DR. John N. Palinggi, MM., MBA., pengusaha dan pengamat nasionak bicara makna Natal di ruang kerjanya, di Jakarta, Jumat (13/12/2019)

Jakarta, innews.co.id – Melalui kelahiran Yesus, kita umat yang percaya pada-Nya dipesankan tidak boleh takut dan khawatir dalam menghadapi kehidupan ini dengan segala dinamika yang terjadi.

Ada suka dan duka. Ada gelak tawa dan air mata. Ada keberhasilan dan kegagalan. Semuanya silih berganti dialami manusia di 2019 ini. Itulah dinamika kehidupan manusia. Persoalannya, apakah kita tetap mampu berdiri kokoh melalui semua itu? Sebab manusia yang unggul harus siap menerima kenyataan-kenyataan hidup seperti itu. Bila dikasih susah, jangan menggerutu atau bersungut-sungut, apalagi sampai meninggalkan Tuhan. Dan, bila dikasih senang, jangan sombong atau jumawa.

Menurut DR. John N. Palinggi, MM., MBA., pebisnis sekaligus pengamat nasional, harus diyakini bahwa semua itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang terbaik dalam kehidupan ini. “Saya pun merasakan semua itu di 2019 ini. Dan, saya percaya, hari ke hari, Tuhan membentuk hati, pikiran, dan diri saya begitu rupa,” kata John di ruang kerjanya, Jumat (13/12/2019) siang.

Melalui Natal, tambah John, kita bisa memaknai agama secara utuh. Artinya, tidak hanya mengikuti perayaannya, tapi juga memahami esensi dari perayaan Natal tersebut. “Jangan takut dan khawatir menghadapi hidup ini. Karena kita tahu, Tuhan yang kita sembah itu luar biasa. Karena itu, kalau masih ada yang takut dan khawatir dalam hidup, dia termasuk kelompok pendosa,” ujar John keras.

Dinamika hidup pun ia rasakan dalam bisnis yang ia jalani lebih dari 31 tahun tersebut. “Pasti ada fluktuasi dalam bisnis, tapi itu harus dimaknai sebagai sebuah proses yang akan mendewasakan kita,” imbuh John.

Apa resep John dalam menjalani bisnis, menghadapi badai dan melewati kondisi susah senang? “Saya selalu memelihara hati. Saya selalu pegang betul firman, ‘Peliharalah hatimu, karena disitu terpancar kehidupan’. Mungkin ada saat kita jatuh, tapi cepatlah sadar,” paparnya.

Bisa bertahan dalam bisnis, intinya bagu John, adalah memperluas hubungan. “Begitu juga saat bersentuhan dengan orang lain, maka sikap, perilaku, layanan saya harus memberikan yang terbaik. Berbuat yang terbaik apa adanya, tanpa memandang semua orang itu sama, tidak ada yang beda. Mau ketemu Presiden atau rakyat biasa, semuanya sama. Keindahan hubungan kita dengan orang lain menjadi salah satu ukuran besarnya berkat yang Tuhan berikan,” ungkap Sekretaris Jenderal BISMA, sebuah wadah kerukunan antar-umat beragama ini.

John menambahkan, begitu juga terhadap pemimpin negara, kita harus hormat, karena tidak ada pemimpin yang tidak berasal dari Tuhan. “Jangan suka menghakimi sesama. Itu hak Tuhan,” serunya.

Ada berbagai filosofi John dalam melakoni bisnisnya yakni, “Kalau kau minum harus tahu sumber airnya. Pelihara sumber air itu, jangan dikotori. Dengan kata lain, kita harus jujur, jangan suka menipu. Sekali menipu, maka selesai hidup kita. Juga filosofi, seribu teman tidak cukup, satu musuh sudah terlalu banyak,” tandasnya.

Bicara menipu, kata John, punya banyak anak, diantaranya, tidak dipercaya orang, dipecat, bekerja tidak tenang, bangkrut, dan lain sebagainya. “Kelihatannya enak saat menipu, tapi sesungguhnya kita lagi sesak napas,” urainya.

Kedisiplinan John begitu kentara. Setiap harinya, John selalu hadir di kantor pagi-pagi dan pulang larut malam. Bahkan di rumah pun terkadang ia masih bekerja. “Jangan jadi pemalas. Firman Tuhan katakan, seorang pemalas tidak boleh makan. Bekerjalah dengan energik karena Tuhan pasti bukakan pintu-pintu berkat,” yakin John.

Bahkan, dengan keras John mengatakan, jangan kita suruh Tuhan bekerja, sementara kita hanya bermalas-malasan. Bekerjalah dengan giat dibarengi doa yang tiada berkesudahan.

Ketika persoalan muncul, John biasanya mengambil waktu untuk berdoa. Uniknya, solusi selalu ia dapatkan. “Saya menikmati bisnis dalam segala pergumulan. Dalam segala hubungan dengan sesama, selalu saya andalkan Tuhan,” kata John lagi.

Demikian juga, sebagai pemimpin, John dikenal sebagai sosok yang kebapakan, sekaligus sebagai sahabat bagi karyawan-karyawannya. Tak heran, ada karyawannya yang sudah 31 tahun bekerja bersama John. “Saya sadar, karyawan-karyawan adalah titipan Tuhan yang harus saya jaga dan sejahterakan. Tapai kalau salah pun saya tegur mereka,” serunya.

John membuka kasih bocoran bahwa ada 3 ciri sikap pemimpin yang baik terhadap karyawannya yakni, menjadi teman dan sahabat dengan kata lain tidak ada jarak. Lalu, sebagai orangtua. Kalau karyawan ada masalah, kita bantu carikan solusinya. Terakhir, sebagai pimpinan, kalau karyawan salah, kita tegur dengan baik-baik dan diberi bimbingan.

Harus diyakini bahwa hari esok pasti lebih baik. “Disisi lain, kita juga harus terus memperbaiki diri. Apa-apa kekurangan kita harus dibenahi. Pergilah berkarya agar menghasilkan. Jangan hanya banyak orang, tapi kerja tidak mau,” cetus John.

Dia mengajak segenap umat Kristiani untuk memaknai Natal sebagai sebuah harapan dan semangat baru, sehingga di tahun 2020 kita harus memastikan diri kita menjadi pribadi yang produktif. Pesan Natal lainnya, lanjut John, kalau mau memperoleh sesuatu yang baik di tahun 2020, maka setiap orang harus berubah kearah yang lebih baik. Jangan berkubang pada sesuatu yang tidak baik di mata Tuhan. Yakinlah, sukacita akan diperoleh. (RN)