Dr. R.E. Nainggolan, MM., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nusantara Untuk Jokowi (N4J)

Jakarta, innews.co.id – Kejadian mengenaskan yang dialami Menkopolhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, seolah menjadi cermin kelompok radikal sudah kian mengganas dan nekat. Bahkan, di tempat umum sekalipun, mereka mempertontonkan aksi brutal.

Tentu ini melahirkan kekhawatiran bagi banyak orang. Terlebih jelang pelantikan Presiden-Wakil Presiden, disinyalir intensitas pergerakan kelompok-kelompok radikal semakin tinggi.

Menyikapi kondisi demikian, Dr. R.E. Nainggolan, MM., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nusantara Untuk Jokowi (N4J) saat dihubungi innews, Sabtu (12/10/2019) malam mengatakan, “Kita semua harus waspada dengan tindakan brutal seperti itu. Bahkan kita saksikan ada yang bunuh diri dengan membawa bom dan lainnya”.

Nainggolan menilai, akar masalahnya antara lain bahwa pendidikan budi pekerti, penghayatan persaudaraan, kemanusiaan tanpa melihat latar belakang tidak lagi menjadi pedoman hidup saat ini. “Bahkan sangat jelas telah terjadi pengkotak-kotakan latar belakang, khususnya agama,” kata Nainggolan.

Guna meredam hal tersebut, menurut Nainggolan, negara harus tampil didepan. “Pemerintah harus berani menegakkan hukum. Jangan lihat orangnya, tapi perbuatannya,” serunya.

Sementara itu, bicara aksi demonstrasi yang rumornya akan berlangsung besar-besaran saat pelantikan Presiden-Wapres nanti, Nainggolan tidak terlalu mengkhawatirkan.

“Demo bisa saja, asal jangan anarkhis. Harus beretika dan tidak brutal. Menyampaikan pendapat secara benar, bukan menghina-hina pemimpin atau aparat keamanan,” ujarnya.

Nainggolan berkeyakinan aparat kepolisian dan militer akan mampu menangani aksi demo, bilamana itu terjadi. “Kita percayakan pada aparat keamanan. Mereka akan mampu mengantisipasi segala hal yang berpotensi menghalangi pelantikan Presiden-Wakil Presiden nanti,” yakin Nainggolan. (RN)