Otty Panoedjoe, membangun organisasi ibarat membangun rumah. Bila dibangun dengan kedamaian, maka rumah itu akan terasa nyaman

Jakarta, innews.co.id – Organisasi bukan hanya sekadar tempat berkumpul dari orang-orang, baik satu profesi, satu almamater, atau satu visi. Namun, sejatinya, organisasi adalah wadah bersama untuk menyuarakan kepentingan bersama, memberi proteksi bagi anggotanya serta melanggengkan kebersamaan dalam balutan keguyuban.

Namun, apa jadinya kalau organisasi justru berkonflik. Jawabannya mungkin hanya satu, organisasi menjadi tidak berguna. Tidak ada kemanfaatan yang bakal dirasakan anggota bila wadah tempatnya bernaung bermasalah.

Otty H.C.U. Panoedjoe (duduk nomor 2 dari kiri) saat pengukuhan Pengurus Yayasan Komunitas Cendikiawan Hukum Indonesia (YKCHI) di Jakarta, beberapa waktu lalu

Hal ini dikatakan Notaris/PPAT senior Otty Hari Chandra Ubayani Panoedjoe, SH., Sp.N., MH., saat bicara mengenai karut-marut organisasi dan implikasinya serta apa sebenarnya hakikat berorganisasi, di Jakarta, Jum’at (23/8/2019) malam.

Menurut Otty, bagaimana mungkin organisasi bisa berkreasi kalau waktu-waktu pengurusnya habis hanya untuk mengurus gugatan. “Apakah mungkin seorang pimpinan bisa punya waktu melayani anggota kalau dirinya sendiri harus bolak-balik ke kursi panas pengadilan,” cetusnya.

Otty Ubayani menghadiri undangan khusus Presiden RI pada Peringatan HUT RI Ke-74 di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (17/8/2019)

Dia mencontohkan seperti yang terjadi di Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT), dimana sudah setahun lebih sejumlah pihak digugat lantaran proses kongres yang dinilai cacat hukum. Saat ini, kasusnya masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

“Sementara di luar sana ada banyak PPAT yang tersandung masalah hukum dan butuh pendampingan. Namun, apa daya, pimpinannya sendiri juga tengah memghadapi proses hukum,” lanjut Otty yang juga dikenal sebagai Pendiri Yayasan Komunitas Cendikiawan Hukum Indonesia (YKCHI) ini.

Otty Ubayani, menjadi pembicara dalam FGD tentang RUU Fidusia, suarakan kepentingan notaris

Dia menerangkan, yang digugat itu bukan orangnya, tapi proses pemilihan yang dinilai cacat hukum. “Mungkin orangnya capable memimpin, tapi kalau proses pemilihannya justru menabrak aturan yang ada, apakah itu bisa dibilang legitimate?”

Otty menilai kejadian seperti ini selalu berulang, dari kongres ke kongres. “Kenapa ya, orang kok lebih suka memimpin tanpa rasa tenang, hanya gara-gara menempuh cara-cara yang tidak elegan dalam pemilihan? Atau jangan-jangan ini disengaja, supaya bisa ada alasan kalau ditanya, kenapa tidak banyak berbuat di era kepemimpinannya, tinggal bilang, ya karena digoyang persoalan hukum,” urai pemilik OH Boutique ini.

Bagi Otty, perjuangan belum paripurna

Intinya, menurut Otty, lakukan proses dengan jujur, transparan, dan mengedepankan keguyuban organisasi, bukan ambisi pribadi, apalagi kepentingan kelompoknya sehingga mampu ‘menari-nari’ di atas penderitaan anggota lain yang merasa diabaikan.

Otty berpesan, kedepan, baik IPPAT maupun INI harus mengedepankan keguyuban. “Untuk apa ngotot mendapat jabatan kalau harus mengorbankan teman yang lain. Apalagi, sampai teman harus meregang nyawa lagi. Itu sudah kebangetan. Saya tidak berkeras menuntut kebenaran di hari kongres karena menghindari kekerasan konflik dalam kongres, tapi pasti ada cara lain untuk menghentikan modus seperti itu,” imbuhnya.

“Berpikirlah jernih dalam berorganisasi dan utamakan kebersamaan. Esensinya, berorganisasi itu adalah wahana pengabdian, bukan ajang rebutan kekuasaan,” tukasnya. (RN)