St. Edison Manurung, SH., MM., Ketua Umum Komite Danau Toba (kanan) bersama DR. Ir. Benny Pasaribu, M.Ec., Dewan Pembina KDT saar dijumpai di Jakarta, Rabu (18/9/2019)

Jakarta, innews.co.id – Sejatinya marga-marga (klen) yang melekat pada masyarakat Batak adalah stakeholders di Kawasan Danau Toba. Karena itu, terkait pengembangan Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia, pemerintah pusat dan daerah harus menggandeng marga-marga dalam kaitan memberi masukan dan inspirasi agar tidak hanya kian mendunia, tapi juga kearifan lokal bisa tetap lestari.

Hal ini dikatakan tokoh Batak DR. Ir. Benny Pasaribu, M.Ec., dalam perbincangan dengan innews di bilangan Sudirman, Rabu (18/9/2019) malam. Menurut calon Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan RI ini, marga-marga sebagai kelompok masyarakat yang harus juga diajak oleh pemerintah atau Badan Otorita Danau Toba (BODT) untuk diajak berdiskusi, memberikan gagasan seperti apa pengembangan yang diharapkan.

Pertemuan panitia dan para tokoh Batak berkaitan acara Deklarasi Marga-marga Dalam Mendukung Pengembangan Danau Toba menjadi Wisata Dunia

“Utamanya soal hospitality. Jadi, bagaimana membangun kesadaran masyarakat di sana akan pentingnya menjaga kebersihan, menata lingkungan, dan sebagainya yang tujuannya agar wisatawan yang datang bisa merasa nyaman,” kata Benny.

Dikatakannya, para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat diajak bersama-sama. Sebab, para tokoh tersebut bisa menyampaikan hal-hal yang baik kepada masyarakat tentang program pemerintah.

Edison Manurung tampak mendampingi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani saat Pembekalan Anggota DPD RI di Hotel Ritz Carlton, Jakarta

Ditambahkannya, dalam banyak hal seringkali pemikiran para tokoh dan masyarakat lebih simple daripada apa yang dipikirkan oleh birokrat. “Kadangkala yang dipikirkan para birokrat lebih rumit, tapi bagi warga ternyata sangat sederhana,” lanjut Benny yang juga Dewan Pembina Komite Danautoba.

Dari beberapa kali perjalanan Benny ke kawasan Danau Toba, bahkan sampai ke kampung-kampung, ternyata banyak warga menginginkan agar situs-situs peninggalan nenek moyang harus dipertahankan, namun bisa di lokasi itu bisa dilengkapi dengan toilet, tempat-tempat orang minum kopi, tempat menjual produk atau kerajinan lokal, dan lainnya.

“Dengan begitu, maka turis bisa lebih berlama-lama di daerah tersebut. Jadi, masyarakat pun kebagian rejeki. Tempat kuliner jangan dilokalisir, biarkan tersebar mengikuti situs-situs yang ada,” kata Benny.

Pertemuan pengurus dan dewan pakar Komite Danau Toba

Sementara itu, Edison Manurung, SH., MM., Ketua Umum KDT mengatakan, dalam kaitan mendukung pengembangan kawasan Danau Toba, KDT menginisiasi pertemuan marga-marga, utamanya yang berada di kawasan Danau Toba.

Harapannya, melalui kegiatan ini dapat dilahirkan dukungan penuh terhadap program Presiden Jokowi dalam upaya membangun Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia.

Rencananya, pertemuan marga-marga akan diadakan di Jakarta, 29 September 2019 ini. Selain para ketua-ketua marga, juga akan dihadiri Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Menteri Pariwisata Arif Yahya, Gubernur Sumut, para Bupati/Wali Kota di sekitar Danau Toba, Ketua BODT, dan tokoh-tokoh agama.

Edison berharap melalui acara ini, para marga bisa meneruskan sosialisasi, utamanya kepada masyarakat tiap marga sehingga bisa lebih memahami program-program Presiden Jokowi. “Kalau masyarakat bisa mengerti program pemerintah, maka realisasinya akan lebih mudah,” tandasnya.

Usai deklarasi, Edison menambahkan, pihaknya akan langsung terjun ke kawasan Danau Toba untuk mensosialisasikan. Disamping itu, deklarasi juga nantinya akan disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi. (RN)