Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi bersama Asisten Deputi Keanggotaan Deputi Bidang Kelembagaan Untung Tri Basuki, Kepala Bagian Koordinasi Peraturan Perundang-undangan Hendra Saragih dan Ketua Asosiasi Tech Startup Handito Joewono berfoto bersama setelah membuka acara diskusi dengan tema Koperasi Era Industri 4.0 di Bogor, Jawa Barat, Rabu(25/04/2018).

Bogor, innews.co.id – Dengan jumlah koperasi yang mencapai 150.000 dan anggota lebih dari 35 juta, koperasi menjadi salah kekuatan besar di negara ini. Seiring kemajuan teknologi, sudah selayaknya koperasi didorong menjalankan kinerja berbasiskan teknologi. Ini sejurus dengan Gerakan Koperasi Nasional yang ‘tiada hari tanpa IT bagi gerakan koperasi’.

Menurut Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi, dalam diskusi bertema ‘Koperasi Era Industri 4.0/Rebranding Koperasi’, di Bogor, Rabu (25/4), “Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan bersama bagi gerakan koperasi di era milenium. Bagaimana agar anak-anak muda jaman sekarang lebih tertarik berkoperasi daripada menjadi pekerja kantoran atau pegawai negeri yang masuk ‘jaman angkatan bapak saya’.”

Zabadi menambahkan, Koperasi 4.0 memang lebih menyasar generasi milenial. Terlebih para start-up (wirausaha pemula) lebih didominasi kalangan anak muda yang lebih melek teknologi. Karenanya, diharapkan para generasi Y ini juga mampu mengajak anak muda lainnya untuk ikut berkoperasi.

Sementara itu, pembicara lain Asisten Deputi Keanggotaan Koperasi Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Untung Tri Basuki mengatakan, sebenarnya menteri koperasi sejak menjabat sudah minta agar koperasi harus digitalisasi, mengikuti perkembangan teknologi. Karena dari segi regulasi perkoperasian pun tidak ada masalah.

Menurutnya, bagi pelaku usaha koperasi, penggunaan teknologi digital akan memberi keuntungan. Di antaranya, bisa sebagai sumber pendapatan layanan jasa yang diperoleh jika koperasi menyediakan layanan transaksi anggota seperti untuk mengisi pulsa seluler, pembayaran PAM, listrik, dan lain-lain, termasuk untuk membayar simpanan pokok dan wajib yang bisa dilakukan anggota dengan mengetikkan ujung-ujung jari di atas keyboard laptop atau ponsel. “Dengan cara ini, anggota tidak perlu repot-repot datang ke kantor koperasi yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal, terutama untuk koperasi yang berada di luar Jawa,” ujarnya.

Ditambahkannya, dalam Permenkop No. 2 tahun 2017 membolehkan digitalisasi koperasi. Karenanya, mindset kepengurusan koperasi juga harus diubah seiring perkembangan teknologi. Tidak lagi hanya ketua, sekretaris dan bendahara. Kepengurusan seperti ini yang membuat koperasi menjadi kurang maksimal.

“SDM yang berkualitas tentunya menjadi modal utama membangun kondisi internal yang baik serta mampu menjadikan koperasi lebih sehat, mandiri dan tentunya berkualitas,” jelasnya.

Sementara itu, Handito Joewono, mengatakan Revolusi Industri 4.0 atau Koperasi dan UKM 4.0 relevan di jaman sekarang ini. Dengan penerapan teknologi juga dapat menarik anak-anak muda untuk ikut berkoperasi. Jadi ada semacam gerakan Koperasi 4.0 yang sangat efektif mengembangkan koperasi menjadi lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 atau Koperasi 4.0 yang dihadapi saat ini sudah masuk dalam era serba internet. Karena itu, semua pihak—pemerintah, pengusaha, koperasi, pekerja, harus siap dalam menghadapi perubahan yang sedang terjadi saat ini. (RN)