Jakarta, innews.co.id – Perjalanan panjang telah dilalui Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) dalam eksistensinya di persada nusantara. K3 sendiri adalah wadah bagi masyarakat asal Sulawesi Utara—Minahasa pada khususnya di perantauan sebagai tempat berhimpun, berpendapat, berkarya, dan berinteraksi. 

Khususnya di Jakarta, sebenarnya sejak tahun 1970 sejumlah tokoh yang berasal sekeliling Danau Tondano membentuk Pinasungkulan Ne Tondano.

Setahun berikutnya digelar acara akbar bertajuk ‘Semalam Suntuk di tepi Danau Tondano’ yang diketuai oleh Benny Tengker yang berjalan dengan sukses.

Baru pada 21 Mei 1973, wadah Pinasukulan Ne Tondano berganti nama menjadi Pinasungkulan Ne Kawanua. Seiring waktu, nama itu berganti menjadi Badan Koordinasi dan Pengembangan Kawanua yang selanjutnya Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) seperti yang ada sekarang ini.

Untuk pertama kali diadakan Musyawarah Perwakilan Anggota Pertama (MPA I), tahun 1986. Hingga kini, MPA telah dilakukan sebanyak 8 kali. Terakhir diadakan pada 19 November 2016 di Auditorium Kampus Ungu IBM ASMI, dimana terpilih Angelica Tengker-Hahijary sebagai Ketua Umum dan Michael R.O. Lakat (Sekretaris Jenderal). Para pengurus pusat periode 2016-2021 dilantik pada 8 April 2017.

Tidak itu saja, K3 juga telah resmi terdaftar sebagai ormas yang bergerak di bidang Adat dan Budaya sesuai surat keterangan terdaftar (SKT) Nomor.01-00-00/232/XII/2017 tanggal 28 Desember 2017. 

Gebyar pengabdian

Sejak dulu, orang Minahasa atau juga dikenal dengan istilah Tou Kawanua gemar merantau. Tidak hanya di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Meski begitu, di perantauan, spirit kekeluargaan tetap terjaga. Tak heran, kebanyakan orang Minahasa membentuk kerukunan-kerukunan keluarga berdasarkan fam atau marga (Taranak) atau kampung (Roong). Seperti yang juga ada di Jakarta, bernama K3.

Pada 21 Mei 2018 nanti, K3 genap berusia 45 tahun. Ini adalah waktu yang panjang sebagai bagian dari pengabdian organisasi warga Kawanua di tanah rantau. 

Guna merayakan hal tersebut, maka akan diadakan “Gebyar 45 Tahun KKK Mengabdi”, yang akan diadakan 25-27 Mei 2018. Pembukaan akan diadakan di Anjungan Sulawesi Utara TMII, dan dua hari lainnya diadakan di Plenary Hall, Convention Center (JCC). 

Ditemui di sela-sela rapat panitia, Selasa, (15/5) di ASMI, Jakarta, Mayjen TNI Ivan R. Pelealu, SE., MM., Ketua Panitia yang didampingi para panitia di antaranya Michael R.O. Lakat, Revli Orelius Mandagie Bendahara Umum DPP K3 menjelaskan acara tersebut disajikan dalam bentuk pagelaran budaya Minahasa, ekspo industri kreatif dan pariwisata Sulawesi Utara.

Menurut Ivan, pagelaran budaya nanti juga akan dibarengi dengan Perayaan Paskah. Sebelumnya, juga telah dilakukan pengobatan gratis dan pemberian sumbangan ke panti asuhan. Akan ditampilkan juga pameran fotografi perjalanan 45 tahun K3, lomba fashion show kain asal Sulut, lomba palakat bahasa daerah, lomba kuliner khas Minahasa, pagelaran budaya sembilan pakasaan, serta seminar kolintang untuk dunia.

Ternyata 45 tahun memiliki makna tersendiri bagi Ivan. “Indonesia kan merdeka tahun 1945. Jadi itu menjadi angka keramat juga disamping kita maju menyajikan sebuah perjalanan panjang K3,” jelas Ivan.

Even ini juga, bagi Ivan merupakan bahan refleksi dari perjalanan K3. Kepada generasi muda, ini menjadi penting, agar tetap bisa mengingat akar budaya Minahasa. Sehingga generasi muda Minahasa tetap memiliki identitas dan akar budaya dan tidak mudah dimasuki budaya-budaya dari luar. “Kita berkumpul dalam konteks budaya, tidak ada membawa politik-politik,” tandasnya.

Ini juga menjadi sarana interaksi di antara sesama anggota K3 yang ada di perantauan. “Melalui kegiatan ini kita menghidupkan kembali budaya gotong royong (mapalus) sehingga bisa saling membantu satu sama lain,” kata Ivan seraya mengingatkan semua pihak untuk bisa menaruh kepedulian terhadap kampung halaman.

Untuk membuka acara tersebut diharapkan Gubernur Sulut Olly Dondokambey. Panitia sendiri tengah mengupayakan para tokoh nasional, termasuk Menteri Pariwisata.

Ivan berharap lewat acara ini selain mengingatkan kembali akar budaya, juga bisa saling mengenal sehingga bisa bersama memanusiakan manusia.

Sementara itu Revli menambahkan, acara ini juga merupakan bagian dari upaya membantu Pemerintah Provinsi Sulut untuk memajukan budaya dan pariwisata. “Saat ini Pemerintah Sulut tengah giat-giatnya membangun, kita sebagai paguyuban harus ikut serta membantu lewat kegiatan-kegiatan yang bersentuhan dengan ekonomi,” jelasnya.

Ditambahkannya, sebagai orang yang tinggal di perantauan, bukan berarti kita tidak bisa berbuat untuk kampung halaman. “Pemerintah sekarang sudah berusaha maksimal membangun daerah, sayang kalau tidak bisa kita isi dengan berbagai kegiatan ekonomi,” ujar Revli yang juga Ketua Koperasi Pakasa’an Ma’tuari Tombulu ini.

“Kita berharap di era maju sekarang ini budaya tetap menjadi indikator yang bisa mempersatukan banyak orang. Warna kita boleh beda, tapi lewat kegiatan budaya kita bisa bersama-sama,” imbuhnya. 

Revli berharap warga Minahasa khususnya dan Sulut pada umumnya bisa bersama-sama menghadiri acara ini. Sayang untuk dilewatkan. (RN)