Perkhin komitmen melayani masyarakat, bangsa dan negara

Jakarta, innews.co.id – Sejak dibentuk 2002 dan berada di bawah naungan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Perempuan Khonghucu Indonesia (Perkhin) terus berkiprah di tengah masyarakat, bangsa, dan negara. Seabreg kegiatan dilakukan, salah satunya untuk mendorong para wanita Khonghucu mampu dan berani tampil di tengah masyarakat dalam memberikan pelayanan nyata.

Ditemui di daerah Karawang, Sabtu (28/7), Gianti Setiawan Ketua Umum Perkhin didampingi Pindawati Penasihat Perkhin dan Js. Ratnaningsih dari Sie Rohaniawati banyak berkisah mengenai bagaimana Perkhin berjuang dalam keeksisannya di tengah bangsa dan negara.

Perkhin berkegiatan di Singkawang, Kalimantan Barat

“Sejak awal terbentuk, Perkhin telah coba membumikan organisasi di tengah masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan, baik memenuhi undangan dari pemerintah terkait, maupun dari lintas agama,” terang Gianti yang telah dua periode duduk sebagai Ketua Umum Perkhin ini.

Dijelaskannya, Perkhin beranggotakan para perempuan Khonghucu dan memiliki cabang di tiap tempat peribadahan. “Biasanya kita memiliki koordinator di tiap tempat peribadahan. Gunanya sebagai perpanjangan tangan pengurus pusat agar bisa berkoordinasi dalam melakukan berbagai aktifitas,” jelas Gianti.

Baksos LBT Perkhin di Kampung Bulu, Citayam, Bogor, 22 Juli 2018

Ada berbagai kegiatan yang dilakukan Perkhin, salah satunya menyangkut pendidikan, seperti menggelar LBT (Leadership Basic Training) yang diperuntukkan bagi kaum perempuan untuk disiapkan, bukan saja menjadi pemimpin, tapi juga orang yang siap terjun di tengah masyarakat. Saat ini, Perkhin telah mengutus anggotanya untuk aktif di GOW (Gabungan Organisasi Wanita) di tingkat Kabupaten/Kota.

Selain pembekalan lewat LBT, Perkhin juga aktif menggerakan para anggotanya untuk meningkatkan kualitas diri secara ekonomi, lewat pemberdayaan UMKM. Menurut Pindawati, wanita Tionghoa itu kebanyakan jago masak. “Kita sudah coba menggerakkan para perempuan untuk bisa lebih maksimal lagi dalam menata bisnisnya,” terangnya.

Siapkan guru

Gianti menambahkan, Perkhin tidak hanya aktif di eksternal, tapi juga berkarya di internal. Mulai dari menyiapkan guru-guru Khonghucu yang nantinya bisa digunakan oleh sekolah-sekolah sampai hal-hal yang menyangkut peribadahan. “Sudah ada sekolah yang menggunakan guru agama Khonghucu, meski belum menyeluruh sifatnya,” tandas Pindawati.

Dikatakannya juga, ke depan, Perkhin juga menyiapkan program agar para anggotanya bisa berwirausaha dengan lebih baik.

Pengurus Perkhin bersama Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Ibu Nasional di Raja Ampat, Papua, 22 Desember 2017

Ditanya soal kendala, Gianti mengakui, sejauh ini hanya masalah waktu saja. Sebab, kebanyakan perempuan Tionghoa itu juga ada bisnis sendiri-sendiri yang juga menyita waktu.

Meski begitu, Gianti berkeyakinan bahwa ke depan Perkhin bisa mandiri. Dengan kata lain menjadi sayap perjuangan dari Matakin. “Kami sudah ditawarkan untuk mandiri sejak empat tahun lalu. Namun, saya masih melihat bagaimana kemampuan SDM di Perkhin. Jangan sampai sudah mandiri, tapi justru tidak berjalan semestinya,” ujar wanita cantik yang juga seorang pengusaha apotik di Karawang ini lugas.

Mengadakan tur Ziarah ke Kampung Nabi Khoncu/Kongzi atas nama MATAKIN bekerja sama dengan Pemerintah setempat (Shandong, China)

Gianti yang pada 2018 ini berakhir kepengurusannya dan merupakan periode kedua (2010-2014 dan 2014-2018) mengharapkan, setidaknya tahun ini, Perkhin bisa dimandirikan menjadi organisasi sayap dari Matakin.

Lantaran menaruh perhatian di bidang pendidikan, Ketua Bidang Wanita Matakin ini juga berharap ke depan Matakin bisa merealisasikan pembangunan Universitas Khonghucu. “Tentu ini penting, agar Khonghucu bisa menghasilkan generasi muda yang handal. “Saat ini kami sudah bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah untuk menghasilkan lulusan S2 Khonghucu,” imbuh Gianti.

Egaliter

Sementara itu, Pindawati mengatakan, dalam agama Khonghucu peran perempuan sangat diakui. Salah satunya karena lima nabinya adalah perempuan yakni, Nu Wa, Lie Zu, Jiang Yuan, Tai Ren, dan Yan Zheng Zai.

Mewakili Perkhin dalam dialog first lady Afghanistan bersama Ibu Shinta Nuriyah dan Ibu Menteri KPPA Yohana Yambise di Hotel Shangrila, Jakarta, 2017

“Tidak heran kalau di Khonghucu sangat menganut asas egaliter antara perempuan dan laki-laki,” ujar Pindawati. Hal senada diaminkan Gianti dan Js. Ratnaningsih.

Khusus di daerah Karawang sendiri, Perkhin begitu aktif melayani masyarakat. Pada saat Bulan Suci Ramadhan beberapa waktu lalu, Perkhin ikut membagikan takjil sampai 500 buah kepada para pelintas di depan Lithang yang berdekatan dengan Mal Karawang ini.

Dari kiri, Pindawati Penasihat Perkhin, Js. Ratnaningsih Sie Rohaniwati, dan Gianti Setiawan Ketua Umum Perkhin saat dijumpai di Karawang, Sabtu (28/7)

Tidak itu saja, Perkhin juga aktif bermitra dengan Kementerian Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kesehatan, Komnas Perempuan, Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dan sebagainya.

Pada peringatan Hari Ibu 2017, sejumlah pengurus Perkhin menghadiri acara di Raja Ampat yang juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana. Belum lagi dalam perayaan-perayaan khusus Khonghucu, seperti Imlek, Hari Persaudaraan dan sebagainya, Perkhin aktif memberi paket sembako kepada masyarakat.

Gianti Setiawan Ketum PERKHIN, siap melayani dan mandiri

Ke depannya Gianti berharap akan semakin banyak perempuan Khonghucu yang terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Tidak hanya sekadar mewarnai masyarakat, tapi perempuan Khonghucu juga diperlengkapi dengan kualitas yang baik sehingga mampu menjadi duta-duta Khonghucu bagi bangsa dan negara. (RN)