Semarang, innews.co.id – Pendidikan menjadi sesuatu yang penting dalam membangun kepribadian, mental, serta intelektual, dan berujung pada pencapaian kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pendidikan sesuatu yang mutlak dienyam oleh semua pihak, kaum perempuan tidak terkecuali.

Penegasan itu disampaikan Dr. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dalam Pelantikan Pengurus Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Provinsi Jawa Tengah yang diadakan di Gedung BKOW Semarang, Selasa, (17/4).

Dengan mengenyam pendidikan, perempuan tidak saja menjadi cerdas, tapi juga mampu memberi dukungan bagi keluarga sehingga kesejahteraan dan kemandirian bisa tercipta dengan sendirinya.

Dalam sambutannya Giwo mengajak segenap pengurus GWS untuk bersama-sama bekerja bergotong-royong melalui kerja keras dan kerja cerdas dalam upaya menjadikan wanita-wanita Indonesia sebagai wanita yang sejahtera, mandiri dan bermanfaat serta dapat membawa perubahan, baik di dalam rumah tangga, lingkungan, masyarakat, negara, dan bangsa, bahkan Insya Allah sampai ke penjuru dunia.

Menurut Giwo, ini sejalan dengan mandat dan amanat kaum perempuan sebagai Ibu Bangsa yang juga merupakan keputusan Kongres Perempuan ke-III tahun 1938, di mana tugas yang diemban bagi setiap Perempuan Indonesia adalah menyiapkan generasi muda yang kreatif, inovatif, unggul yang sehat jasmani dan rohani, berwawasan kebangsaan yang kokoh dan militan.

Dalam kaitan menyiapkan generasi muda yang siap dan mantap, lanjut Giwo, maka seorang Ibu Bangsa mutlak harus bisa menjadi perempuan yang mandiri, berdaya dan peduli serta berkemampuan sehingga diharapkan bisa memberikan kontribusi konkrit di tiap kiprahnya.

Giwo meminta GWS bisa menjadi role model dengan bisa menjadi wanita yang profesional sehingga mampu menghadapi setiap tantangan dengan baik, benar, dan tepat. Dengan kata lain perempuan harus memiliki nilai tambah (added value) yang utuh, sekaligus menepis rumor yang selalu berkata, perempuan makhluk yang lemah, apalagi hanya menjadi parasit semata.

Selain itu, bisa menjadi wanita yang bermartabat, di mana akhlak budi pekerti menjadi ukurannya. Perempuan juga harus memiliki kreativitas. “Perempuan sebagai kristalisasi dari ‘cipta rasa dan karsa’ yang tiada tara harus terus mengembangkan segala kemampuannya. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan kearifan lokal sehingga lebih berdaya guna.

Perempuan Indonesia juga harus berdaya saing tinggi. “Perempuan punya andil untuk ikut membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa, bahkan lebih dari itu. Dengan wanita yang berdaya saing tinggi, maka akan melahirkan ‘anak bangsa’ yang berdaya saing tinggi pula.

Wanita Indonesia juga, masih kata Giwo, harus visioner, bermata elang sehingga bisa melihat jauh ke depan. Juga menjadi wanita yang berkarakter. “Dari wanita yang berkarakter bisa menyinari seisi rumahnya dengan atmosfer keteguhan karakter, kuat, ulet dan berakhlak mulia. Wanita yang berkarakter selain mampu menghadapi setiap tantangan, tanpa harus kehilangan jati dirinya. Tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai isu dan hoaks.

Giwo berharap perempuan menjadi insan yang berguna. “Jika keberadaan kita dirasakan kegunaan oleh siapa pun, jangan menjadi orang yang angkuh, tapi tetap menjadi perempuan yang anggun yang selalu siap sedia melakukan dharma berupa kebajikan, sekecil apa pun asal memberikan kebergunaan bagi sesama dan lingkungan,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Giwo juga mengajak segenap pengurus GWS Provinsi Jawa Tengah untuk ikut Rembuk Nasional 1.0000 Organisasi Perempuan yang rencananya akan diadakan pada 12 September 2018 di Yogyakarta.

GWS didirikan pada tahun 1952 dan mulai bergabung dengan KOWANI pada tahun 1956. GWS adalah organisasi kemasyarakatan bagi kaum Indonesia dan semua golongan yang bertujuan meningkatkan kesadaran wanita akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut dilantik Pengurus GWS DPW Jawa Tengah, DPV Semarang Kota, Pati, Kudus dan Salatiga. Wadah ini juga memiliki unit usaha bernama Koperasi Daya Karya Wanita, di mana setiap anggota GWS secara otomatis masuk menjadi anggota koperasi. Dalam perjalanan waktu, koperasi ini dirasa sangat bermanfaat bagi masyarakat luas, utamanya untuk menghindari para renteiner yang kerap menjerat kaum perempuan.

Giwo secara khusus meminta para pengurus yang baru dilantik bisa aktif dan bersinergi dengan para stakeholders, seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja, serta lainnya. (RN)