Dr. dr. Karina, SpBP-RE., Owner Klinik Hayandra dan Hayandra Laboratorium

Jakarta, innews.co.id – Banyak pihak–terutama kalangan medis, sepakat salah satu upaya yang bisa dilakukan agar terhindar dari virus corona (Covid-19) adalah dengan memperkuat sel-sel imun tubuh. Tidak hanya corona, tingginya kasus demam berdarah pun dapat diatasi dengan penguatan imun tubuh.

Hal ini secara terbuka juga disampaikan Dr. dr. Karina, SpBP-RE., Owner Klinik Hayandra dan Hayandra Laboratorium kepada innews, Jum’at (20/3/2020) malam. Menurutnya, setiap manusia diberikan sel-sel imun yang berguna untuk memproteksi diri dari virus, bakteri, jamur, bahkan sel kanker.

“Sel imun adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh, yang terbentuk dari stem cell di sumsum tulang yang kemudian berubah menjadi berbagai sel imun seperti sel NK, limfosit (sel T & sel B), makrofag, dendritik, dan lainnya,” jelas Karina.

Menurutnya, dalam bahasa awam, sel imun ini ibarat ‘pasukan elit anti teror’ di dalam tubuh, yang bertugas memerangi ‘musuh’. “Musuh tubuh kita siapa? Ya salah satunya adalah Covid-19,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Karina, sebagai pencegahan terhadap covid-19, sel-sel imun dalam tubuh seseorang ditingkatkan dengan cara terapi sel. “Hanya saja, bila sudah positif corona, tidak bisa. Karena Immune Cell Therapy (ICT) harus membiak darah pasien. Nanti, virusnya bisa ikut terbiak,” paparnya.

Lebih jauh Karina memaparkan sejumlah pendukung untuk memperkuat sistem imun diantaranya, ICT yang berasal dari darah pasien sendiri (autologus). Lalu sel NK, NKT dan T akan diperbanyak serta diaktifkan selama sekitar 2 minggu.

“Sel NK (Natural Killer) memiliki kemampuan mengenali dan membunuh sel-sel yang terinfeksi virus atau tumor. Melalui jalur apoptosis (kematian sel terprogram), sel NK mampu mengeliminasi sel-sel yang terinfeksi sambil membatasi kerusakan jaringan sekitar,” urai Karina.

Selain ICT, ada juga konsumsi Vitamin D3, dimana baik secara langsung maupun tidak langsung, vitamin ini berperan penting dalam menginisiasi respon imun adaptif (sel T & sel B), serta sel-sel imuninnate (sel makrofag, sel monosit).

Karina menambahkan, “Jangan khawatir untuk mengonsumsi vitamin D3 dosis tinggi. Karena untuk menaikkan kadar D3 darah yang kadung sudah rendah, asupan suplemen bisa mencapai dosis 10.000 IU per hari bagi dewasa”.

Menurut Karina, ternyata, saluran cerna kita merupakan salah satu ekosistem mikrobiologi aktif yang berperan sangat penting pada sistem imun. Untuk itu dibutuhkan probiotik yang akan menstimulir sistem imun mukosal melalui banyak cara dan bisa melindungi tubuh tidak hanya dari infeksi di usus, tapi juga di saluran nafas dan saluran kemih. Kabarnya juga, probiotik mampu meningkatkan pemusnahan human papillomavirus (HPV), penyebab kanker serviks.

Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah infus vitamin C dosis tinggi. “Diyakini vitamin C merupakan antioksidan kuat dan berkontribusi pada sistem pertahanan tubuh. Pada infeksi saluran nafas seperti pneumonia, pemberian vitamin C mampu membantu kesembuhan pasien dan mengurangi lama rawat di rumah sakit,” paparnya.

Kemudian, melakukan diet rendah karbohidrat. “Sudah banyak penelitian melaporkan kaitan antara tingginya kadar gula darah dengan peradangan (inflamasi) sebagai akibat dari disfungsi sel imun, terutama pada penderita diabetes. Bila sel imun mengalami penurunan fungsi, tentu penyebaran virus dan bakteri di tubuh akan sulit diatasi” imbuh Karina.

Kondisi kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) juga dapat memperberat infeksi akibat virus dan bakteri di saluran nafas, seperti pada flu dan pneumonia.

Karina juga mengimbau masyarakat bisa menjalankan pola hidup sehat (olahraga, istirahat cukup, mengurangi stres, dan lainnya). “Ini semua akan menjadi multimodalitas ampuh dalam menjaga keperkasaan sel-sel imun kita, terutama saat menghadapai wabah covid-19 yang kini telah menjadi pandemi global,” pungkasnya. (RN)