Oleh: Prof. Soekirman*

Dalam rapat di Sekretariat Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) tentang Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu-PTM), antara lain dibicarakan peranan pendidikan gizi dan kesehatan kepada masyarakat untuk pencegahan obesitas dengan gizi seimbang. Sayangnya, dalam rapat tersebut dan di banyak acara lain, gizi seimbang diartikan dalam simbol hanya Piringku terjemahan dari pedoman gizi Amerika Serikat 1916 “MyPlate”.

Isinya tidak lain seperti pedoman Empat Sehat yang lama, anjuran makan cukup protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Tidak cukup dengan hanya nasi dan lauk pauk, tapi juga perlu cukup sayur dan buah.

Gizi Seimbang tidak hanya bicara soal makanan dan zat gizinya, tetapi juga faktor lain yang berpengaruh pada kesehatan dan kebugaran. Karena itu sejak akhir tahun 1990an slogan Empat Sehat Lima Sempurna diperbaiki sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi Gizi Seimbang dengan Empat Pilarnya. Salah satu pilarnya mengenai kebersihan dan keamanan makanan (food safety), antara lain soal bahaya penggunaan minyak goreng bekas, yang menjadi salah satu bahasan pada rapat di TP2AK, Jumat, 13 September 2019.

Dalam rapat itu, Prof. Soekirman pakar gizi senior, yang ikut membidani lahirnya Pedoman Gizi Seimbang di Indonesia meluruskan pemahaman yang benar tentang Gizi Seimbang untuk pencegahan PTM termasuk obesitas.

Diingatkan bahwa simbol “My Plate” (Piringku) itu hanya Pilar Pertama Gizi Seimbang, sementara pedoman Empat Pilar Gizi Seimbang adalah sebagai berikut:

PILAR PERTAMA:
Makan beraneka ragam dengan porsi yang seimbang zat gizinya. Makin beragam makin sehat. Terjamin kombinasi zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, baik jenis dan jumlahnya yaitu, protein (hewani dan nabati), lemak (nabati dan hewani), sesuai dengan keterjangkauan ekonomi, kebiasaan, dan budaya makan.

PILAR KEDUA: Jaga Kebersihan dan Keamanan Makanan. (Food Safety).

a) Menjaga Kebersihan untuk menghindari: makanan yang tercemar kuman karena tidak dicuci bersih, tidak dimasak dengan baik, tidak dilindungi dari debu, serangga dan binatang lain yang dapat mencemari makanan. Pilar ini akan lebih efektif apabila disertai kebiasaan hidup bersih dimulai dari kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, serta pola hidup bersih lainnya;

b) Menjaga Keamanan makanan dengan menghindari makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya, seperti: 
i). Zat warna yang dilarang digunakan, seperti zat pewarna untuk kain dan lain lain yang bukan pewarna makanan.
ii). Zat pengawet yang dilarang seperti formalin dan sebagainya, dan 
iii). Menggoreng dengan minyak goreng bekas, dan minyak yang dipakai menggoreng lebih dari 2x sehingga warnanya hitam.

Keempat unsur keamanan pangan tersebut akan sangat membayakan kesehatan apabila tidak diperhatikan. Sebagian dari larangan penggunaan zat atau bahan yang membahayakan kesehatan  sudah diatur dengan dengan undang-undang atau Peraturan Menteri.

PILAR KETIGA: Aktif bergerak dan olahraga teratur

PILAR KEEMPAT: Menjaga keseimbangan atau keserasian antara Tinggi dan Berat badan yang disebut Indeks Massa Tubuh(IMT), yaitu Berat Badan (kg) dibagi Tinggi Badan (m)2. Berat Badan normal atau Ideal  IMT antara 18,5 – 24,9, Gemuk (Overweight) IMT 25.0-29,9. Gemuk sekali atau Obes (Obesitas) IMT 30 atau lebih.

Diharapkan kita membiasakan mengamati naik turunnya berat badan dan dapat mengamati apakah IMT stabil normal, cenderung naik kearah obesitas atau turun kearah mengurus, yang merupakan salah satu signal penting dari status gizi dan kesehatan.

IMT adalah hasil dari Empat Pilar Gizi Seimbang. Apabila IMT cenderung mendekati pada angka 25 lampu kuning telah menyala. Itulah waktu untuk evaluasi diri apakah 4 pilar GS sudah kita praktikkan dengan baik.

Prof Soekirman menyarakan agar gerakan Posbindu PTM tidak terpisah dari gerakan pencegahan stunting, karena masalah PTM erat kaitannya dengan stunting. Salah satu dampak stunting pada usia dewasa adalah meningkatnya prevalensi PTM bahkan pada usia muda. Kedua-duanya terkait dengan pola hidup sehat dan gizi baik sejak 1000 HPK. Keduanya memerlukan landasan pendidikan tentang  Empat Pilar Gizi Seimbang. Keempat pilar gizi seimbang saling terkait satu dengan lainnya. ◇

* Penulis adalah Pakar Gizi dan ikut membidani lahirnya Pedoman Gizi Seimbang di Indonesia