham Pancasila

Lebih jauh Denny Tewu mengatakan, Indonesia telah memiliki dasar negara sekaligus filosofi hidup yakni Pancasila. “Pemahaman Pancasila harus dimulai dalam keluarga, dan melalui program pendidikan dari SD sampai mahasiswa, sehingga Pancasila dapat menjadi life style dalam berbangsa dan bernegara,” ujar Denny.

Sayangnya, Denny Tewu melihat generasi saat ini kurang mendapat sosialisasi atau pemahaman tentang Pancasila dalam kehidupan sehari-hari baik itu dari sekolah, keluarga maupun komunitas agama.

“Hal ini perlu disikapi serius oleh semua pihak bukan hanya pemerintah, tetapi para pemimpin agama dan keluarga,” tandas Denny Tewu yang pernah mendapat anugerah Pemimpin Pancasila di Palangkaraya tahun 2011.

Di tahun 2011 dikatakan Denny Tewu, saat mendapat anugerah tersebut, ia sudah menyampaikan keprihatinannya bahwa mahasiswa di berbagai universitas di Indonesia, kurang lebihnya 80 persen kurang paham dengan Pancasila. Fakta ini, menurut Denny, berbahaya dan harus diantisipasi semua pihak.

“Jangan lagi hanya menjadi pemadam kebakaran. Informasi global sudah melanda kita dengan ajaran-ajaran yang berbeda dengan Pancasila, karena itu menjadi PR bagi kita agar generasi ini tidak asing dengan Pancasila dan mampu menghidupinya!” Tutup Denny Tewu yang hendak maju menjadi calon DPD RI Dapil Sulut ini. (RN)