Manado, innews.co.id – Provinsi Sulawesi Utara kini sudah berbeda dibandingkan sebelumnya. Perubahan besar telah terjadi di daerah yang berada di bibir Laut Pasifik itu. Ekonomi tumbuh pesat dan infrastruktur pun kian lengkap.

Hal ini diakui Arthur Kotambunan, SE., Komisaris Utama PT Membangun Sulut Hebat dalam perbincangan dengan innews, Selasa, (27/3). Perusahaan ini adalah BUPP (Badan Usaha Pembangun dan Pengelola Spesial Economic Zone di Bitung, Sulut)

Menurut Arthur, sekarang ini Sulut lagi giat-giatnya mempromosikan kawasan wisata ke berbagai negara. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, wisatawan asal Tiongkok mencapai ratusan ribu yang berplesir ke Sulut.

Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara, per Desember 2017, wisman yang datang asal Tiongkok sebanyak 7.208 orang atau sebesar 83,94 persen dari keseluruhan wisman yang masuk dari pintu Bandara Sam Ratulangi.

Setelah Tiongkok, turis asing yang berkunjung ke provinsi ini antara lain Singapura 473 orang (5,51 persen), Malaysia 126 orang (1,47 persen), Amerika 120 orang (1,40 persen), Jerman 61 orang (0,71 persen), dan Jepang 51 orang (0,59 persen). Wisatawan juga berasal dari Belanda 51 orang (0,59 persen), Perancis 36 orang (0,42 persen), Taiwan 24 orang (0,28 persen), serta Australia 18 orang (0,21 persen).

Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Sulawesi Utara melalui pintu masuk Bandara Sam Ratulangi bulan Desember 2017 sebanyak 8.587 orang atau meningkat 33,48 persen dibanding bulan November 2017 yang berjumlah 6.433 orang.

Dibandingkan dengan kunjungan wisman ke Sulut bulan yang sama tahun sebelumnya (Desember 2016 sebanyak 3.820 orang terhadap bulan Desember 2017) meningkat sebesar 124,79 persen.

Arthur dan keluarga

“Sekarang, Pemerintah Provinsi Sulut tengah mempersiapkan kawasan khusus ekonomi pariwisata (di daerah Likupang dan sekitarnya),” kata Arthur yang juga dikenal sebagai politisi kondang yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulut ini.

Tidak hanya pariwisata, bidang-bidang ekonomi lain yang juga mendapat perhatian besar dan terus diupayakan perkembangannya, baik oleh Pemerintah Provinsi maupun kabupaten/kota. Menurut Arthur, ini dilakukan untuk mempertahankan ikon Sulut yakni negeri nyiur melambai. Salah satu bidang yang mendapat perhatian besar adalah industri perikanan dan pengolahan kelapa. Itu dilakukan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung.

Tantangan

Bicara tentang tantangan besar yang dihadapi, menurut Arthur adalah perubahan budaya luar yang masuk. “Ini harus diantisipasi oleh pemerintah dan tokoh-tokoh agama di Sulut. “Diharapkan para tokoh agama mengambil peran dengan memberikan pemahaman kepada umatnya untuk bisa menjadi insan yang berkarakter dan beridentitas, tidak mudah dipengaruhi hal-hal lain yang bisa saja tidak sesuai dengan kepribadiannya,” imbuh Arthur.

Selain potensi daerah, Pemerintah Provinsi dan seluruh kabupaten/kota juga terus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) di Sulut agar dapat bersaing dengan para pekerja dari luar. Sulut banyak dilirik oleh banyak pekerja asing karena selain UMR yang menarik juga banyak ruang pekerjaan di sana.

Diakui Arthur, saat ini potensi Sulut telah menjadi perhatian dunia luar. “Lokasi yang strategis di bibir Laut Pasifik membuat Sulut bak gadis cantik yang diperebutkan oleh banyak lelaki. Sekarang ini, banyak investor asal Tiongkok yang berlomba masuk dan berinvestasi di Sulut,” jelas Arthur yang digadang-gadang untuk maju sebagai salah satu calon senator dari partai pemenang di Sulut. (RN)