William Sutioso Direktur PT Sutioso Bersaudara saat bertemu Menteri KKP

Jakarta, innews.co.id – Sejak ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO, Covid-19 terus memakan korban jiwa. Per 22 Maret ini, di Indonesia, tercatat 514 orang terinfeksi, 29 sembuh dan 48 meninggal dunia.

Tidak hanya memakan korban jiwa, dampaknya pun dirasakan oleh dunia bisnis, tak terkecuali bidang perikanan.

Kapal-kapal nelayan tengah sandar

“Penjualan hasil laut mengalami penurunan sebagai dampak wabah corona. Seperti di China, belum sepenuhnya restoran dan bisnis beraktifitas kembali sehingga pengiriman barang masih slow. Shortage reefer container terjadi di Jakarta maupun Surabaya,” terang William Sutioso Direktur PT Sutioso Bersaudara kepada innews, Jumat (21/3/2020) malam.

Meski begitu, William mengaku tidak ada penurunan produksi secara signifikan. Sebab, nelayan masih tetap melaut. Hanya karyawan saja yang diberi kebijakan pulang lebih awal untuk menghindari crowded dan bottleneck antrian angkutan umum saat jam pulang (rush hour). Ini juga sesuai himbauan pemerintah.

Namun William mengingatkan, kebijakan work from home yang dibuat pemerintah berdampak pada lamanya mengurus perizinan kapal-kapal nelayan. “Kapal kita di Indonesia Timur sudah menunggu 4 hari untuk melaut. Lantaran banyak perangkat daerahnya tidak masuk kerja, sehingga soal perizinan mengalami stagnan,” jelasnya.

Karena itu, William berharap pemerintah baik pusat maupun daerah memperhatikan perijinan kapal-kapal nelayan. “Mohon perangkat daerah bisa tetap melakukan pelayanan secara maksimal. Karena kapal ikan itu, selain dari KKP juga ada hubungannya dengan Kementerian Perhubungan. Ada beberapa pelabuhan yang tidak ada syahbandar perikanannya. Sebab surat ijin berlayar berasal dari syahbandar perhubungan,” seru William.

Demikian juga, William berharap pelayanan publik seperti karantina ikan dan perijinan diusahakan tetap optimal. Apalagi perikanan juga merupakan salah satu sektor yang berperan untuk ketahanan pangan nasional. (RN)