Sebelumnya: Keputusan Andradjati sudah final. Berkarir sebagai diplomat menjadi pilihan hidupnya.

Jakarta, innews.co.id – Andradjati sadar betul banyak orang menilai profesi diplomat itu eksklusif. Padahal, tidak demikian adanya. “Seorang diplomat tetap membumi (down to earth),” kata Andradjati.

Sejatinya, diplomat memiliki 5 fungsi, sebagaimana diatur dalam Konvensi Wina Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik (Vienna Convention on Diplomatic Relations).

Fungsi Pertama, mewakili (Representing) negaranya di negara tempat dia bertugas (negara penerima).

Kedua, fungsi melindungi (Protecting) kepentingan negaranya dan warga negaranya di negara penerima sesuai dengan ketentuan hukum internasional;

Ketiga, fungsi negosiasi (Negotiating) dengan pemerintah negara penerima.

Keempat, fungsi menyampaikan laporan (Reporting) kepada pemerintah negaranya tentang kondisi dan perkembangan di negara penerima.

Dan fungsi kelima, meningkatkan (Promoting) hubungan baik antara negaranya dengan negara penerima serta membangun kerjasama ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Untuk menjadi seorang diplomat, Kementerian Luar Negeri (Departemen Luar Negeri/Deplu dulu, red) menetapkan salah satu syarat untuk lolos seleksi sebagai calon diplomat yakni memiliki karakter yang cocok untuk berprofesi sebagai diplomat.

Dikisahkan Andradjati, awal tahun 80-an, jumlah sarjana baru dan peminat untuk menjadi diplomat masih relatif sedikit.

Di eranya, peserta seleksi lebih kurang 400 orang sarjana baru dari berbagai jurusan atau bidang studi dan yang lulus hingga akhir proses selesai hanya 40 orang.

“Seleksi angkatan saya merupakan kali pertama Deplu melakukan seleksi calon pegawai yang jika lolos langsung dapat mengikuti pendidikan diplomat. Sebelumnya, seleksi calon peserta pendidikan diplomat dilakukan 2 tahap, yakni lulus seleksi sebagai pegawai negeri sipil Deplu kemudian setelah beberapa tahun bekerja dapat mengikuti tes untuk ikut pendidikan diplomat. Jika satu kali tes tidak lulus, masih diberi kesempatan lagi hingga maksimum 3 tes dan batas maksimum usia 35 tahun. Sedangkan untuk sarjana baru, batas usia maksimalnya 28 tahun,” urainya.

Di Kemenlu, lanjut Andradjati, ada 2 kategori pegawai. Pertama, Pejabat Dinas Dalam Negeri (PDDN), yaitu mereka yang tidak memiliki ijazah sarjana, karena salah satu syarat untuk menjadi diplomat adalah minimal memiliki tingkat pendidikan sarjana (S1) dan mereka yang tidak lolos mengikuti tes pendidikan diplomat. Kedua, Pejabat Dinas Luar Negeri (PDLN), yaitu mereka yang telah lulus pendidikan diplomat atau dengan kata lain mereka yang mempunyai “tiket” untuk ditempatkan pada Perwakilan RI di luar negeri.

Diakuinya, pengalaman mengikuti seleksi sebagai calon dan bisa lolos tidak mudah, karena selain memiliki pemahaman tentang isu-isu internasional, Bahasa Inggris juga memiliki dasar-dasar karakter dan mental sebagai diplomat. Dan tes yang paling berat yakni psikotes.

“Saya masih ingat pendapat yang disampaikan oleh Bapak Duta Besar Taufik Sudarbo (alm), Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Deplu pada waktu itu (1980), bahwa psikotes yang diselenggarakan oleh Deplu merupakan tes untuk mengetahui apakah seseorang berbakat atau tidak untuk menjadi diplomat,” ujarnya.

Kata beliau, lanjut Andradjati menyitir ucapan Sudarbo, “Kalau dari sononya tidak mempunyai bakat untuk menjadi diplomat, maka tidak bisa diterima”.

Kekurangan dalam kemampuan berbahasa asing, khususnya Bahasa Inggris dan pemahaman isu-isu internasional masih bisa diperbaiki atau ditingkatkan. Tapi kalau sudah menyangkut karakter dan mentalitas, sulit untuk diperbaiki.

“Peserta seleksi yang sama-sama dengan saya dan mereka tidak lolos adalah karena tidak lulus psikotes. Padahal kemampuan bahasa Inggrisnya jauh lebih baik daripada saya. Pada waktu itu, kemampuan bahasa Inggris saya mungkin hanya cukup, karena saya pernah tidak lolos seleksi untuk mendapatkan beasiswa Fullbright,” kisah Andradjati mengingat saat-saat tes yang ia jalani dulu.

Sejak dahulu, Deplu dalam penerimaan pegawai sudah bebas dari kolusi, koneksi dan nepotisme (KKN).

“Saya masih ingat, sekalipun anak pejabat tinggi negara dan kemampuan bahasa Inggrisnya baik, tapi kalau gagal psikotesnya, maka maaf tidak dapat mengikuti tes tahap berikutnya. Bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan kepada saya dalam mengikuti tes di Deplu sehingga bisa lolos seleksi sebagai calon diplomat,” ucapnya penuh rasa syukur.

Lulus tesnya Andradjati, menjadi babak baru dalam menjalani kehidupan selanjutnya. *** (Bersambung….)