Jakarta, innews.co.id – Pembukaan 2019, ditandai dengan mendarat mulusnya gugatan Tim Advokasi PPAT Peduli Organisasi IPPAT terhadap Konferwil IPPAT di Sulawesi Barat, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (2/1/2019).

Gugatan perbuatan melawan hukum tersebut menampilkan 8 pihak sebagai tergugat, yakni Julius Purnawan, SH., MSi (Tergugat I), Priyatno Pujakesuma, SH., MKn (Tergugat II), Dr. Habib Adjie, SH., M.Hum (Tergugat III), M. Ridwan Ambarala, SH., MKn (Tergugat IV), Arlan, SH., MKn (Tergugat V), Darul Adam, SH., MKn (Tergugat VI), Susi Ua’Sararan, SH., MKn (Tergugat VII), dan Sarah Elita Timbang, SH., MKn (Tergugat VIII).

Suasana pelantikan pengurus Pengwil IPPAT Sulawesi Barat

Ini menambah daftar panjang gugatan terhadap Julius Purnawan (12 gugatan), Priyatno Pujakesuma (11 gugatan), dan Habib Adjie (11 gugatan). Mereka bertiga tetap kokoh di puncak klasemen ‘Liga Gugatan’ IPPAT.

Tidak itu saja, dalam gugatan ini juga dikatakan, “Selama belum terpilih formatur (Ketua Umum) Pengurus Pusat IPPAT dan Anggota Majelis Kehormatan Pusat IPPAT melalui Kongres Luar Biasa IPPAT, maka tugas dan kewenangan PP dan MKP dinyatakan status quo atau tidak ada.

Selain itu gugatan menyatakan secara tegas bahwa Konferwil dan Hasil Konferwil Sulawesi Barat, 19 Desember 2018, tidak sah. Dengan begitu, maka Ketua Pengwil dan MKW terpilih hasil Konferwil Sulbar, juga tidak sah.

Berbeda dari gugatan sebelumnya yang melakukan sita jaminan, kali ini Tergugat I hingga VIII dihukum secara tanggung renteng membayar ganti rugi kepada para penggugat sebesar Rp20 milyar lebih.

Disebutkan pula, menyatakan menurut hukum putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu (uit voerbaar bij voorraad) meskipun ada verset, banding, kasasi, dan upaya hukum lainnya.

Pastinya, gugatan ini menambah semarak dalam perjalanan IPPAT pasca Kongres VII di Makassar, sekaligus menandakan persoalan di tubuh wadah tunggal PPAT itu belum berujung.

Padahal, bila ada niat baik dari pemimpin klasemen Liga Gugatan sebagai pihak yang terbanyak digugat untuk memuntaskan, maka tidak mungkin sampai separah ini. (RN)