Jakarta, innews.co.id – Kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki menjadi penguatan dan keunggulan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) dalam keberadaannya di persada ini.

Upaya saling bahu membahu, saling melengkapi dan menjadi mitra sejati antara kaum perempuan dan laki-laki membuat Matakin begitu berkibar dalam beragam aktifitas sosial keagamaan.

Rasa saling melengkapi yang begitu kuat pula yang membuat banyak pihak menilai sejatinya Matakin dipimpin oleh perempuan setelah sebelumnya dipercayakan kepada kaum pria.

Menanggapi animo umat Matakin yang begitu besar terhadap hadirnya pemimpin perempuan, innews coba mengkonfirmasi kepada Ketua Umum Perempuan Khonghucu Indonesia (Perkhin) Gianti Setiawan.

Rombongan ziarah ke Makam Nabi Khongzi lokasi Nishan Qufu Shandong

Menurut Gianti, “Tidak masalah bila Matakin dipimpin oleh seorang perempuan karena harus diakui ada banyak perempuan di Matakin yang punya kapasitas dan kapabilitas memimpin organisasi berskala nasional seperti Matakin”.

Gianti menambahkan, perempuan diizinkan memimpin lembaga tinggi karena dalam agama Khonghucu mempunyai konsep Yin Yang, dimana peran dan fungsi laki-laki & perempuan saling melengkapi selain sederajat (egaliter).

Pengurus Perkhin bersama Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Ibu Nasional di Raja Ampat, Papua, 22 Desember 2017

Bagi Gianti, intinya adalah bagaimana seorang pemimpin itu sanggup memimpin dengan bijaksana, penuh cinta kasih, berani, dapat memberi inspirasi sesuai perkembangan jaman serta tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan.

Menurut Gianti, dalam agama Khonghucu juga dikenal nabi perempuan, yakni Nabi Nuwa. Nabi Nuwa adalah perempuan pertama yang mengatur tentang tata peribadahan, hukum perkawinan, berbagai adat istiadat juga memperbaiki lingkungan alam.

Harus diakui, banyak hal baik yang bisa dilakukan sebuah organisasi bila dipimpin oleh seorang perempuan. Hal yang mengemuka adalah soal ketertiban, keteraturan, serta sikap yang mau melayani umat sampai ke level terbawah.

Mewakili Perkhin dalam dialog first lady Afghanistan bersama Ibu Shinta Nuriyah dan Ibu Menteri KPPA Yohana Yambise di Hotel Shangrila, Jakarta, 2017

Karena itu, mencermati dinamika jelang Munas Matakin di Jakarta, 20-22 Desember 2018 ini, dimana diharapkan bisa muncul sosok perempuan yang memimpin Matakin ini, kembali Gianti menegaskan, “Sangat mungkin seorang perempuan memimpin Matakin”.

Gianti juga menjelaskan, selama ini peran serta perempuan Khonghucu sangat besar dalam perkembangan Matakin. Terutama di bidang pendidikan sebagai guru-guru agama dan rohaniwan.

Selain itu juga dalam mengelola organisasi intern dan kiprah ekstern dengan menjalin komunikasi dan kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah, organisasi lintas agama dan lainnya.

Hal ini sejalan yang dilakukan Perkhin sebagai wadah kaum perempuan Tionghoa yang sejatinya dimandirikan ini punya seabreg kegiatan. Tidak hanya dilingkup Jabodetabek, tapi juga di daerah-daerah. (RN)