Fahira Idris, SE., MH., Senator asal Provinsi DKI Jakarta

Jakarta, innews.co.id – Bulan Suci Ramadhan ibarat madrasah (sekolah) kehidupan. Karena mengajar dan mendidik setiap generasi Muslim untuk merasakan dan melaksanakan arti iman bagi jiwa dan memantapkan kepribadian Muslim yang sesungguhnya.

Hal ini secara gamblang dikatakan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris, SE., MH., lewat pesannya kepada innews, Jum’at (17/5/2019).

Fahira Idris ajak masyarakat benar-benar memaknai Bulan Suci Ramadhan

“Sangat banyak makna bulan Ramadhan, tidak hanya bagi manusia sebagai makhluk individu, tetapi juga manusia sebagai makhluk sosial,” ujar Senator asal Provinsi DKI Jakarta ini.

Ramadhan kali ini, menurut Fahira, agak unik karena berbarengan dengan Pesta Demokrasi, Pemilu Serentak 2019. Bahkan, pengumuman hasil pemilu pun dilakukan masih di bulan puasa.

Mengenai hal itu Fahira menegaskan bahwa salah satu spirit Ramadhan yaitu, kejujuran dan keadilan.

Fahira Idris, Senator asal Provinsi DKI Jakarta yang dikenal dekat dengan masyarakat

“Kiranya ini dapat mengilhami penyelenggaraan Pemilu 2019 ini. Karena tanpa kejujuran dan keadilan, maka apa pun hasilnya tidak akan memberi kemaslahatan bagi bangsa. Kita berdoa, keberkahan Ramadhan juga memberkahi perjalanan bangsa ini ke depan,” harapnya.

Pun, ia menyoroti soal masih kosongnya kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta. “Memang sebaiknya, Pak Anies segera ada yang mendampingi, agar berbagai pekerjaan besar memajukan dan membahagiakan warga Jakarta bisa berjalan lebih baik,” kata Fahira.

Fahira Idris ajak penyelenggara Pemilu 2019 kedepankan kejujuran dan keadilan

Kabar terakhir, DPRD DKI sudah membentuk panitia khusus (Pansus) untuk melanjutkan proses pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

“Saya rasa ini langkah yang baik. Saya berharap, pansus ini segera berjalan dan menghasilkan keputusan yang baik, tidak hanya bagi Pak Anies sebagai gubernur, tetapi juga bagi seluruh warga Jakarta,” tandasnya.

Makna Ramadhan

Secara khusus Fahira mengajak semua komponen masyarakat untuk benar-benar memaknai Ramadhan.

“Ramadhan adalah waktu untuk mengasah jiwa, ketajaman hati, empati dan pikiran serta proses menyaring segala perangai kita dan ‘membakar’ semua sifat tercela dan perbuatan dosa sehingga hati kita terus terjaga kebersihannya,” urai Fahira.

Fahira Idris, Ramadhan saat yang tepat berbagi untuk sesama

Dia menambahkan, namun, walau kesalehan individu menjadi target ibadah puasa, tetapi sesungguhnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat, ibadah puasa juga idealnya meningkatkan kesalehan sosial kita.

Ini karena ibadah puasa lekat dengan nilai-nilai solidaritas, kepedulian sesama, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan memupuk empati yang tinggi atas penderitaan sesama manusia.

Tradisi keluarga

Ditanya lebih jauh soal tradisi Ramadhan dalam keluarga, Fahira menilai sama seperti keluarga lainnya di Indonesia, tradisi kita keluarga besar berkumpul.

Fahira Idris, Ramadhan berbagi kenikmatan bersama keluargan dan masyarakat

“Di hari pertama, kami kumpul di rumah ayah saya di Mampang. Hari kedua, kami ke Cianjur, ke rumah mertua, lanjut ke bandung, karena saya ada rumah disana. Kita juga berziarah dan mendoakan sanak keluarga yang sudah lebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa,” urai Fahira.

Soal makanan, Fahira mengaku saat berbuka biasanya disiapkan makanan manis seperti kolak atau sup buah. Saat sahur biasanya harus ada sayur bening ataupun berbagai jenis sup, mulai dari sup ayam, dan lainnya.

Fahira Idris, dekat dengan para pemburu berita

“Apa saja yang tersaji selalu kita nikmati sebagai berkah dan rezeki. Dan yang paling penting kita upayakan buka bersama di rumah bila saya dan suami sedang tidak ada undangan berbuka di luar,” tukasnya.

Menutup perbincangan, Fahira berharap, semoga Ramadhan kali ini semakin menyempurnakan kesalehan kita tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat. (RN)