Di Indonesia, kurang lebih 50% atau 1 diantara 2 ibu hamil menderita anemia yang sebagian besar karena kekurangan zat besi.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional 2010, angka anemia pada ibu hamil sebesar 40,1%. Sedangkan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%).

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan prevalensi anemia selama masa kehamilan yaitu dengan mengontrol anemia defisiensi zat gizi pada remaja putri. Remaja putri atau dewasa muda berada pada usia pranikah, yang merupakan masa persiapan bagi kesehatan reproduksi yang baik. Setelah menikah mereka diharapkan akan hamil dan melahirkan bayi.

Remaja putri yang anemia, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), keguguran, lahir prematur dan lahir mati. Bayi BBLR yang sejak lahir mempunyai cadangan zat gizi sedikit, akan tumbuh menjadi remaja putri dengan cadangan zat gizi sedikit pula dan apabila mereka menjadi ibu dan mengalami kehamilan, kemungkinan besar akan menderita anemia gizi. Dengan demikian, berlanjutlah anemia gizi besi kepada generasi berikutnya.

Penyebab anemia defisiensi besi dalam kehamilan, antara lain peningkatan volume darah (hipervolemia), yang disebabkan oleh peningkatan sel darah merah dan sel plasma, pertambahan darah yang tidak sebanding dengan pertambahan plasma, kurangnya zat besi dalam makanan, kebutuhan zat besi yang meningkat serta gangguan pencernaan dan penyerapan.

Kekurangan hemoglobin akan menyebabkan kekurangan oksigenasi sel sehingga proses metabolisme menurun dan fungsi sel tidak optimal sehingga penyerapan makanan kurang. Di samping itu, metabolisme besi meningkat jika zat besi berinteraksi dengan vitamin B12, vitamin C dan cuprum (Cu) atau tembaga. 

Terdapat 6 vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam sintesis heme (sintesis senyawa besi porfirin dalam hemoglobin), yaitu Cu, vitamin B2, asam folat, vitamin B12, zat besi dan vitamin B6. Defisiensi zat besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dengan kandungan Hb yang rendah. Selain itu, kekurangan zat besi juga dapat menyebabkan terjadinya disfungsi serta kerusakan mitokondria DNA.

Upaya pencegahan permasalahan stunting saat ini menjadi perhatian besar bagi Pemerintah.

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Stunting merupakan refleksi dari keadaan “gagal tumbuh kembang” anak yang terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK), yaitu sejak dalam kandungan sampai anak usia 24 bulan.

Gizi buruk dalam periode 1000 HPK anak dapat menyebabkan stunting yang tidak dapat dipulihkan (irreversible). Studi terdahulu menyatakan bahwa terdapat interaksi antara asupan gizi ibu, gangguan hormonal, dan perkembangan plasenta yang merupakan faktor penentu stunting. 

Kejadian stunting dimulai sejak dalam kandungan dan berlanjut sampai minimalusia 24 bulan; sehingga periode prakonsepsi atau sebelum pembuahan sampai dengan usia 2 tahun merupakan periode kritis untuk terjadinya stunting dan menjadi prioritas untuk dilakukan intervensi. Wanita dengan indeks massa tubuh rendah tingkat sirkulasi hormon berkurang, dan pada gilirannya akan mengurangi kadar marker peradangan plasma.

Peningkatan kadar biomarker peradangan pada ibu berhubungan dengan penurunan kadar albumin, hemoglobin dan transferrin. Keanekaragaman makanan menjadi potensi untuk peningkatan gizi ibu hamil, namun harus dapat dikembangkan paket pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang tinggi kalori, protein dan mikronutrien.

Perlu upaya intervensi untuk memperbaiki status gizi ibu dan menurunkan hambatan pertumbuhan janin (bayi kecil untuk usia kehamilan, small for gestational age, SGA) merupakan cara yang tepat bagi negara berkembang jika percepatannya dilakukan sebelum dan selama kehamilan, termasuk keseimbangan energi protein, kalsium dan pemberian suplementasi multimikronutrien (MMN). 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan janin erat kaitannya dengan kekurangan gizi mikro.

Mikronutrien terdapat dalam jumlah sangat sedikit dalam tubuh, namun berperan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat selular, jaringan, organ, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Selain faktor gizi ibu, faktor janin dan faktor plasenta, pertumbuhan janin juga dipengaruhi oleh adanya interaksi molekuler antara hormon yang diproduksi oleh uterus, di antaranya human placental lactogen (hPL) dan hormon pertumbuhan plasenta (placental growth hormone, PGH,PL-GH) yang berperan dalam mendukung proses pertumbuhan janin.

Ketika plasenta terbentuk, penggunaan oksigen akan meningkat, menyebabkan peningkatan stres oksidatif, akibatnya terjadi peningkatan produksi radikal bebas.

Untuk mengatasi keadaan ini tubuh akan berusaha menetralisir terbentuknya radikal bebas tersebut, tetapi bila tubuh tidak mampu menetralisir, maka peningkatan radikal bebas pada umur kehamilan awal trimester 1 dan ke-2 kehamilan akan mempengaruhi proses kehamilan selanjutnya, karena kelainan yang terjadi pada proses plasentasi ini dapat menyebabkan timbulnya komplikasi, di antaranya terjadinya hipertensi dalam kehamilan atau preeklampsia.

Berat badan saat menjelang masa kehamilan, dapat membuat wanita lebih subur dan menguatkan indung telur agar lebih baik dan berkualitas. Lemak tubuh dan kegemukan dapat mengganggu kesehatan hormon reproduksi dan juga mengganggu kehamilan dan janin.

Suplementasi multimikronutrien yang diberikan sejak masa sebelum terjadi pembuahan (prakonsepsi) dapat meningkatkan berat badan ibu selama kehamilan yang secara tidak langsung berdampak pada peningkatan berat plasenta dan berat badan serta panjang badan bayi baru lahir.

Hal ini kemungkinan disebabkan adanya peran beberapa mikronutrien yang berperan dalam pembentukan plasenta (plasentasi) dan pelekatan serta penanaman embrio pada dinding rahim (implantasi) yaitu vitamin C, vitamin E, selenium, vitamin B1, vitamin B3 dan vitamin D yang mengoptimalkan jaringan kerjasama antar antioksidan (antioxidant network), melalui mekanisme masing-masing dalam menangkal radikal bebas. 

Pada awal kehamilan hingga janin berusia 20 minggu, ibu hamil membutuhkan protein dan zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral. Semua itu diperlukan untuk meningkatkan jumlah sel dan membangun tinggi badan potensial anak. 

Pada 20 minggu terakhir kehamilan, ibu membutuhkan kalori untuk bertambah besarnya sel, jaringan dan organ serta membangun berat badan potensial.

Kekurangan gizi di masa awal kehidupan ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Betapapun kayanya sumber daya alam yang tersedia bagi suatu bangsa tanpa adanya sumber daya manusia yang tangguh maka sulit diharapkan untuk berhasil membangun bangsa itu sendiri.

Anak kurang gizi berpotensi tidak dapat berprestasi di sekolah sehingga kurang mampu mendapatkan cukup penghasilan saat dewasa. Dan karena pendidikannya relatif rendah dan sering sakit, maka produktivitas mereka juga rendah yang akan berkontribusi bagi ekonomi bangsa.

Dengan demikian, akibat dari kekurangan gizi apabila tidak diupayakan perbaikan, khususnya pada masa 1000 HPK dapat membuat keluarga menjadi miskin atau tambah miskin.

Oleh: dr. Lucy Widasari.,MSi, — Pita Putih Indonesia, Dosen dan dokter di Jakarta