Yogyakarta, innews.co.id – Lebih dari 23 tahun ia malang melintang sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).  Pun ia telah menangani tugas-tugas kenotariatan di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, di lingkup organisasi INI dan IPPAT, berbagai jabatan strategis pernah ia duduki. 

Di kalangan rekan-rekannya, sosok Dr. Irwan Santosa, SH., M.Kn., dikenal sebagai notaris senior. Baginya, bekerja sebagai notaris adalah sebuah kebanggaan. Notaris adalah jabatan kepercayaan yang mengemban sebagian wibawa negara, khususnya di bidang hukum keperdataan.

“Undang-undang mensyaratkan, kalau ingin membuat akte otentik yang berwenang itu hanya notaris. Bukan Presiden, Menteri, Gubernur, atau lainnya,” ujar Irwan saat ditemui di sela acara PraKongres INI di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Dikisahkan, saya sejak awal memang tertarik dengan dunia notaris. Lepas SMA, 1983, saya meneruskan kuliah hukum di FH UKI, Jakarta. Selama kuliah saya bekerja di Kantor Notaris Sudarno. Alasannya, kerja notaris tidak berisik. Dari sisi fee lumayan besar. Tidak itu saja, dari semua profesi hukum, notaris yang paling ringan, aman, sepanjang mengikuti standar dan prosedurnya. “Kita hanya menyaksikan para pihak menuangkan kehendaknya. Lalu, kita tuangkan dalam akta, disetujui,” jelasnya.

Jalan berliku

Jatuh bangun pernah ia alami sepanjang menjalani profesinya. Termasuk ia pernah diperiksa pihak kepolisian karena akta yang ia tangani.

Namun, Irwan mengaku, selama lebih dari 23 tahun berkarir lebih banyak suka dari dukanya. Salah satunya soal fee yang variatif. “Pas dapat fee yang bagus, saya suka berpikir, modal notaris tidak besar, tapi yang didapat lumayan besar dan bisa membuat hidup tersenyum,” ujarnya sembari terbahak.

Begitu lama karirnya tak heran lantai 4 rumahnya khusus dijadikan tempat penyimpanan protokol. 

Jam terbang yang sudah begitu tinggi membuatnya kerap dimintai saran dan masukan demi kemajuan organisasi. Sampai kini, Irwan duduk Ketua Bidang Organisasi di PP IPPAT. (RN)