Para pengurus DANTARA

Yogyakarta, innews.co.id – Pemerintah sangat membutuhkan pihak-pihak yang terbeban dan punya hati untuk ikut serta melayani masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air. Tangan pemerintah tidaklah cukup panjang untuk melayani semuanya. Untuk itulah warga bangsa yang terbeban sejatinya turun tangan membantu pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat luas.

Seperti yang dilakukan organisasi Dantara (Damai Nusantara) yang terbeban melayani di bidang pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah sebagian kecil dari wilayah pengabdian Dantara yang didirikan sekitar Juni 2018 lalu.

Putri Simorangkir

Meski baru lahir, namun visi besar Dantara layak diapresiasi yakni ingin menjangkau masyarakat luas dan menjadi perpanjangan tangan dan hati pemerintah untuk dibagikan kepada rakyat Indonesia.

Ditemui di sela-sela Temu Nasional Seribu Perempuan Indonesia di Yogyakarta, penggagas Dantara Putri Simorangkir banyak bicara tentang organisasi bentukannya ini. Putri sendiri sejak dulu dikenal sebagai sosok yang punya hati melayani banyak orang. Wujud pelayanannya pun beragam, mulai dari pendidikan, pertanian, sampai pada religius. Meski usianya meninggi, namun spiritnya untuk melayani tidak pernah padam.

Menurut Putri, sejauh ini ada tiga bidang yang menjadi fokus Dantara, yakni pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pengurus DANTARA kompak

Dikatakannya, saat ini tenaga pengajar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) banyak yang tidak memiliki latar belakang pendidikan, bahkan ada yang tidak mengenyam pendidikan dasar. “Ini sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin anak-anak yang adalah generasi penerus bangsa diajar dengan asal-asalan. Sangat membahayakan,” ujarnya.

Putri mencontohkan pada perhelatan Pilkada DKI 2017 lalu, anak-anak kecil dengan suara lantang berteriak-teriak, “Bunuh, bunuh…”

Hal lainnya, menurut Putri, generasi now seperti sudah kehilangan rasa hormat dan empati dengan orang yang lebih tua. “Dulu kita mengenal pendidikan budi pekerti, tapi sekarang tidak ada lagi,” kata Putri seraya menambahkan bahwa pendidikan yang benar akan mampu mengembalikan marwah generasi muda untuk bisa lebih beretika lagi.

Putri Simorangkir (kanan) di acara Temu Nasional Seribu Perempuan Indonesia di Yogyakarta

Mengenai hal tersebut, Putri menilai revolusi mental yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo sangatlah relevan di masa sekarang ini. “Bangsa kita sepenuhnya harus mengalami revolusi mental untuk mencapai kehidupan yang lebih baik,” imbuhnya.

Bersinergi

Di bidang kesehatan, lanjutnya, Dantara siap terjun mendukung pelayanan dr Lie Darmawan yang sudah sejak lama melakukan pelayanan masyarakat ke pulau-pulau terpencil, khususnya di wilayah Indonesa Timur. Salah satu upaya yang ia lakukan adalah membuat RS Terapung dengan sebuah kapal.

“Kami ingin mendukung pelayanan dr Lie ini supaya bisa berjalan dan berkesinambungan. Karena faktanya, banyak anak bangsa yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” ucapnya. Kapal dr Lie didesain sedemikian rupa hingga memiliki kamar operasi, tempat rawat inap, dan sebagainya.

Ditambahkannya, hal lain yang juga terpikirkan oleh para pengurus dan anggota Dantara adalah membuat konsep pertanian dan peternakan modern. Demikian juga melakukan pelatihan-pelatihan kepada para petani dan peternak. “Sebagai negara agraris, tentu penting kita perlengkapi para petani dengan teknologi modern yang mampu memberi hasil lebih besar,” kata Putri.

Ke depan, Dantara akan membuat pilot project di berbagai tempat. Bisa juga dengan bekerja sama dengan pihak lain.

Hal lainnya yang terpikirkan adalah membuat yayasan. “Ini sangat penting, karena dengan begitu akan kian meluaskan wilayah pelayanan Dantara. “Kami ingin mengasihi bangsa ini dengan kerja nyata, tidak sekadar omongan saja. Kalau ada orang yang bilang mengasihi bangsa ini, tapi tidak berbuat apa-apa, itu tidak benar,” tandas Putri.

Dalam bidang peningkatan kesejahteraan masaytrakat, selain bidang pertanian dan peternakan, Danatara juga akan merambah bidang usaha kecil dan mikro bersinergi dengan Komunitas Anak Bangsa (KAB), dengan menjual kopi yang diberi nama Jokopi. “Modalnya kisaran Rp5 – Rp10 juta, modelnya berupa café kopi berjalan.

Ada banyak hal yang ingin dikerjakan Dantara, namun Putti paham betul bahwa ia dan rekan-rekan lainnya harus bersinergi dengan berbagai pihak. “Kami sedang mengupayakan membangun kerja sama, termasuk dengan pemerintah,” ucapnya. (RN)