Haji Lulung tengah memberikan sambutan pada Pembukaan Musyawarah Nasional X Pemuda Panca Marga di Hotel Swissbellin, Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/9/2019) malam

Jakarta, innews.co.id – Kepemimpinannya terbilang sukses dalam membawa Pemuda Panca Marga (PPM) menjadi organisasi yang lebih membumi serta menjalin kemitraan dengan sejumlah stakeholders. Sayang, intrik-intrik histori politik yang dilakukan oknum di LVRI yang membuatnya dengan berat hati harus mundur sebagai Ketua Umum DPP PPM.

Tak kuasa menahan tangis dihadapan para pengurus PPM dari seluruh Indonesia, Abraham Lunggana atau lebih dikenal dengan sebutan Haji Lulung, menyatakan pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum DPP PPM dalam Musyawarah Nasional X PPM, di Hotel Swissbellin, Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/9/2019) malam.

Abraham Lunggana atau dikenal dengan Haji Lulung memberikan pernyataan pers usai Pembukaan Munas X PPM di Hotel Swissbellin, Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/9/2019) malam

“Saya harus akui sangat terharu dan tidak bisa menahan air mata melihat kesolidan teman-teman pengurus pusat dan daerah. Pada 30 Agustus lalu, kita juga bersama-sama dan belum ada pembicaraan soal Munas. Namun, mendadak hari ini, kita mengadakan Munas yang salah satu agendanya adalah mundurnya saya dari jabatan Ketum DPP PPM dan pemilihan pucuk pimpinan yang baru,” terang Lulung dengan suara tersendat.

Mundurnya Lulung tentunya menjadi pertanyaan besar. Kepada awak media, usai acara pembukaan, Lulung mengutarakan, persoalan antara oknum di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) dengan dirinya berawal dari Pilkada DKI Jakarta, dimana dirinya berseberangan dukungan calon gubernur-wakil gubernur.

Hal itu berlanjut, dengan upaya oknum di LVRI yang sudah dianggap sebagai ‘Bapak’ angkat oleh Lulung, untuk mengeliminir posisi Lulung.

“Bahkan, sudah disurati pengurus daerah PPM untuk meminta saya mundur, tapi dengan tegas ditolak,” kata Lulung.

Tidak berhenti sampai disitu, oknum tersebut juga menghasut para veteran, dimana anaknya tergabung di PPM. Meski demikian, Lulung menjelaskan, antara LVRI dengan PPM berbeda AD/ART organisasi. “Jadi, sebenarnya tidak bisa LVRI mengintervensi PPM karena sudah beda jalur. Mungkin secara historis ada hubungan, tapi tidak secara organisatoris,” jelasnya.

Lulung menambahkan, dirinya sudah dizolimi. Bahkan, sudah mengarah kepada pembunuhan karakter dimana dengan sengaja dicari-cari kesalahannya. “Ini benar-benar keterlaluan. Karena itu, untuk menjaga kondusifitas di PPM, maka saya memutuskan untuk mundur, selain saya juga mau fokus karena sudah terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2019-2024 dari PAN.

Sementara itu, Slamet Arifin Departemen Hukum DPP PPM mengisahkan, ada oknum LVRI yang mengirimkan surat elektronik kepada pengurus daerah dan meminta untuk tidak mengakui kepemimpinan Lulung. “Kami duga, surat serupa juga kemungkinan dikirim juga kepada seluruh pengurus daerah di seluruh Indonesia,” tambah Slamet.

Dia menegaskan, oknum LVRI sudah melakukan ujaran kebencian, memghasut, mengintimidasi, persekusi terhadap Haji Lulung. “Kalau dipidanakan, maka oknum tersebut bisa terkena UU ITE,” lanjut Slamet.

Sementara itu, beberapa pihak yang ditemui di lokasi Munas menuturkan, “Pesan dari Haji Lulung, kami bisa melakukan pendekatan kepada Pembina LVRI untuk melakukan rekonsiliasi”.

Namun, bila tidak tercapai, lanjut peserta Munas, maka akan diambil langkah-langkah penegakan hukum karena semua alat bukti sudah ada. (RN)