Jakarta, innews.co.id – Tidak banyak perempuan yang berhasil menjadi pemimpin daerah di Indonesia, apalagi di wilayah yang mayoritas menginginkan dipimpin oleh pria.

Namun, Khofifah Indar Parawansa sanggup menembus tembok yang tebal itu. Perjuangannya yang tidak kenal lelah, mampu membuat dirinya tampil sebagai Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024.

Apresiasi besar ini disampaikan Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., dalam acara syukuran Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa dikediamannya, Jl. Pengadegan Timur, Jakarta Selatan, Rabu (13/02/19).

“Khofifah adalah seorang perempuan yang tangguh, karena tidak banyak perempuan di Indonesia yang bisa menjadi pemimpin, khususnya di wilayah yang mayoritas menginginkan agar seorang pemimpin dipimpin oleh pria.

“Sebagai wanita tentunya kami sangat bahagia dan bangga, akhirnya ada perempuan sebagai pemimpin daerah di Jawa Timur untuk pertama kalinya,” ucapnya.

Menurut Giwo, meskipun ada isu bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin di Jawa Timur, karena memang dari tradisinya harus pria. Ternyata sebagai perempuan kita buktikan bisa menjadi pemimpin di Jatim, jadi artinya ada genre equality (kesamaan gender) yang berlaku di seluruh Indonesia.

“Ibu Khofifah merupakan suatu role model, panutan perempuan Indonesia. Dimana kesabaran dan perjuangan yang tidak kenal lelah bisa menebas (menepis) tradisi bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin. Dalam berjuang beliau itu akan terus berjuang sampai mencapai suatu hasil yang diinginkannya,” tuturnya.

Khofifah, bagi Giwo, sangat komitmen, konsisten dan bisa menjadi motivator untuk lingkungan di masyarakat maupun keluarga. “Saya juga melihat ketika beliau masih mempunyai anak balita yang terkecil waktu itu usianya masih beberapa bulan beliau masih memprioritaskan keluarga dengan mendidik anak-anaknya,” jelasnya.

Tidak itu saja, Khofifah sangat peduli dengan anak-anak meskipun telah menjadi seorang pejabat negara. “Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau masih sempat menyuapi makanan anaknya dari tangan beliau langsung. Walaupun ketika itu beliau sudah memiliki asisten ketika menjadi Menteri, namun tidak sungkan untuk menyuapi anaknya yang masih balita,” kenang Giwo.

Saya mengenal beliau sudah puluhan tahun sekitar tahun 2000-an. Dari dulu saya mengenal beliau itu wanita yang tidak pernah mengenal lelah. Maka dari itu, ketika beliau bisa menjadi pemimpin di Jawa Timur adalah sebuah hasil yang bukan didapatnya dengan cuma-cuma.

“Sebagai sesama wanita, saya berharap beliau bisa menjadi pemimpin yang lebih baik di Jawa Timur. Kita harus buktikan bahwa wanita juga bisa menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat untuk masyarakat,” tandas Giwo.

Sementara itu, dalam sambutannya, Khofifah menyampaikan, telah menetapkan program kerja untuk 99 hari dengan membagi dalam tiga tahapan. Masing-masing tahapan dilakukan selama 33 hari kerja.

“Kita memiliki PR besar untuk Jatim itu nomor 1 untuk kasus penyalahgunaan narkoba, HIV, pernikahan usia dini, kemiskinan pedesaan dan AIDS nomor 2,” tandas Khofifah.

Oleh karena itu, kerja secara rasional saja tidak cukup, maka harus kerja keras secara rasional, profesional, dan terukur itu penting.

“Kalau PR-nya banyak, maka harus saling bergandengan agar Allah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesuksesan yang ingin kita capai dalam waktu yang cepat. Sebab kesuksesan dilakukan dengan hasil kerja keras kita semua,” imbuhnya. (RN)