Dr. Otto Hasibuan Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) 2 periode 2005-2015 di Jakarta, Rabu (11/3/2020)

Jakarta, innews.co.id – Model organisasi single bar dipandang paling ideal diterapkan. Selain untuk memberi perlindungan kepada para pencari keadilan (justice seeker), tapi juga untuk meninggikan derajat para advokat dan memperkuat posisi sebagai salah satu pilar penegak hukum di Indonesia.

Hal ini ditegaskan Dr. Otto Hasibuan Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) 2 periode 2005-2015 di Jakarta, Rabu (11/3/2020) siang, ketika dimintai komentarnya soal upaya rekonsiliasi Peradi yang diinisiasi oleh Menkopolhukam Mahfud MD, beberapa waktu lalu.

Sekarang ini, kata Otto, ada 2 persoalan, menyatukan Peradi dan organisasi-organisasi advokat (OA) diluar Peradi yang berjumlah sekitar 38 buah. Lahirnya puluhan OA tersebut, konon bermula dari keluarnya Surat Ketua Mahkamah Agung Nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015.

Di awal-awal terbentuk Peradi, meski OA pendiri Peradi masih ada, namun esensinya bisa disatukan. Bahkan, pihak luar negeri menilai Peradi bak anak ajaib. Meski usia masih sangat muda, namun sudah mampu mempersatukan OA-OA dan berkiprah positif, dalam maupun luar negeri. Ini terbukti, beberapa lembaga advokat dari luar negeri melakukan studi banding ke Peradi. Demikian juga, Peradi acap kali diundang keluar negeri untuk berbicara soal wadah tunggal ini. Bahkan, Kaisar Jepang dan permasuri secara khusus mengundang Otto ke Jepang untuk bincang-bicang soal Peradi.

Single bar

Otto menegaskan, “Single bar is a must (suatu keharusan). Banyak orang berpikir, dibentuknya wadah tunggal semata-mata hanya untuk kepentingan para advokat. Ini salah besar! Dipahami dulu single bar itu menyangkut kewenangan mengenai advokat. Dulu, kewenangan ini milik pemerintah, tapi setelah lahir UU No.18/2003, diserahkan kepada Peradi”.

Dijelaskan, hampir seluruh dunia menganut single bar. Hanya ada beberapa negara yang tidak, ini juga karena penerapan hukumnya berbeda. Dulu, konsep single bar dan multi bar pernah disengketakan. Pada akhirnya ditentukan bahwa single bar lah yang terbaik. Bahkan ketika pembuatan UU Advokat No. 18/2003, tidak ada isu single bar atau multi bar, karena semua sepakat memakai single bar.

Melalui Peradi sebagai single bar, maka tujuan utamanya bagaimana melindungi dan menjamin para pencari keadilan yakni, masyarakat, dimana hak-hak hukumnya dapat dibela dengan baik. Demikian juga penegakkan hukum akan tercipta. Dengan single bar, maka akan ada standar profesi advokat yang baik. “Advokat harus orang yang berkualitas supaya bisa membela para pencari keadilan. Kalau tidak, yang rugi adalah masyarakat,” tandas Otto.

Lanjutnya, untuk mendapatkan standar profesi yang baik, maka harus ada wadah tunggal. Sebab kalau banyak, masing-masing akan menerapkan standar sendiri-sendiri. Inilah yang terjadi sekarang ini. Jadi, orientasinya hanya memperbanyak jumlah anggota, soal kualitas dikesampingkan.

Otto berkeyakinan single bar paling pas di Indonesia. Sayangnya, karena sekarang sudah banyak OA, maka sejumlah advokat senior pun ikut-ikutan mendukung multi bar. Otto menganalogikan, “Kalau ada banyak orang jahat diluar, apakah kita yang baik, harus jadi jahat? Bukankah kebaikan yang kita miliki harus tetap dipertahankan? Singel bar ini soal kebenaran dan kepentingan para pencari keadilan”.

Diyakini dengan singel bar, maka standar profesi akan tinggi dan pengawasannya benar. “Kalau ada yang mengatakan konsep single bar tidak benar, silahkan terapkan multi bar. Tapi itu harus dibuktikan. Sebaliknya, kalau single bar benar, ayo kita sama-sama perjuangkan itu. Jangan hanya karena syahwat jadi ketum di OA, single bar dihancurkan,” tantang Otto.

Dikatakan pula, ada pihak yang menyatakan hanya dewan kehormatan saja yang single bar. “Bagi saya, itu single dewan kehormatan saja dan tidak menjamin peningkatan kualitas advokat. Karena tugas dewan kehormatan hanya menampung laporan dan pengaduan saja,” ujar Otto.

Otto tetap berkeyakinan mampu menyatukan kembali OA-OA yang ada. “Kita ikuti saja keputusan MK No. 35/2019, yang mengatakan, OA yang dimaksud dalam UU Advokat No.18/2003 itu adalah Peradi. Adapun bagi advokat yang telah disumpah oleh Pengadikan Tinggi itu dapat dibenarkan. Namun kedepan, semua OA harus mengikuti Peradi,” tandasnya.

Dengan kata lain, keberadaan OA-OA boleh saja karena menyangkut kebebasan berserikat dan berkumpul. Hanya saja, yang dimaksud dalam UU Advokat, wadah tunggal itu adalah Peradi yang memiliki kewenangan menetapkan standar profesi advokat dan dewan pengawas.

Menurut Otto, kalau Peradi bisa bersatu, maka OA-OA lain diluar Peradi pun akan diajak bersama. “Saya berkeinginan menyatukan seluruh advokat di Indonesia, bukan Peradi semata,” tukasnya.

Disinggung soal siapa yang layak memimpin Peradi yang telah direkonsiliasi, Otto mengatakan, “Silahkan siapa saja yang dianggap layak untuk memimpin. Kalau saya, intinya Peradi berhasil bersatu dulu. Kita harus kompak dan menunjukkan eksistensi advokat secara benar dengan kualitas yang mumpuni”.

Baginya, Peradi membutuhkan orang yang punya hati untuk melayani. Karena itu, Otto berharap kepada Tim 9 untuk rekonsiliasi Peradi yang telah dibentuk, untuk bersungguh-sungguh, jangan pesimis. “Bekerjalah dengan hati. Tidak perlu gengsi dan harus ada kesetaraan. Harus bisa menghilangkan ego masing-masing. Saling mengerti dan memberi. Sebab, kalau ini gagal, ya, saya tidak tahu harus bagaimana lagi,” imbuhnya.

Sederhananya, kata Otto, harus single bar, standar profesi advokat harus tinggi, dan zero KKN. Dengan begitu, maka pencari keadilan akan merasa terbela dengan baik.

Kepada seluruh advokat, Otto berpesan, ini organisasi besar. “Para advokat yang pintar-pintar, tolong berikan sedikit hatinya untuk Peradi. Mari kita bersatu membantu Peradi. Hilangkan nuansa perpecahan. Hapuskan budaya menerabas alias potong kompas yang menurut Prof Koentjaraningrat sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia,” serunya.

Demikian juga, siapapun nanti yang akan memimpin Peradi, jangan berharap pujian dan harus siap tidak populer. Harus punya filosofi, ‘Saya tidak tinggi karena dipuji dan tidak rendah karena dihina’. (RN)