Jakarta, innews.co.id – Pidato Calon Presiden Prabowo Subianto di Boyolali, beberapa waktu lalu, yang terkesan merendahkan masyarakat di sana, menuai kritik dari berbagi kalangan.

Seorang pemimpin harus ekstra hati-hati dalam berbicara. Bahkan, bila dipandang perlu seorang pemimpin mencatat dan membacakan apa yang hendak disampaikannya. Minimal harus menggunakan bahasa yang taat norma dan etika agar tak seorangpun, apalagi sebuah kelompok terdiskreditkan.

Penegasan ini dengan gamblang disampaikan tokoh masyarakat asal Boyolali, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., menjawab serangkaian pertanyaan dari innews di Jakarta, Rabu (7/11).

Dikatakannya, “Di Jawa ada ungkapan ‘ajining diri amarga saka lati’, yang artinya, bahwa harga diri kita ditentukan oleh bibir kita atau ungkapan kita”. Itu mirip dengan ungkapan yang lazim kita dengar, ‘mulutmu harimaumu’.

“Kita semua sadar dan paham masyarakat kita itu sangat majemuk dan berlapis-lapis tingkat sosial dan pendidikannya, maka cara paling santun dan berbudaya adalah memilih ungkapan kata yang taat norma dengan ‘gestur’ yang cool calm confident,” jelas Giwo Rubianto yang juga duduk sebagai Vice President International Council of Women (ICW) ini.

Apalagi, tambahnya, ungkapan tersebut disebutkan dalam sebuah forum resmi dan pastilah disorot/diclose-up oleh publik. Terutama kan ini sudah masuk tahun politik, apa pun pasti harus “zero defect”, harus semakin ekstra hati-hati.

Giwo menambahkan, “Berkata-kata dengan sopan, santun, baik, dan cermat adalah sesuatu yang mutlak dimiliki setiap insan. Apalagi jika atribut itu dituntutkan bagi seorang pemimpin, maka level dan kriterianya, bukan lagi mutlak, tapi harus dan wajib. Bahkan harus menjaga 9 Ta, yaitu tata krama, tata busana, tata wicara, tata susila, tata boga, dan tata… tata lainnya”.

Jadi, kata Giwo, indikatornya jelas, setiap pemimpin, apalagi konteksnya negarawan ya memang harus elegan dan halus budi serta sangat bermartabat, dalam artian mutlak harus menghormati semua rakyatnya dan yang paling mudah dan universal adalah bahasa oral yang langsung.

Giwo menilai munculnya polemik dan demo akibat ucapan Prabowo mengindikasikan ketidaklayakan ujarannya tersebut.

Ujaran seperti itu, masih kata Giwo, berpotensi dipolitisir sehingga bisa runyam dan di sisi lain berpotensi menciderai sebuah komunitas kedaerahan.

“Jadi, secara general saya ingin mengatakan dalam konteks kualitas pemimpin dan kepemimpinan, maka attitude kita sangat menjadi sorotan dan atribut yang mudah dinilai. Maka pilihannya hanya satu, lemah lembut, jujur dan setia serta ikhlas dalam berujar,” tukas Giwo Rubianto. (RN)