Jakarta, innews.co.id – Hasratnya untuk melakukan perubahan di bangsa ini mendorongnya terjun dalam dunia politik. Di usia yang demikian muda, Debora Debby Wage, S.Sos., MSi., memutuskan maju dalam kontestasi pemilihan legislatif, 17 April 2019.

Meski berlatarbelakang sebagai akademisi, bukan berarti Debby–sapaan akrabnya, buta dalam hal perpolitikan. Ia salah seorang yang turut membidani lahirnya Partai Perindo besutan Harry Tanoesudibjo.

“Ya, saya bersama teman-teman dan Pak Harry (Harry Tanoe, red), dulu getol.membahas soal Perindo, termasuk menyiapkan jingle dan mars Perindo dan sebagainya,” aku wanita cantik kelahiran Jakarta, 5 Februari 1983 yang dikenal sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN) Jakarta ini.

Saat ini Debby ‘bertarung’ untuk memperebutkan kursi DPR RI di daerah pemilihan Jawa Barat III yang meliputi Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, dengan nomor urut 1.

Baginya, masuk dengan perahu Perindo, mengisyaratkan idealismenya untuk duduk dari partai yang notabenenya belum terkontaminasi.

Debby terus berjuang

“Saya beruntung masuk Perindo karena di partai ini masih ada harapan untuk Indonesia baru,” ujar Wasekjend DPP Partai Perindo ini.

Dalam kacamatanya, Perindo tumbuh sedemikian pesat. Berbagai tindakan nyata telah dilakukan dalam menyentuh masyarakat sampai ke level bawah.

“Perindo on the track. Semakin hari kian dikenal masyarakat. Kita (Perindo, red) telah melakukan upaya konkrit kepada masyarakat. Tinggal sekarang bagaimana Perindo melanggengkan pengabdiannya dengan menempatkan orang-orangnya di legislatif,” tandas salah seorang Influenzer di Koalisi Indonesia Kerja (KIK) ini.

Bicara dapilnya, Debby mengaku sangat jatuh cinta dengan kedua daerah tersebut (Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur). Tidak itu saja, ternyata ia punya visi menarik untuk bagaimana memperjuangkan kehidupan masyarakat di kedua wilayah tersebut.

Di Cianjur misalnya, Debby berhasrat lebih mensejahterakan para petani di sana dengan menghadirkan modernisasi dunia pertanian.

“Kalau para petani bisa mengolah lahan pertanian secara modern, tentu hasil yang didapat akan berlipat ganda. Dan, sudah barang tentu kesejahteraan para petani akan meningkat,” jelas Ketua Komunitas Muda Amin (KMA) ini.

Demikian juga, bila duduk di dewan, Debbie meyakini akan berjuang agar pemerintah tidak lagi impor beras-utamanya di saat petani panen karena bisa merusak impor.

Demikian juga di Bogor, menurut Debby, masyarakatnya masih guyub, tidak seperti Jakarta yang cenderung individualistik.

Satu hal yang akan diperjuangkan adalah eksistensi kawula muda lewat kebangkitan industri kreatif. “Kita akan dorong anak-anak muda di Bogor untuk bisa mengembangkan industri kreatif,” tukas Debby yang pernah duduk sebagai Wakil Ketua KNPI ini.

Debby juga menaruh fokus pada pengembangan industri rumahan yang dilakoni para perempuan di Bogor dan sekitarnya. Harapannya, itu bisa menambah pendapatan dan membuat masyarakat lebih sejahtera.

“Saya concern mendorong usaha-usaha riil di tengah masyarakat, sehingga mimpi kita menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat akan terwujud,” tandasnya. (RN)