Wakil Bupati Banggai H. Mustar Labolo bersama pembicara dan pelatih TOT antropometri di Hotel Swiss Bell Luwuk

Banggai, innews.co.id – Kualitas data hasil penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan anak bawah dua tahun (baduta) dapat diketahui dari nilai presisi dan akurasi.

Guna memastikan data yang diperoleh akurat, dibutuhkan tenaga kesehatan yang mumpuni. Dalam kaitan itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin Makassar melaksanakan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar dapat melakukan training of the trainer bagi Pembina Keluarga (PK) di 10 desa sebagai locus stunting, dalam rangka publikasi angka stunting, di Hotel Swiss Bell Luwuk, 20-22 September 2019.

DR. dr. Lucy Widasari, MSi., dari Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) Sekretariat Wakil Presiden bersama ibu dan anak balita peserta pengukuran dalam acara TOT

Dalam rilis yang diterima innews, Minggu (22/9/2019) dikatakan, kegiatan pelatihan berupa pengukuran antropometri (pengukuran dimensi dan komposisi tubuh) bagi petugas kesehatan dan beberapa dosen dari FKM Untika Luwuk ini salah satu tujuannya untuk mengetahui status gizi anak menggunakan grafik pertumbuhan.

Tidak tanggung-tanggung, Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai mendatangkan salah satu pakar antropometri, yaitu DR. Abbas Basuni Jahari, MSc. Turut hadir pada acara tersebut Wakil Bupati Banggai, H. Mustar Labolo serta pemateri dan pelatih diantaranya, Prof. DR. Abdul Razak Thaha, MSC., Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH., Dr Deddy Dachlan, DR. Ir.Yustiyanty Monoarfa, M.Kes., dan DR. dr. Lucy Widasari, MSi., dari Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) Sekretariat Wakil Presiden.

Suasana TOT di Kantor Kelurahan Baru oleh peserta pelatihan pada Pembina Keluarga (PK) yang akan melakukan pengukuran antropometri di 10 desa lokus stunting

Menurut DR. dr. Lucy Widasari, MSi., kualitas data hasil penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan anak bawah dua tahun (baduta) dapat diketahui dari nilai presisi dan akurasi.

Presisi untuk melihat seberapa dekat atau jauh perbedaan hasil pengukuran pada subjek yang sama yang bertujuan untuk melihat seberapa reliable atau kehandalan pengukuran yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Sedangkan akurasi atau ketepatukuran melihat seberapa dekat atau jauh perbedaan hasil pengukuran oleh petugas kesehatan dibandingkan dengan hasil pengukuran gold standard pada subjek yang sama.

Peserta TOT melakukan praktik pengukuran antropometri

“Sebuah pengukuran bisa presisi, tetapi tidak akurat, atau akurat tetapi tidak presisi. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi presisi dan akurasi diantaranya pengetahuan dan keterampilan maupun kepedulian petugas dalam melakukan teknik pengukuran yang benar, ketelitian pengukur, kualitas alat ukur, tidak ada ruang yang cukup untuk bermain anak dan tempat orangtua menunggu giliran anaknya ditimbang, sehingga melelahkan yang berakibat anak menjadi tidak kooperatif untuk dilakukan pengukuran,” jelas DR. dr. Lucy Widasari.

DR. dr. Lucy Widasari, MSi., dari Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) Sekretariat Wakil Presiden (kiri) bersama salah satu pakar antropometri, yaitu DR. Abbas Basuni Jahari, MSc

Setelah diberikan materi peningkatan pengetahuan mengenai teknik dan manfaat pengukuran antropometri, peserta melakukan praktik pengukuran, dan terpilih 10 peserta yang memiliki akurasi yang paling mendekati dengan gold standar, untuk selanjutnya peserta melakukan praktik pengukuran antropometri pada balita di Kantor Kelurahan Baru di Kecamatan Luwuk.

Kepala Dinas Kabupaten Banggai, DR.dr. Anang Otoluwa.,MPPM, Kepala Puskesmas Kecamatan Kampung Baru Drg. Sri Dewi Susanti dan Kepala Kelurahan Baru Kecamatan Luwuk, Saprin Amulia, menghadiri langsung praktik pengukuran antropometri ini.

Foto bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, DR. dr. Anang Otoluwa, MMPM., di Kantor Kelurahan Baru setelah acara TOT bagi Pembina Keluarga oleh peserta pelatihan antropometri

Dijelaskan pula, kegiatan Pembina Keluarga di 10 desa locus stunting ini akan di supervisi oleh Aspar Abdul Gani, SKM., M.Kes., dan Akmal Novrian Syahruddin, MKM., M.Kes., dari Universitas Hasanuddin Makassar.

Peran petugas kesehatan dalam melakukan praktik penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan/tinggi badan anak baduta yang akurat sangat penting dalam meningkatkan kualitas data yang baik agar dapat digunakan sebagai pemantauan gangguan pertumbuhan pada baduta.

Dari hasil pengukuran antropometri tersebut dapat diketahui status gizi anak baduta dengan menggunakan grafik pertumbuhan BB/U, TB/U dan BB/TB untuk mengetahui ada tidaknya gangguan pertumbuhan (weight faltering/gagal tumbuh, wasting/anak kurus atau stunting/anak pendek). (RN)