OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jakarta, innews.co.id – Harus diakui, tenggelamnnya KM Sinar Bangun adalah bentuk kelalaian, baik dari pihak pemilik, pengemudi, sampai pemerintah setempat. Menganggap enteng terhadap kondisi kapal yang serba minim dari sisi peralatan keselamatan.

Akan tetapi, pasca tenggelamnya KM Sinar Bangun, salah seorang tokoh Batak Dr. Djonggi Simorangkir SH., MH., tidak melihat ada tindakan cepat yang diambil pihak Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dalam ikut membantu, baik untuk pencarian korban maupun pihak keluarga yang menanti-nanti sanak keluarganya yang menjadi korban.

Padahal, kata Djonggi, di sekitar lokasi itu pasti ada banyak Gereja HKBP. Pun, lokasi tidak jauh dari Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung, Tapanuli Utara.

“Harusnya HKBP mengerahkan semacam Unit Reaksi Cepat (URC) untuk terjun langsung menangani masalah tersebut,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (21/6) lalu.

Sikap HKBP yang kurang peduli terhadap persoalan yang sudah jadi tragedi nasional tersebut sangat disayangkan oleh Djonggi.

“HKBP harusnya mengirim 1-2 pendeta ke lokasi. Pun pihak HKBP Pusat memberikan pernyataan keprihatinan serta dukungan, baik secara psikologis maupun penguatan dari sisi kerohanian, baik terhadap korban yang selamat maupun keluarganya,” imbuh Djonggi.

Tidak itu saja, Djonggi juga berharap pihak pemerintah terkait melakukan pengecekan terhadap kepemilikan izin dari pengemudi kapal di seluruh wilayah Danau Toba. “Ini penting agar ke depan peristiwa serupa tidak terjadi lagi,” tandasnya.

Lebih dari itu, Djonggi mengkritisi soal rencana Konsultasi Nasional yang rencananya akan diadakan oleh HKBP di Sopo Marpingkir, 10-11 Juli mendatang dan mengundang Presiden Joko Widodo.

Kantor Pusat HKBP

“Jauh lebih baik HKBP melakukan penguatan di internal, dari pada harus bicara keluar,” tandas Djonggi. Dia mencontohkan, sampai sekarang masih banyak terjadi perpecahan di tubuh HKBP. Tidak hanya di Indonesia, tapi sampai ke luar negeri.

“Di Amerika saja, entah sudah berapa HKBP pecah. Di California HKBP pecah 3, di New York pecah juga, begitu juga di tempat-tempat lain,” kata Djonggi yang baru beberapa bulan lalu kembali dari Negeri Paman Sam.

Demikian juga sejauh mana perhatian HKBP terhadap gereja-gerejanya di pedalaman yang belum ada pendetanya.

“Jangan sudah bicara di level nasional, sementara internalnya sendiri masih perlu banyak diperbaiki,” kritik Djonggi.

Ia menyarankan agar Ephorus HKBP lebih banyak duduk di Kantor Pusat, bukan plesiran ke berbagai daerah. Kalau mau mengunjungi gereja-gereja di tempat lain cukup mengutus Sekjend atau yang lainnya. (RN)