Andrijani Sulistiowati, SH., MH., Ketua Bidang Kerjasama Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (KAUnsoed) saat ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (8/8/2019) siang

Jakarta, innews.co.id – Radikalisme di kampus-kampus bukan barang baru. Namun, kemajuan teknologi, membuat gerakan tersebut dengan mudah diidentifikasi dan menjadi tren.

Gambaran ini disampaikan, Andrijani Sulistiowati, SH., MH., (50 tahun) Ketua Bidang Kerjasama Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (KAUnsoed) saat ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (8/8/2019) siang.

Dijelaskannya, dulu, di eranya, dikembangkan kegiatan Latihan Dasar Keprajuritan (LDK), biasanya dilakukan saat liburan Semester I, sekitar bulan Januari. “Kegiatan yang berlangsung 3 mingguan tersebut menjadikan para mahasiswa memiliki jiwa, karakter, dan mental yang kuat serta rasa cinta Tanah Air,” ujarnya.

Sebelumnya juga ada Latihan Dasar Kemiliteran (Ladasmil) yang nampaknya lebih keras lagi latihannya.

Sejak era reformasi, LDK ditiadakan. “Kami dari alumni sebenarnya sudah meminta pihak universitas untuk menghidupkan kembali LDK karena sangat dirasakan manfaatnya,” ujar Andrijani.

Lebih jauh Andrijani mengatakan, dulu, kurang begitu kelihatan seseorang yang tergolong radikal. Namun, memang di Unsoed hal seperti itu tidak kelihatan.

Kehadiran radikalisme di kampus-kampus akhir-akhir ini memang cukup mengkhawatirkan. Karena itu, menurut Andrijani, pihak universitas harus selektif dalam menerima mahasiswa. Juga lebih mengaplikasikan mata kuliah seperti Kewarganegaraan atau sejenisnya.

“Sebagai mahasiswa, tidak usah neko-neko. Tugas utamanya belajar atau berkegiatan yang berguna bagi nusa dan bangsa,” imbuhnya.

Selain itu, pihak kampus harus selektif melihat kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Juga merangkul para mahasiswa dan harus sering-sering hadir memberi bimbingan, nasihat, dan arahan kepada para mahasiswa. Demikian juga para alumni di tiap fakultas harus proaktif melakukan pendekatan kepada juniornya.

“Para mahasiswa harus diberi pemahaman bahwa dengan ikut kegiatan-kegiatan radikal, selain tidak berguna untuk dirinya pribadi, juga merugikan orangtua, menjelekkan nama universitas, dan tidak baik untuk lingkungan sosial,” kata Andrijani yang lulusan Fakultas Hukum Unsoed ini.

Kepada para mahasiswa, Andrijani mengharapkan, untuk selalu meluangkan waktu untuk belajar, rajin ke perpustakaan, atau berdiskusi yang konstruktif dengan rekan-rekan. Juga bisa memanfaatkan UMKM di kampus sehingga bisa melahirkan spirit enterpreneurship. Aktif di organisasi, seperti BEM, dan sebagainya.

Selain itu, bisa lebih sering berkomunikasi dengan alumni untuk sharing-sharing. Atau bisa juga mengundang alumni sebagai pembicara dalam sebuah diskusi. Dengan begitu, maka bisa diminimalisir gerakan-gerakan radikalisme di kampus. (RN)