Jakarta, innews.co.id – Bayi yang sehat lahir dari ibu yang sehat pula. Ungkapan ini bukan sekadar pameo, namun peringatan bagi para wanita agar bisa menjadi kesehatan dirinya sebaik mungkin, utamanya sebelum terjadi pembuahan pada wanita usia subur (WUS) atau dikenal dengan istilah prakonsepsi.

“Pelayanan bagi wanita prakonsepsi yaitu sebelum kehamilan adalah untuk memastikan bahwa kondisi dan perilaku ibu pada saat sebelum hamil dan selama kehamilan dalam kondisi baik,” jelas Dr. dr. Lucy Widasari MSi., di Jakarta, Rabu (20/2/2019) lalu.

“Dengan pemeriksaan kesehatan sedini mungkin, maka segala risko yang bisa timbul bagi ibu dan bayi dapat terdeteksi, diidentifikasi dan dikelola agar pertumbuhan anak sejak sebelum terjadi pembuahan, lalu pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) meliputi 270 hari dalam kandungan sampai anak usia 2 tahun (730 hari) pertama kehidupannya dapat berjalan dengan baik,” papar Dr. dr. Lucy yang merupakan lulusan terbaik Program Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar, periode Desember 2018 dengan predikat cumlaude dan IPK 4.0 ini.

Dr. dr Lucy Widasari, MSi., saat menjadi narasumber di acara Pita Putih Indonesia

Ditambahkannya, dengan pola pelayanan kesehatan yang baik, maka loss generation dapat dihindari.

Menurut dokter Lucy, gizi buruk dalam periode 1000 HPK dapat menyebabkan stunting yang tidak dapat dipulihkan (irreversible), terkait dengan masalah gizi pada wanita sejak sebelum terjadi pembuahan (sebelum konsepsi, atau prakonsepsi).

Seperti diketahui, pelayanan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) selama ini terkendala dalam keterlambatan kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan (K1), serta banyaknya kasus anemia pada wanita pra hamil (prakonsepsi).

Lebih jauh dokter Lucy beranggapan, pengembangan daya saing, terutama di era globalisasi dan digitalisasi dalam Revolusi Industri 4.0 serta di tengah perebutan sumber daya pembangunan yang terbatas dan semakin langka, memerlukan upaya dan pendekatan yang berbeda dari periode sebelumnya.

“Agar daya saing tetap kuat, seluruh unsur kependudukan harus mampu mengembangkan inovasi, kreatifitas, mandiri yang responsif terhadap era Revolusi Industri 4.0 yang pencapaiannya seyogyanya disiapkan sejak sebelum terjadi pembuahan (prakonsepsi),” papar Dr. dr. Lucy Widasari. (RN)