Dr. John N. Palinggi, MBA., pengamat sosial politik

Jakarta, innews.co.id – Jelang pendaftaran Calon Presiden – Wakil Presiden RI, situasi politik mulai memanas. Setiap hari masyarakat disajikan dengan berbagai hal, mulai dari komentar-komentar dari politisi, pengamat, dan sebagainya dengan beragam analisanya. Pun sejumlah partai politik (parpol) giat bergerilya, melakukan pertemuan-pertemuan untuk mematangkan siapa calon yang akan diusung.

Mengenai hal ini, pengamat sosial politik ternama sekaligus pengusaha kondang Dr. John N. Palinggi, MBA., di kantornya dengan luas berujar, “Itu hal biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Ada parpol yang merasa bisa mengusung cawapres, atau kelompok lain yang juga demikian. Yang paling penting lontaran kata-kata itu memiliki nuansa seperti jangan sampai terkesan melindungi perbuatan-perbuatan buruk di masa lalu”.

John mengaku banyak melihat cawapres yang mau diusung ini punya track records buruk di masa lalu, tapi mau mencalonkan diri menjadi wakil presiden. “Tidak usah terlalu ribut. Nanti pada saatnya justru kelelahan. Masyarakat jangan dibawa suasana hiruk-pikuk. Kalau sudah kelelahan, nanti pada waktunya justru tidak bisa berbuat apa-apa,” imbuhnya.

“Perlu ada strategis khusus yang bersifat silent operation. Sebab, nanti belum masuk masa kampanye sudah menimbulkan permusuhan satu dengan yang lain. Ini harus dicegah. Jangan sampai ambisi kekuasaan masing-masing justru meruntuhkan rasa persaudaraan di antara orang-orang yang mau mengabdi bagi bangsa dan negara. Simpanlah ambisi itu, bicara secara tertutup,” saran John.

Silahkan mengajukan calon. Pada akhirnya, Presiden juga yang akan menentukan siapa wakil yang tepat untuknya. “Presiden jangan dipaksa memilih seseorang yang memang tidak tepat dihatinya. Karena itu bisa menjadi ganjalan selama 5 tahun nanti. Terserah Presiden saja. Mau pilih dari parpol atau diluar, silahkan saja,” tandas John.

Begitu juga soal pencitraan, menurut John, tidak perlu. Kembali semua itu berpulang pada bagaimana hati Presiden. “Tidak perlu mencari muka Pak Presiden lewat baliho, iklan dan sebagainya. Pak Presiden juga harus waspada melihat orang-orang yang tiba-tiba datang mendukung dengan pamrih,” seru John.

Soal kemungkinan hanya dua pasang capres-cawapres, menurut John, ya itu ideal saja. Maksimal 3 pasang, kalau memang ada. “Tapi dengan dua pasang calon jauh lebih baik. Karena yang kalah bisa dirangkul menjadi menteri. Bisa jadi keluarga dari pasangan yang kalah akan ditaruh di salah satu pos menteri,” tandasnya. (RN)