Sebelumnya: Impiannya dulu ingin menjadi tentara. Namun, Tuhan berkehendak lain. Masa-masa kuliah pun dilalui dengan penuh perjuangan.

Jakarta, innews.co.id – Keinginannya untuk maju begitu menggebu-gebu. Di kelas 3 SMA, Andradjati pernah ikut tes belajar di Amerika Serikat (American Field Service/AFS), namun tidak berhasil.

Tamat SMA, dia ikut tes masuk Fakultas Sosial Politik (sekarang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Universitas Gadjah Mada (UGM), namun tidak berhasil.

Ia pun mencoba ikut tes masuk Fakultas Sosial Politik Universitas Padjadjaran Bandung, akhirnya diterima sebagai mahasiswa angkatan tahun 1975.

Untuk bidang studi, Andradjati memilih Hubungan Internasional.

Dia bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi berkah dan hidayah-Nya, sehingga menyelesaikan studinya tepat waktu, lulus tahun 1980, bahkan menjadi lulusan pertama dari teman-teman kuliah se-angkatan di jurusan Hubungan Internasional.

Biaya pendidikannya diambil dari pensiunan PNS mendiang ayahnya dan dari ibunya hasil berjualan kue.

Di SMA dulu, ia memperoleh keringanan pembayaran uang sekolah, karena orangtuanya seorang pensiunan (meninggal).

Ibunya walaupun sudah menikah lagi, tetap berjualan kue. Usaha Andradjati melebar sampai jualan makanan kering, dan kain batik dari teman-temannya.

Andradjati semasa SMA

Di bangku kuliah, Andradjati adalah mahasiswa yang cerdas. Mulai tingkat III sampai lulus ia memperoleh beasiswa Supersemar dari pemerintah. Jadi biaya pendidikannya berasal dari orangtua, usahanya sendiri dan beasiswa pemerintah.

Selama kuliah di Bandung, dia tinggal bersama beberapa teman SMA yang melanjutkan kuliah di Universitas Padjadjaran.

Ingin jadi dosen

Kuliah di jurusan Hubungan Internasional, tak lantas membuat dirinya mau jadi diplomat. Justru berkeinginan menjadi dosen dan memperoleh gelar akademis tertinggi (Profesor). Namun, hal ini tidak kesampaian.

“Saya kembalikan kepada kehendak Allah SWT. Seseorang bisa saja mempunyai impian atau keinginan, tetapi tidak selalu menjadi kenyataan, karena Allah SWT menentukan jalan hidup manusia,” ujarnya.

Alhamdulillah, masa dewasa dilaluinya dengan penuh berkah dan aktivitas, baik di rumah maupun di luar rumah. Aktivitas rutin di rumah masih membantu ibunya berjualan kue. Andradjati pindah ke Jakarta, tahun 2009.

Jika semasa SMA, Andradjati aktif di OSIS dan Pramuka, di kampus ia aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di Fakultas Sosial dan Politik UNPAD, Bandung. Bersama teman-teman kuliahnya ia membuat majalah kampus Socio-Politica.

Ia masih ingat, semasa kuliah ia mengalami
peristiwa “penghijauan kampus”. Bukan penanaman pohon, tetapi tentara masuk kampus, membungkam mahasiswa untuk tidak melakukan aksi gerakan mahasiswa 1978 menjelang Sidang Umum MPR yang akan memilih Presiden.

Semasa kuliah, Andradjati muda sempat belajar Bahasa Perancis (di Alliance Francais), karena ingin menyiapkan diri agar bisa melanjutkan studi ke Perancis.

Sambil bekerja

Di masa penyusunan skripsi, berbekal ijazah Sarjana Muda, dia sempat mengikuti tes dan diterima sebagai PNS di Biro Kerjasama Teknik Luar Negeri (KTLN) Sekretariat Negara.

Sayangnya, ia hanya bekerja 3 minggu lantaran tidak memperoleh izin dari pimpinan (Kepala Biro KTLN), agar ia bisa melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya.

Setelah lulus dan meyandang gelar sarjana (Drs-Doctorandus), dia ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan berusaha memperoleh beasiswa.

Keinginan ini disampaikannya kepada salah seorang dosen favoritnya dan mendapat respon positif. Dia mengajukan permohonan menjadi tenaga pengajar (Asisten Dosen) untuk mata kuliah Pengantar Hubungan Internasional, sebagai salah satu syarat agar dapat mengajukan beasiswa Fullbright. Namun, impiannya untuk memperoleh beasiswa di Fullbright kandas, karena tidak lulus seleksi.

Andradjati tetap melanjutkan proses untuk bekerja di bidang pendidikan. Sambil menunggu, dia memanfaatkan peluang kerja di Kementerian Luar Negeri (dahulu Departemen Luar Negeri, red).

Setelah melalui proses seleksi dari awal hingga akhir, dia diterima bekerja di Kementerian Luar Negeri, dan harus mengikuti pendidikan diplomat selama satu tahun.

Dia sempat bimbang, apakah akan berprofesi di bidang pendidikan atau berkarir di Kementerian Luar Negeri sebagai diplomat.

Jika pilihan berprofesi di bidang pendidikan, dia harus menunggu pengumuman hasil seleksi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, red).

Andradjati meminta nasihat dan mendapat restu orangtua. Kemudian berkonsultasi dan mendapat izin dari dosen yang memberikan rekomendasi untuk menjadi tenaga pengajar. Akhirnya, ia memutuskan untuk berkarir sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri. *** (Bersambung….)