Ashoya Ratam, SH., M.Kn., Ketua Umum ILUNI FHUI

Jakarta, innews.co.id – Setiap Alumni Universitas Indonesia dituntut untuk turut menjaga dan mempertahankan nama baik Universitas Indonesia.

Itu menjadi salah satu tugas berat dari para Alumni UI yang tengah dalam proses pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni UI (ILUNI UI).

Saat dihubungi innews, Minggu (4/8/2019), Ashoya Ratam, SH., M.Kn., Ketua Umun ILUNI Fakultas Hukum UI mengatakan, “Setiap alumni rasanya perlu dituntut untuk turut menjaga dan mempertahankan nama baik Universitas Indonesia. Ini bukan hal ringan. Menjaga ‘nama baik’ ini bermakna luas, dimana harus dipahami bahwa kredibilitas para alumni di masyarakat otomatis memiliki impact bagi nama UI sendiri”.

“Kita dicetak dari universitas terbaik di Indonesia. Jangan lupa dengan ‘rumah’ yang telah melahirkan kita,” ujar Ashoya mengingatkan.

Bidang 2 ILUNI FHUI mengadakan Alumni Mentoring bersama Ahmad Fikri Assegaf Founder of Assegaf Hamzah and Partners, 30 Juli 2019

Ditambahkannya, sebagai Ketum ILUNI UI harus memberlakukan semua fakultas sama. Tidak ada yang lebih utama dibanding yang lain.

Setiap fakultas, kata Ashoya, harus didorong untuk dapat memberi kontribusi nyata dalam berbagai hal bagi almamaternya.

“Disinilah ILUNI UI bisa mengambil peran dalam menguatkan jalinan kekeluargaan sehingga bisa menarik para Alumni untuk bisa memberi perhatiannya ke almamater,” imbuh Ashoya.

Lebih jauh bicara soal radikalisme di kampus yang kini tengah marak diperbincangkan, menurut Ashoya, ILUNI UI harus kuat secara struktur serta harus memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kokoh.

Kegiatan FGD RUU Penghapusan Kekerasan Seksual antara Dekan FHUI, ILUNI FHUI, BEM FHUI, JKP3, YLBHI, BEM FISIP UI, 17 Juli 2019

“Ini karena kita perlu sama-sama menjaga kampus tercinta secara keseluruhan, bersama dengan unsur-unsur yang ada di kampus seperti rektorat, fakultas serta terutama mahasiswa,” tandasnya.

Dalam hal ini, lanjutnya, kampus dibawah Rektor pun menjalankan program untuk pencegahan atas tumbuhnya paham-paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

“Kita garis bawahi kata ‘pencegahan’ disini. Perbedaan pemikiran pasti ada, dimana pun itu. Saya rasa, tidaklah kita dapat dipaksa oleh orang lain untuk mengubah keyakinan yang paling dasar yang ada dalam diri dan pikiran kita. Seyogyanya Ideologi Pancasila sudah tertanam di jiwa dan pikiran kita. Justru kita bisa sama-sama saling menjaga kampus tercinta. Pola pikir kita adalah untuk melihat ke depan, bersaing dengan bangsa lain. Majukan Indonesia kedepan, sehingga fokus kita akan satu titik – untuk kemajuan bangsa,” urai Ashoya.

Bicara soal pentingnya komunikasi antara senior dan junior, Ashoya menilai, dari dulu sampai sekarang, komunikasi terbangun baik. “Ketua ILUNI UI sebelum masa kepengurusan saat ini juga tokoh-tokoh yang cukup dipandang. Alumni FHUI yang pernah menjabat sebagai Ketua ILUNI UI adalah Bapak Sofyan Djalil dan Ibu Chandra Motik,” ujarnya.

Ashoya beranggapan, sejauh ini hubungan para alumni masih terjalin baik dengan mereka. “Di kepengurusan saat ini lebih banyak lagi alumni yang terlibat dalam kegiatan ILUNI UI. ILUNI Fakultas juga semakin aktif pergerakannya. Ditambah telah dibukanya beberapa ILUNI Wilayah di masa kepengurusan sekarang,” terang Ashoya.

Dia juga mengingatkan, jangan lupa era digital memudahkan komunikasi ke mana pun. Setiap kegiatan ILUNI UI dapat diikuti dari mana pun, ini sudah merupakan bentuk komunikasi tak langsung yang positif. UI Connect sudah hadir bagi alumni UI saat ini.

“Ke depan, diharapkan keterlibatan
peran masing-masing ILUNI Fakultas lebih tinggi, sehingga komunikasi makin luas,” tutur Ashoya.

Terkait proses pemilihan Ketum ILUNI UI sekarang, Ashoya berharap, proses pemilihan berjalan dengan transparan dan tidak perlu hembusan-hembusan isu miring atas tiap-tiap Calon Ketua yang akhirnya berujung keretakan hubungan antar-alumni di masing-masing fakultas.

“Pada kepengurusan nanti Ketua ILUNI UI perlu tegas menjaga tidak ada muatan politik praktis dalam seluruh kegiatan ILUNI UI,” pungkas Ashoya. (RN)