Pembicara dan Peserta Simposium Suplementasi Multiple-Micronutrient (MMS) di Hotel Luwansha, Jakarta, (13/1/2020)

Jakarta, innews.co.id – Suplementasi Multiple-Micronutrient (MMS) telah terbukti dapat meningkatkan kualitas ibu hamil dan bayi yang dilahirkan. Dengan demikian mencegah terjadinya stunting. Namun demikian, untuk menerapkannya menjadi program masih diperlukan kajian efektivitas dan biaya program, termasuk penyiapan pasokan MMS tersebut.

Hal ini menjadi kesimpulan dari simposium satu hari mengenai dampak konsumsi MMS oleh ibu hamil pada kesehatan dan kondisi bayi yang dilahirkan, yang diadakan oleh Institut Gizi Indonesia (IGI) bekerja sama dengan Johns Hopkins University (JHU) didukung oleh KIRK Humanitarian dan Vitamins Angels di Hotel Luwansha, Jakarta, (13/1/2020).

Simposium yang dibuka oleh Prof. Dr. Satryo Brojonegoro, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menilai bahwa hasil kehamilan yang baik menurunkan kemungkinan terjadinya stunting.

Para pembicara dalam Simposium MMS yang diadakan oleh Institut Gizi Indonesia (IGI) bekerja sama dengan Johns Hopkins University (JHU) didukung oleh KIRK Humanitarian dan Vitamins Angels di Hotel Luwansha, Jakarta, (13/1/2020)

Satryo menyambut baik upaya membahas hasil-hasil penelitian sebagai bukti ilmiah yang dijadikan basis perumusan kebijakan pemanfaatan MMS tersebut.

Hasil simposium ini nantinya akan dikaji lebih lanjut oleh AIPI sebagai bahan advokasi kebijakan kepada pemerintah.

Sebanyak 11 makalah hasil penelitian MMS oleh lembaga-lembanga nasional dan global dipaparkan pada simposium ini. Dari lembaga nasional antara lain oleh Prof. Dr. Endang Achadi dari UI, Prof. Hamam Hadi (Universitas Alma Alta Yogyakarta), Dr. Toto Sudargo (UGM), Prof. Dr. Razak Thaha (Universitas Hasanudin), Prof. Sri Sumarmi (Universitas Airlangga), dan Dr. Aditiawarman (IDI).

Sementara itu, dari lembaga internasional antara lain oleh Prof. Keith West dari John Hopkins University, Kristen Hurley, MPH., PhD., (Associate Professor Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Vitamin Angels), Clayton Ajello Dr.PH., (Vitamin Angels), dan Ann Witteveen (Nutrition International/NI).

Prof. Dr. Razak Thaha, Prof Keith West dari John Hopkins University, Prof. Dr. Satryo Brojonegoro, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Prof. Soekirman

Dari lembaga pemerintah, pemaparan diberikan oleh Dr. Dhian Dipo, SKM., MA., Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan dan Dr. dr. Anang Otulowa Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah.

MMS yang dibahas mengikuti formula United Nations International Mutiple Micronutrient Antenatal Preparation (UNIMMAP).

Hadir pada acara tersebut diantaranya pejabat dari Kementerian/lembaga dan pakar gizi diantaranya Ir. Doddy Izwardy MSc (Balitbangkes), Dr. dr. Brian Sriprahastuti MPH (KSP), Dr. dr. Lucy Widasari dan Arip Muttaqin Ph.D., (TP2AK Setwapres), Prof. Dr. Veni Hadju dan Dr. Djunaidi Dachlan (Unhas), Prof Dodik Briawan (IPB), Prof. Purnawan Junaidi (FKM UI), Dr. Minarto, MPH., Dr. dr. Elvina Karyadi, PhD., Dr. Arum Atmawikarta, MPH., dan Dr. Abas Basuni. Turut hadir dari Lembaga PBB seperti WHO Indonesia dan Unicef Indonesia.

Diskusi yang berlangsung sehari itu menyimpulkan:

1. Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD, mengandung zat besi dan asam folat) yang dimulai sejak tahun 1990an belum berhasil menurunkan angka anemia zat besi pada ibu hamil karena rendahnya kepatuhan dalam mengonsumsinya (35%) berdasarkan Riskesdas 2018.

2. Angka anemia akibat kekurangan zat besi pada ibu hamil meningkat dari sebesar 37.2% tahun 2013 menjadi 48.9% tahun 2018 (Riskesdas 2013, and 2018).

3. Rendahnya kepatuhan tersebut diidentifikasi karena lemahnya konseling/pendidikan gizi oleh tenaga kesehatan dan efek samping yang dirasakan ibu hamil.

4. Dibandingkan dengan TTD, MMS yang berisi 15 multi-vitamin dan mineral (formula UNIMMAP) secara klinis terbukti dapat menurunkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), menurunkan risiko panjang badan lahir yang lebih baik, janin berukuran kecil pada umur kehamilannya, bayi lahir meninggal dan efek sampingan yang minor.

5. MMS mengurangi angka kesakitan pada ibu hamil termasuk risiko eklampsia dan pendarahan.

6. Rasio manfaat/biaya, atau B/C ratio MMS sangat tinggi.

7. Sistem distribusi TTD dapat digunakan untuk MMS dengan perbaikan, khususnya aspek konseling oleh nakes kepada ibu hamil serta pemantauan dan evaluasinya. Para pakar juga menyepakati membuat taskforce untuk mengkaji tentang penelitian MMS serta memberikan masukan bagi pemerintah. (RN)