Jakarta, innews.co.id – Menilik kasus penggelapan warisan yang dilakukan S, sangatlah memalukan. Apalagi yang bersangkutan dikenal sebagai pemilik perusahan kargo besar di Indonesia.

Kini, kasus tersebut bermuara di Polda Metro Jaya. Upaya damai pun nyaris pupus, lantaran sikap S yang arogan terhadap kakak-kakaknya. Guna mengkaji hal tersebut, Andreas FK & Katjasungkana Counsellors at Law selaku kuasa hukum Ny. AL (penggugat dan kakak kandung S) mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dan Press Conference yang diadakan Kamis, (5/9/2019), di Permata Kuningan, Jakarta.

Pada kesempatan itu, Ny. AL sebagai anak tertua mengisahkan, Ibu RA (alm) memiliki 6 anak, termasuk Ny. AL dan S. Oleh sang Ibu, Ny AL dititipin sertifikat tanah warisan yang terletak Desa Diwek Kecamatan Jombang, Jawa Timur.

Suatu hari, S menemui Ny. AL dan meminjam sertifikat tersebut dengan alasan tanah itu akan digunakan sebagai pool kendaraan truk-truk/mobil boks PT. DBS milik Sdr. S. Kata S, lahan tersebut nanti akan dibangun rumah pesanggrahan untuk keluarga yang tinggal di luar kota, untuk menginap dan beristirahat, sebagai tempat berkumpul bersama pada saat ada acara nyadran atau tabur bunga di makam leluhur di Desa Diwek, Jombang.

Saking percayanya, Ny. AL pun memberikan sertifikat tersebut. Rupanya tanah tersebut dijual oleh Sdr. S dan Sdri. TLN, kekasih gelap atau teman hidup Sdr. S.

Menyadari telah ditipu, Ny. AL telah mencoba berbagai cara untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Namun, justru Ny. AL diancam akan dilaporkan ke polisi.

Habis kesabaran, akhirnya Ny. AL melaporkan Sdr. S ke Polda Metro Jaya, bagian Dit.Reskrimum, Selasa, 11 Juni 2019. Sejumlah pasal dikenakan yakni, Pasal Pidana Penipuan, Pasal Penggelapan warisan, dan Pasal Pemalsuan Data.

Sementara itu, kuasa hukum Ny. AL meminta penyidik yang menangani kasus ini untuk tidak lagi mempercayai Sdr. S dan adik-adiknya. “Bukti-bukti kebohongan Sdr. S akan kami berikan bila diperlukan,” kata kuasa hukum Ny. AL.

Mengenai keterlibatan pihak luar, seperti notaris dalam kasus ini, Henny Handayani SH., MH., memastikan tidak ada. (RN)