Mataram, innews.co.id – Kopi merupakan minuman yang tetap diminati oleh masyarakat di seluruh dunia. Dan, Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia.

Guna mendukung pengembangan industri kopi nasional, Kementerian Koperasi dan UKM menggelar Temu Bisnis Peningkatan Kerja Sama dan Jaringan Usaha Koperasi Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Kegiatan ini diadakan guna mendorong pembangunan industri kopi, sekaligus melibatkan partisipasi aktif bisnis KUKM dalam proses industri kopi nasional.

Data International Coffee Organization (ICO) menunjukkan bahwa konsumsi kopi dunia pada periode 2016/2017 tumbuh 1,9 persen menjadi 157,38 juta karung. Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor kopi nasional pada 2017 tumbuh 12,56 persen menjadi 464 ribu ton dari tahun sebelumnya.

“Tumbuhnya konsumsi kopi global tentunya memberikan dampak positif bagi Indonesia yang merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua dunia,” ujar Plt Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kementerian Koperasi dan UKM, Rosdiana V Sipayung di Mataram, beberapa waktu lalu.

Demikian pula nilai ekspornya naik 17,48 persen menjadi US $ 1,18 miliar atau sekitar Rp15,9 triliun. Ekspor kopi Indonesia terbesar tercatat pada tahun 2013 yakni mencapai 532 ribu ton. Amerika Serikat (AS) merupakan pasar kopi terbesar bagi Indonesia, disusul Malaysia, Jerman, Italia, Rusia, dan Jepang.

“Tidak kurang dari 63 ribu ton atau sebesar 13 persen dari total ekspor kopi nasional dikirim ke AS dengan nilai mencapai US$ 256 juta,” katanya.

NTB memiliki komoditas unggulan perkebunan, salah satunya kopi. Kopi yang tumbuh dan berkembang diantaranya jenis Kopi Arabica, dan Kopi Robusta. Untuk kopi arabica memiliki citra rasa specialty terdapat di lereng Gunung Rinjani Lombok Timur dan di Tepal Sumbawa.

Sedangkan untuk jenis Kopi Robusta terdapat di hampir semua kabupaten di seluruh NTB seperti Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Utara, Dompu, dan Kabupaten Bima.

Produksi kopi daerah NTB tahun 2015 tercatat sebesar 4.762 ton, merupakan potensi yang cukup besar untuk dilakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat dan penyerapan tenaga kerja dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Sementara itu, Asisten Deputi Industri dan Jasa Ari Anindya Hartika mengatakan Temu Bisnis ini merupakan media untuk memperluas jaringan usaha serta kemitraan antara Koperasi dan UKM pengelola kopi dengan mita (caffee) serta kerja sama antar-koperasi, pelaku usaha kopi yang pada saatnya nanti akan melakukan ekspor kopi.

Temu Bisnis ini juga menghadirkan narasumber dari Asosiasi Kopi Spesialis Indonesia (ASKSI), Wangi-Wangi Coffe Roastery NTB dan Kisah Sukses KSU Puncang Ngengas – Sumbawa dalam mengelola kopi berbasis EBT, serta diikuti oleh 40 peserta dari UKM kopi. (RN)