Ketua Umum Komite Danau Toba (KDT) dalam sebuah perbincangan menarik di FX Sudirman, Jum'at (2/11/2019)

Jakarta, innews.co.id – Pendirian Universitas Tapanuli Raya diyakini adalah sebuah keniscayaan untuk memajukan sumber daya manusia (SDM) di wilayah Tapanuli dan sekitarnya.

Keyakinan ini disampaikan secara lugas oleh Edison Manurung, SH., MM., Ketua Umum Komite Danau Toba (KDT) dalam sebuah perbincangan menarik di FX Sudirman, Jum’at (2/11/2019) lalu. Menurutnya, KDT mendorong pendirian Universitas Tapanuli Raya (Unitara) serta meminta Pemerintah Pusat untuk mempercepat perizinannya.

Edison menguraikan, Unitara akan berpusat di Tarutung, Tapanuli Utara. Namun, fakultasnya di bikin di beberapa wilayah lain. Misal, untuk Fakultas Pariwisata di Samosir, Fakultas Pertanian di Humbang Hasundutan, Fakultas Teknik di Tobasa, begitu seterusnya.

“Dengan adanya fakultas yang tersebar, sekaligus akan menggerakan perputaran ekonomi di daerah tersebut. Misal, mahasiswa akan kost di daerah tersebut, juga akan hidup dan makan di daerah tersebut. Jadi, ada perputaran ekonomi disitu dan bisa mensejahterakan masyarakat sekitarnya,” terang Edison yang juga mantan Ketua DPP KNPI 2 periode ini.

Ditambahkannya, pada November ini, pihak KDT akan melakukan Focus Group Discussion (FGD) di Tarutung yang akan mengkaji secara akademik lebih jauh soal pendirian Unitara ini, selain akan melantik Pengurus KDT di Taput.

“Pendirian Unitara menjadi salah satu fokus perjuangan KDT disamping persoalan lain seperti keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba,” tegas Edison.

Hal lain yang akan dibahas dalam FGD adalah mengenai pencemaran Danau Toba. Hasil kajian akademik akan diberikan ke Presiden Jokowi untuk bisa membuat keputusan.

Edison memastikan, KDT akan siap melawan siapapun yang berusaha mengotori Danau Toba. “Presiden Jokowi telah memperjuangkan Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia. Kebersihan danau perlu dijaga, bukan malah dikotori,” ujar Edison.

KDT dibawah kepemimpinan Eduson tampak begitu serius terhadap perkembangan pembangunan kawasan Danau Toba menuju wisata mendunia. Salah satu alasannya adalah dimana pemerintah tidak bisa sendiri melakukan hal ini. Partisipasi aktif dari masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan lainnya juga harus nyata. Karenanya, KDT berusaha menjembatani hap tersebut.

Selain itu, Edison mengatakan, sebagai orang Batak, perlu menjaga kearifan lokal agar tidak punah tatkala diserbu wisatawan mancanegara. (RN)