Jakarta, innews.co.id – Pertemuan dua pimpinan partai politik yang berseteru di Pemilihan Presiden 2019, Megawati Soekarnoputri (Ketum PDI Perjuangan) dan Prabowo Subianto (Ketum Partai Gerindra) beberapa waktu lalu menjadi sinyal terbukanya komunikasi politik.

Kedua tokoh bangsa nampak begitu akrab. Ada rasa kebersamaan di antara keduanya yang pernah satu perahu pada Pemilihan Presiden 2009 silam.

Sinyal yang menguat dari pertemuan tersebut adalah bagaimana menyatukan kembali dua kutub kekuatan politik dalam membangun bangsa ini.

Beredar rumor bahwa keinginan kuat dari kedua tokoh fenomenal bangsa ini bertumpu pada bagaimana kekuatan keduanya disatukan.

Menurut Robertho Manurung pengamat sosial politik yang juga dikenal sebagai Tokoh Nasional Pemuda dan pernah berkiprah aktif di KNPI & KOSGORO Jawa Tengah, kepada innews, Kamis (1/8/2019) malam, sinyal untuk membangun bangsa bersama bisa diartikan dengan menyandingkan keduanya. Namun, tentu sepertinya tidak mungkin juga Prabowo menjadi Wakil Presiden RI H. Ir. Joko Widodo.

“Dalam analisa saya, keduanya bisa bersatu bila kursi wapres diserahkan kepada Prabowo. Kalau memang Prabowo tidak mau, maka ia bisa mengalihkan kepada orang yang direkomendasikannya,” lanjut Robertho yang pernah aktif di DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

Salah satu calon kuat yang namanya mulai beredar adalah Titiek Soeharto yang tak lain adalah mantan istri Prabowo. “Sebagai tokoh bangsa, maka Prabowo dapat menyerahkan kursi wapres kepada Titiek, sementara Prabowo hanya sebagai Bapak Bangsa saja,” kata Robertho.

Lalu bagaimana dengan.K.H. Ma’ruf Amin? “Saya yakin Pak Ma’ruf sebagai tokoh agama yang sangat disegani akan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Beliau akan legowo memberikan kursi wapres kepada Titiek,” sambung Robertho seraya berujar bahwa Ma’ruf Amin akan diberikan tempat terhormat sebagai tokoh teladan bangsa.

Pastinya, tambah Robertho, melihat kinerja Presiden Jokowi dibutuhkan sosok yang punya kemampuan serta mobilitas tinggi. “Titiek Soeharto dikenal luas dan akan sanggup menjawab tantangan tersebut,” yakinnya.

Bila ini terjadi, kata Robertho, maka bangsa ini akan kembali rukun dan damai. Sebab, kekuatan dua kubu yang berseberangan telah dapat disatukan. Jalannya roda pemerintahan juga akan lebih smooth. Dengan begitu, pembangunan dapat berjalan lebih maksimal.

“Naiknya Titiek sebagai Wakil Presiden pasti akan memperkuat bangsa. Ini bisa diistilahkan dengan rekonsiliasi genetika,” terang Robertho. Apakah akan terjadi demikian? (RN)