Sebelumnya: Sepeninggalan sang ayah, Andradjati beberapa saat sempat merasakan kehilangan satu figur yang menjadi sahabatnya selama ini. Namun, life must go on.

Jakarta, innews.co.id – Andradjati harus melewati masa remaja yang penuh perjuangan. Kepergian sang ayah begitu membekas dalam relung kalbu Andradjati.

Bersama ibunya, dia harus tetap menjalani kehidupan dan melanjutkan jalan hidup berjualan kue.

Sementara itu, dia berjuang untuk tetap sekolah setinggi-tingginya. Ia bersyukur, sang ibu sangat memperhatikan sekolahnya. Bahkan, setiap menjelang ujian, ibunya memberi waktu lebih banyak untuk belajar.

Andradjati ketika kelas II SMP

Masih terbayang dibenaknya, sampai hari terakhir puasa harus berjualan kue untuk membeli baju. Baju itu dipakainya untuk membuat pasfoto ijazah SD.

Andradjati juga masih berusaha mendapat tambahan uang jajan dari berjualan koran dan balon mainan. Juga mendapat upah membuang sampah rumah salah seorang tetangganya tanpa sepengetahuan ibunya.

Sebagai anak-anak, ibunya memberi kebebasan bagi Andradjati bermain di luar rumah. Mulai dari main layangan, bermain di sungai atau merebut layang-layang di jalanan bersama teman-temannya. Bahkan, sampai naik ke atas pohon atau atap rumah orang.

Ibunya paham betul, Andradjati adalah seorang laki-laki yang harus punya keberanian dalam mengarungi hidup ini.

Meskipun punya pembantu, Andradjati sejak kecil sampai remaja, diasuh langsung oleh ayah dan ibunya.

Andradjati digendong sang ibunya

Ia masih ingat betul didikan sang ayah untuk hidup tertib, rapih dalam berpakaian, dan jujur. Tertib di rumah dan di luar rumah. Sejak kecil, dia diajarkan berpakaian rapih, cara makan dan bicara harus santun dan sopan.

Pun ayahnya mengajarkan ketekunan dalam belajar dan bekerja, tidak ngoyo atau memaksakan diri. Pola pendidikan orangtuanya, diterapkan pada dirinya. Ini menjadi filosofi hidupnya hingga usia lanjut.

Naik kereta

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Andradjati sudah berani naik kereta sendiri ke rumah kakek-neneknya, orangtua ibunya, di Kebumen, Jawa Tengah. Lagi-lagi ibunya tidak pernah melarang. Paling hanya mengingatkan untuk berhati-hati dan pintar-pintar membawa diri.

Sejak kecil, Andradjati punya kegemaran membaca komik yang didapatnya dengan cara menyewa di tempat penyewaan komik di dekat rumahnya.

Andradjati semasa SMA

Ia juga banyak menghabiskan waktu dalam kegiatan kepramukaan. Bahkan, tercatat ia bisa mencapai tingkat Penegak saat duduk di SMA.

Mimpi jadi tentara

Andradjati menyimpan mimpi besar sejak kecil, yakni ingin menjadi tentara. Dia memang senang memakai pakaian seragam dengan berbagai atribut.

Impiannya menjadi tentara juga terinspirasi tragedi Gerakan 30 September 1965 (Gestapu).

Meski baru berusia 9 tahun, dia masih ingat tragedi berdarah tersebut, banyak Pahlawan Revolusi yang gugur.

Sejak kecil, pengetahuan Andradjati sudah luas lantaran ia gemar membaca koran, sehingga dapat mengikuti berita-berita mengenai tragedi tersebut.

Waktu itu, idolanya Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Dia ingat bahwa Letkol Sarwo Edhie, ayah mertua dari Presiden RI ke-6, Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono. Sayang impiannya tidak menjadi kenyataan. “Mungkin Allah SWT berkehendak lain,” ujarnya singkat.

Di usianya ke-16, sang ibu memilih untuk menikah lagi dengan Sutarmo, ayah sambungan baginya. Meskipun sebagai ayah sambung, Sutarmo turut mendidik dan membimbingnya hingga jadi mandiri.

Ibunya meninggal dunia tahun 1983, disusul ayah sambungnya tahun 1985.

Pendidikan formal Andradjati, dari Sekolah Dasar hingga SLTA (SMA), dijalaninya di Kota Bogor, yakni; di Sekolah Dasar Pabrik Gas I (1962-1968); Sekolah Menengah Pertama Negeri I Bogor (1969-1971) dan Sekolah Menengah Atas Negeri I Bogor (1972-1974). *** (Bersambung….)