Jakarta, innews.co.id – Langgam langkahnya pasti menuju Kongres ke-7 Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang akan berlangsung di Makassar, 27-28 Juli 2018 ini.

Dari hari ke hari kerinduan hatinya untuk melakukan perubahan di organisasi tercinta ini kian menggurita.

Ia sadar betul, bila selama ini lewat profesinya sebagai PPAT telah berbuah banyak, kini waktunya ia mengabdi, mengembalikan marwah IPPAT sebagai organisasi yang modern, bermartabat, dan disegani.

Sosok Otty Hari Chandra Ubayani, SH., M.Kn., bukan saja dikenal sebagai seorang PPAT senior, tapi juga layaknya seorang ibu yang selalu punya hati untuk mengayomi semua anak-anaknya. Ia dikenal sebagai seorang yang low profile, merakyat, dan selalu menyendengkan telinganya untuk mendengar keluhan dari rekan-rekan seprofesinya. Tak segan-segan ia turun tangan membantu rekan-rekan yang mengalami kesulitan. Keibaan hatinya sudah dirasakan banyak pihak.

Itu pula yang membuat rekan-rekannya mendorong Otty untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat IPPAT. Kembali, karena hatinya iba melihat rekan-rekan seprofesi di berbagai belahan nusantara yang selama ini bak anak ayam kehilangan induk, ia pun memutuskan maju dalam memperebutkan kursi Ketua Umum PP IPPAT.

“Saya melakukan semua untuk teman-teman saya,” ujarnya lirih saat ditemui di Jakarta, beberapa hari lalu.

Visi mulia yang diemban Otty adalah menjadikan IPPAT sebagai organisasi modern dan profesional yang peduli dengan anggota, khususnya pembinaan, perlindungan, dan peningkatan kesejahteraan segenap anggotanya.

Visi ini disokong oleh 7 misi yang bisa dijabarkan secara luas dan dalam, yakni:

Pertama, mendorong direalisasikan Undang-Undang PPAT. Ini menjadi bagian penting sebagai benteng kerja para PPAT sehingga bila selama ini banyak anggota PPAT terserempet dengan persoalan hukum, dengan adanya UU tersebut, maka akan lebih terlindungi.

Kedua, memperbaiki serta memperkuat administrasi manajemen organisasi IPPAT agar tertata rapih, tertib, modern, dan profesional. Otty sadar betul kunci kesuksesan sebuah organisasi salah satunya adalah tertib administrasi. Administrasi yang asal-asalan akan menghambat perjalanan sebuah organisasi. 

Ketiga, transparansi manajemen keuangan melalui akuntan publik yang dipublikasi pada media website resmi IPPAT. Disadari betul, zaman now adalah era keterbukaan. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi kalau organisasi mau maju dan berkembang.

Keempat, membentuk tim advokasi hukum di tingkat pengurus daerah dan pengurus wilayah sehingga dapat memberikan perlindungan hukum kepada seluruh anggota IPPAT. Otty paham betul ada banyak anggota IPPAT yang harus bersentuhan dengan persoalan hukum, bahkan sampai ditahan. Ini memiriskan hatinya. Tidak heran, ia mengumandangkan pentingnya perlindungan hukum bagi segenap anggota IPPAT. “Keamanan para anggota IPPAT harus dijamin melalui UU maupun advokasi,” kata Otty.

Kelima, penerapan SOP (System Operation Procedure) dan KTA online secara gratis. Ini tentu akan sangat meringankan beban anggota. Fakta selama ini, setiap ganti kepengurusan, KTA juga harus diperbaharui. “Ini buang-buang uang saja,” tegas Otty. Selain itu, Otty mendorong seluruh anggota IPPAT bisa ikut memilih, meski tidak hadir pada acara kongres. Berbeda dengan yang sekarang, di mana hanya mereka yang datang ke kongres saja yang punya hak untuk memilih. “Kongres penting, tapi hak dari tiap anggota IPPAT untuk memilih pimpinan IPPAT juga harus dijamin,” ucap Otty tanpa ragu.

Keenam, mendorong lahirnya peraturan pemerintah tentang Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) tanpa batas waktu demi kepastian hukum.

Ketujuh, jalinan sinergi atau networking dengan berbagai pihak. Soal networking, Otty bisa dikatakan memiliki nilai plus. Relasi yang luas serta kemampuan lobi yang mumpuni membuat ia disegani banyak pihak. 

Diyakini, ketujuh misi ditambah dengan berbagai program turunannya ini akan membuat IPPAT menjadi organisasi yang modern dan bermartabat.

Bukankah itu yang dikehendaki oleh para anggota IPPAT? Jadi, bukankah lebih baik memilih sosok yang punya hati untuk melayani, bukan yang sekadar berambisi? (RN)