DR. Djonggi Simorangkir, SH., MH., tolak keberadaan KJA di Danau Toba

Jakarta, innews.co.id – Kebersihan bukan hanya pangkal kesehatan, tapi juga melahirkan kenyamanan, utamanya bagi daerah destinasi wisata. Dengan daerah yang bersih, maka para turis akan merasa nyaman untuk tinggal berlama-lama di daerah tersebut.

Hal ini ditegaskan pengamat politik, hukum, dan sosial kemasyarakatan Dr. Djonggi Simorangkir, SH., MH., di Jakarta, Selasa (6/8/2019) lalu, menyikapi kunjungan kerja 3 hari Presiden Joko Widodo ke kawasan Danau Toba untuk melihat langsung pembangunan serta objek-objek wisata yang sejatinya bisa dikembangkan sehingga mendorong daerah tersebut menjadi kawasan wisata kelas dunia.


DR. Djonggi Simorangkir bersama istri tercinta DR. Ida Rumindang Radjagukguk di Orchad Hotel Singapura

Menurut Djonggi, harusnya pemerintah daerah di sekitar Danau Toba mendorong, baik hotel-hotel, restauran, dan tempat-tempat di Danau Toba, memelihara kebersihan, mau di indoor maupun outdoor.

“Seluruh hotel dan restauran wajib memiliki tempat–utamanya kamar mandi bersih. Karena kalau sudah bersih, maka turis senang untuk menginap,” ujarnya.

Demikian juga rumah-rumah penduduk kebersihannya terpelihara dengan baik. “Bagaimana mungkin orang betah di suatu tempat kalau dilihat lingkungan sekitarnya jorok, kotor, dan kumuh,” kata Djonggi.

Bagi Djonggi, kalau ingin menjadikan Danau Toba sebagai tempat wisata unggulan, maka wajib hukumnya daerah tersebut bersih dan tertata rapih.

Dr Djonggi Simorangkir, SH., MH., (kedua dari kanan) bersama Dr. Ida Rumindang Rajagukguk, SH., MH., dan Glenn Felix Simorangkir, SH., MH., dan Kevin Partonggolan di Washinton DC, USA

Djonggi mencontohkan Singapura, sebuah kawasan yang kecil, tapi didatangi jutaan orang setiap tahunnya untuk berwisata karena daerahnya bersih dan tertata rapih. “Kenapa kita tidak bisa seperti itu? Tak usah gengsi-gengsi, kita ciptakan lingkungan yang bersih, maka turis pun akan berbondong-bondong datang,” yakin Djonggi.

Kalau perlu, tambah Djonggi, tiap Bupati/Wali Kota di daerah sekitar Danau Toba mengeluarkan peraturan daerah (perda) mengenai kebersihan lingkungan dan hunian. “Ini sangat penting. Jangan sampai visi besar Presiden Jokowi terhadap Danau Toba menjadi sia-sia hanya karena masyarakat di sana tidak suka kebersihan,” tandasnya.

Kalau sudah ‘diperintahkan’ oleh pemerintah daerah, maka secara rutin harus blusukan untuk melihat langsung sejauhmana pemeliharaan kebersihan di daerahnya.

Hal lain yang disampaikan Djonggi adalah merubah nama Bandara Silangit menjadi Bandara I.L. Nommensen. “Menurut saya itu tepat, disamping dapat mengundang pariwisata lebih banyak lagi karena melihat ada suatu keunikan dari nama bandara tersebut. Tentu turis akan penasaran apa keterlibatan orang Jerman terhadap masyakarat Batak. Ini menjadi sebuah catatan sejarah yang bisa disajikan,” paparnya.

Lebih jauh Djonggi menuturkan, perlu perubahan mind-set masyarakat dan kesadaran bahwa daerahnya kini menjadi tujuan wisata dunia. “Peran pejabat Pemda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat sangat besar dalam turut merubah pola pikir masyarakat di sana,” cetusnya.

Djonggi mengingatkan, jangan sampai peluang yang telah dihadirkan Presiden Jokowi hilang begitu saja.

Disoroti pula mengenai banyak makam yang terkesan tidak teratur. “Apa sih faedahnya membangun kuburan yang besar2? Apa mau pamer saja? Seperti saya, makam ompung-ompung saya disatukan di kampung, jadi tidak terpencar-pencar atau dibangun di pinggir-pinggir jalan. Gak perlu lagi seperti itu. Tapi kalau tugu-tugu marga boleh saja,” kata Djonggi.

Djonggi berharap pemda sekitar Danau Toba bisa memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa Danau Toba saat ini tengah dibangun menjadi destinasi wisata kelas dunia. (RN)