Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., M.Sc., komitmen membangun bangsa lewat energi dan lingkungan hidup

Jakarta, innews.co.id – Indonesia adalah negeri surga energi. Meski begitu, pemanfaatannya dirasa belum optimal. Dibutuhkan inovasi dan regulasi yang kuat untuk mendorong pemanfaatan–khususnya energi baru terbarukan yang dikorelasikan dengan pemeliharaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Penegasan ini disampaikan Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., M.Sc., dalam sebuah perbincangan di kantor Yayasan Indonesian Energy and Environmental Institute. (IE2I) di bilangan Mega Kuningan, Jakarta, Senin (22/8/2019) siang.

Dyah Roro Esti Widya Putri bersama keluarga saat wisuda di Inggris

Menurut Roro, saat ini pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia sekarang ini bukan tanpa inovasi. Hanya saja perlu dorongan yang lebih keras lagi, sehingga bisa naik dari yang saat ini pemanfaatannya baru 6 persen, menjadi 23 persen di 2025, sesuai target pemerintah.

“Perlu ada Undang-Undang untuk membuka ruang pengembangan energi baru terbarukan ini lebih besar lagi,” ujarnya seraya mengatakan di Makassar ada tenaga angin yang cukup besar, begitu juga di NTB dan NTT yang memiliki sunlight explosion besar jadi bisa dimanfaatkan untuk solar energy (tenaga surya).

Roro Esti gemar menyapa masyarakat dan mendengar aspirasinya

Dengan UU yang lebih jelas dan detail, maka ada payung hukum yang jelas dan membuat energi baru terbarukan menjadi sektor yang ramah investasi. “Jadi, investor yang akan masuk bisa lebih memiliki kepastian hukum. Butuh UU yang lebih straight to the point,” tambah Roro yang masuk menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024 dari Partai Golkar dapil Jawa Timur X yang meliputi Kabupaten Gresik dan Lamongan ini.

Roro Esti menjadi pembicara tunggal di event internasional

Hal lainnya yang kelak akan diperjuangkan Roro adalah kondisi ramah lingkungan dimana salah satunya adalah meminimalisir penggunaan plastik. Diakuinya memang tidak mudah karena berhadapan dengan para pebisnis industri plastik. Namun demikian, Roro berkeyakinan pasti ada solusinya.

Roro Esti rajin turun ke masyarakat

“Plastik berdampak negatif karena kalau dibuang, maka ujungnya akan terbawa sampai ke laut. Tidak hanya akan mencemari lingkungan, tapi juga hewan-hewan yang hidup di laut. Dimakan ikan, lalu ikan dimakan manusia. Jadi, bisa berdampak juga bagi kesehatan manusia,” urainya.

Dengan dasar dua bidang yang akan ia perjuangkan, nampaknya pas bila Roro duduk di Komisi VII DPR RI yang diantaranya membidangi energi dan lingkungan hidup, dan ristekdikti.

Roro Esti bersama rekan-rekan saat kuliah di Inggris

Tidak itu saja, sebagai bagian dari generasi milenial, wanita cantik kelahiran Jakarta, 25 Mei 1993 ini, juga punya visi bagaimana menyadarkan generasi now untuk juga sadar pentingnya terlibat dalam dunia politik. “Tahun depan Indonesia memiliki bonus demografi, dimana angkatan mudanya mencapai 30 persen dari total jumlah penduduk. Karena itu, kalau generasi milenial tidak masuk dunia politik, maka suaranya sulit didengar dalam rangka memberi perubahan positif bagi bangsa ini,” ujarnya.

Roro Esti, kader muda Partai Golkar yang mumpuni

Duduk sebagai anggota dewan, bagi Roro adalah panggilan jiwa. Bisa juga dikatakan meneruskan jejak sang ayah Ir. H. Satya Widya Yudha, M.Sc., yang kini duduk sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI.

Pendiri sekaligus Executive Director Yayasan IE2I yang banyak menghabiskan waktu pendidikannya di luar negeri ini juga terbeban untuk mempopulerkan Pulau Bawean yang terletak di Kabupaten Gresik. “Lokasinya di tengah lautan dengan potensi pariwisata yang luar biasa. Namun, masalahnya soal listrik dan jaringan internet. Juga ada konservasi untuk hewan rusa,” urainya.

Roro Esti mengidolakan sang ayah Ir. H. Satya Widya Yudha, M.Sc., yang kini duduk sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI

Kedepan, ia berharap bisa mengembangkan Pulau Bawean untuk menjadi destinasi wisata unggulan di Indonesia.

Kepada generasi milenial, Roro berpesan, “Kita harus menjadi generasi yang produktif dan mengetahui keahlian kita apa. Kita bisa membangun bangsa dan negara ini dengan cara kita masing-masing”. (RN)