Jakarta, innews.co.id – Daerah wisata yang bersih dan tertata rapih membuka peluang turis lokal dan global untuk mau berlama-lama tinggal di tempat itu. Sebaliknya, kalau daerahnya kotor, wisatawan pun enggan datang.

Penegasan ini disampaikan Dr. Djonggi Simorangkir, SH., MH., pakar hukum dan pengamat sosial kemasyarakat ketika ditanya soal pentingnya kebersihan di suatu daerah, di Jakarta, Sabtu (30/11/2019).

“Adalah sangat bodoh bila ada pemimpin daerah yang membiarkan daerahnya kotor. Harusnya di setiap daerah dibuatkan peraturan daerah (perda) kebersihan. Dan bagi siapa yang melanggar dikenakan sanksi tegas,” ujarnya lantang.

Bagi Djonggi, bersih itu tidak harus mahal ataupun mewah. Sebab, kebersihan itu cuma soal kemauan. Kenapa ada orang yang tidak mau yg bersih? Ya karena mungkin dia masih menikmati yang jorok-jorok,” kata Djonggi sambil terpingkal.

Menurut Djonggi, pemimpin daerah harus mengontrol langsung, blusukan untuk memastikan daerahnya benar-benar bersih. Mulai dari hotel-hotel, restoran, sampai rumah penduduk. “Kalau saya cukup lihat toiletnya, kalau bersih, hampir dipastikan rumah dan penghuninya juga bersih,” imbuhnya seraya mengatakan, kalau ada hotel dan restoran yang tetap kotor, cabut saja izinnya.

Demikian juga sampah harus ditata rapih. Tempat pembuangan sampah masyarakat pun disediakan di ruas-ruas jalan dan sosialisasi kebersihan dilakukan secara intens kepada masyarakat.

Lebih jauh Djonggi mengatakan, kalau tidak bisa memelihara kebersihan, jangan bermimpi turis mau datang. Itu masalah kemauan. “Jangan untuk bermain joker karo atau pergi ke pesta dengan sederet emas di tangan, tapi kamar mandi di rumahnya jorok,” tandasnya.

Oleh karena itu, masyarakat harus merubah mind-set agar hidup bersih dan sehat. Serta pemerintah harus mensosilisasikan soal kebersihan kepada setiap orang. (RN)