Baginya, pengabdian bak tanpa batas, tanpa sekat, dan tanpa kata tuntas hingga akhir nafas.

Jakarta, innews.co.id – Sosok Drs. Andradjati, M.Si., dikenal sebagai pejuang diplomatik. Betapa tidak, selama 35 tahun ia bergelut dalam dunia diplomatik, terjun ke berbagai negara. Bahkan di penghujung karirnya, ia ditempatkan sebagai Duta Besar di Benua Hitam Afrika, berkedudukan di Senegal dan membawahi 9 negara Afrika yang kebanyakan dalam kondisi kurang kondusif.

Kini, pasca pensiun, ia merentas jalan pengabdian menuju Senayan, sebagai ‘diplomat’ rakyat yang akan berjuang secara diplomasi nasib rakyat Indonesia di kantor dewan.

Pria sederhana dengan nama yang cukup singkat Andradjati lahir di Jakarta, 23 Maret 1956 ditengah keluarga yang sederhana. Ayahnya Soeparto berasal dari Purworejo dan ibunya Suprapti dari Wonosobo.

Andradjati bersama ayah dan ibunya

Sejak kecil, Andradjati menetap dan dibesarkan di Bogor. Tak heran, ia begitu fasih berbahasa Sunda, meski juga piawai ngomong Jowo.

Andradjati menjalani masa kecil seperti anak-anak lainnya. Hidup dalam naungan kasih sayang kedua orangtua. Kebetulan juga, Andradjati adalah anak tunggal, tak heran curahan kasih sayang tertumpah pada dirinya.

Jualan kue

Meski terkesan dimanja, namun Andradjati tidak lantas hidup ‘seenak e dewe’. Justru ia sadar betul, meski anak semata wayang, namun bakti pada orangtua tetap harus ia jalankan.

Andradjati muda mengikuti pendidikan dasar hingga menengah atas di Bogor. Sejak di SD, Andradjati sudah menjajakan kue kering di sekolah untuk membantu ibunya.

Andardjati semasa bayi

Ia berangkat pagi-pagi betul ke sekolah agar bisa menjual kue yang masih hangat sebelum pelajaran dimulai. ‘Jualannya’ berlanjut saat jam istirahat.

Andradjati mengikuti pendidikan dasar di SD Pabrik Gas I, Kota Bogor. “Saya membawa kue-kue bikinan ibu ke sekolah untuk dijual,” kisah Andradjati dengan tatapan mata menerawang ke masa kecilnya dulu.

Andradjati belia juga pernah menjadi penjual balon mainan, penjual koran serta menolong tetangga rumahnya membuang sampah dan diberi upah. Semuanya itu dilakukan untuk mendapatkan uang jajan dan membeli mainan, antara lain karet gelang, kelereng dan panggal (gangsing).

Sang ayah adalah seorang pegawai negeri sipil. Sementara ibunya setiap hari berjualan kue. Kebetulan, di masa itu (tahun 1950-an), memang situasi ekonomi sangat sulit. Sebagai istri, sang Ibu punya beban untuk membantu suaminya.

Andradjati digendong sang ibunya

Seperti anak-anak yang lain, Andradjati suka bermain layang-layang bersama teman-temannya. Juga mengejar layang-layang putus sampai ke jalanan dengan membawa sebilah bambu. Selain itu, ia juga suka main di sungai yang berarus cukup deras.

Kehilangan

Sebagai anak tunggal, kebahagiaan begitu paripurna bagi Andradjati. Sayangnya, itu tidak berlangsung lama.

Tahun 1966, sang Ayah mulai sakit-sakitan, dan dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor. Dua tahun menjalani perawatan, Bapaknya harus menghadap Al Khalik.

Masa-masa indah bersama Sang Ayah pun usai sudah. Hanya airmata yang terus menggenangi ceruk pipi Andradjati muda. Masih melekat dibenaknya masa-masa indah bersama ayahnya.

Andradjati ditinggal bapaknya ketika remaja, masih usia 12 tahun, beberapa bulan menjelang tamat SD. Bagi Andrajati, figur seorang ayah adalah segalanya. Dia kehilangan teman bermain, bercanda dan tempat mengadu serta rebutan baca koran dengan ayahnya.

Andradjati ketika kelas II SMP

Menjalani kehidupan getir sepeninggal bapaknya, Andradjati tidak mengabaikan sekolah dan belajar. Pun ia semakin giat membantu ibunya. Alhasil, Andradjati mampu menyelesaikan pendidikan formal hingga SMA dengan tanpa hambatan. *** (Bersambung….)