Edison Manurung (kanan) tampak berbincang serius dengan Gubernur Sumatera Utara

Jakarta, innews.co.id – Kalau bukan karena memelihara babi, mungkin saya tidak bisa menjadi seperti sekarang ini. Penuturan itu disampaikan secara gamblang oleh Edison Manurung, SH., MM., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT), dalam pesannya kepada innews, Jumat (10/1/2020).

Hewan babi yang belakangan menjadi polemik di Sumatera Utara, diyakini memiliki nilai ekonomi tinggi, khususnya bagi banyak masyarakat Batak. Karena itu, isu pemusnahan babi hanya akan melahirkan polemik berkepanjangan.

“Menurut saya, niatan pemusnahan babi di Sumut harus diralat karena dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak dalam masyarakat,” ujar Edison.

Bila dikaitkan dengan isu virus babi, menurut Edison, tidak lantas bisa digeneralisir atau dianggap ternak babi tidak baik. “Saya kira perlu dicari solusi untuk mencegah penyebaran virus babi,” lanjutnya.

Namun, Edison yakin itu bisa ditangani dengan melibatkan dokter hewan. “Para dokter hewan dapat melakukan pengkajian mendalam mengenai hal tersebut,” tandasnya.

Dia menambahkan, ternak babi ini sangat dibutuhkan di Tanah Batak. Bahkan menjadi simbol-simbol dalam acara adat istiadat. “Itu sudah jadi kebiasaan dari orang Batak, baik di Sumut, bahkan di seluruh dunia. Tanpa daging babi, rasanya kurang pas,” tegasnya.

Karena itu, kata Edison, KMDT meminta wacana pemusnahan babi bisa dipikirkan dengan matang agar tidak muncul polemik di tengah masyarakat.

Edison tidak menafikan bila banyak orang Batak yang meraih sukses karena orangtuanya ternak dan jualan babi. Ia salah satu contohnya. (RN)