Sebelumnya: Baginya, menjadi diplomat adalah panggilan nurani sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.

Jakarta, innews.co.id – Andradjati harus menempuh pendidikan panjang untuk menjadi seorang diplomat.

Pendidikan diplomat merupakan pendidikan berjenjang, mulai tingkat dasar, tingkat madya hingga tingkat pimpinan atau Sekolah Staf Pimpinan Departemen Luar Negeri (Sesparlu).

Sehari-hari, selain menempuh pendidikan, Andradjati juga dituntut harus bekerja di Kantor Departemen Luar Negeri di Pejambon

Statusnya sebagai peserta Sekdilu Dasar adalah calon pegawai negeri sipil Deplu dan menerima gaji 80 persen dari gaji pokok, bisa dibayangkan kira-kira berapa besarnya, seingat saya lebih kurang Rp36.000 di tahun 1981-1982.

Ketika itu, walaupun saya sudah menyandang status calon pegawai negeri sipil Deplu, tapi setiap bulannya saya masih mendapat subsidi dari orangtua. Sungguh besar pengorbanan orangtua saya. Lulus dari pendidikan diplomat Sekdilu Dasar tahun 1982, Andradjati diangkat menjadi pegawai negeri sipil dengan pangkat Penata Muda/Golongan III/a dan menerima gaji 100 persen.

Sebelum ikut Sekdilu, Andradjati sebagai staf di Direktorat Organisasi-organisasi Internasional telah diperkenalkan dengan isu perlucutan senjata (Disarmement) yang pada awal tahun 80-an sedang hangat dibicarakan di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) guna menghindari perang antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia).

Ia pun diberi kesempatan ikut sebagai anggota Delegasi RI ke Sidang Komite Perlucutan Senjata di Markas PBB di Jenewa, Swiss selama 3 bulan (Februari – April 1984). Ini menjadi kesempatan pertamanya ke luar negeri.

Ke Kanada

Setelah misi ke Jenewa berhasil, Andradjati pada Juli 1984 berangkat ke Ottawa, Kanada untuk mengikuti program penugasan pertama atau istilahnya kerja magang pada Kedutaan Besar RI di Ottawa selama satu tahun dengan gelar diplomatik Atase.

Selama program magang, saya dan teman-teman di bawah bimbingan Duta Besar RI (pada waktu itu Duta Besar Dr. Hasjim Djalal) dan dibantu oleh Kepala Bidang Politik sebagai koordinator pelaksana program magang di KBRI Ottawa.

Duta Besar Hasjim Djalal memutuskan tetap mempertahankan Andradjati bertugas di KBRI Ottawa hingga tiga tahun.

Kembali dari Kanada, Andradjati ditugaskan sebagai Kepala Seksi Energi Konvensional (energi yang tidak dapat diperbaharui/tidak terbarukan) pada Direktorat Hubungan Ekonomi antar Negara Berkembang (HENB), Ditjen HELN.

Penugasan keluar negeri kembali ia terima, tahun 1990-1994 pada Kedutaan Besar dan Perutusan Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Wina, Austria, negeri tempat kelahiran Mozart.

Penugasan di Wina, memiliki tugas dan tanggung jawabnya ganda, artinya, tidak hanya menangani urusan hubungan dan kerja sama bilateral RI – Austria tetapi juga menangani urusan multilateral, yakni hubungan dan kerja sama Indonesia dengan OPEC dan OPEC Fund karena Indonesia merupakan anggota dari kedua organisasi tersebut serta antara Indonesia dengan Badan-badan PBB yang bermarkas di Wina.

Sekembali dari Wina, saya bertugas sebagai Kepala Sub-Direktorat Kerjasama Keuangan Eropa Barat pada Direktorat Investasi dan Kerjasama Keuangan (Invesku), Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri (HELN) dari tahun 1995 hingga 1998.

Setelah tiga tahun menggeluti kerjasama keuangan dengan negara-negara Eropa Barat, pada tahun 1998 – 2002 saya kembali ditugaskan ke benua Eropa, untuk penugasan ketiga, tepatnya di “Jantung” Eropa, di Brussel, Belgia yang terkenal dengan kue Wafel-nya.

Setelah selesai penugasan ketiga di kota Wafel, dalam struktur baru Kementerian Luar Negeri sebagai hasil dari Restrukturisasi pertama, saya mendapat amanah dan sekaligus promosi sebagai Direktur Komoditi dan Standardisasi. Urusan Komoditi dan Standarisasi dalam struktur lama berada pada tingkat eselon III (Kepala Sub-Direktorat), namun dengan pertimbangan bertambah banyaknya cakupan isu yang ditangani maka ditingkatkan menjadi eselon II (level Direktur) dan itu merupakan kali pertama saya menjadi Direktur (2002 -2004).

Di masa jabatannya itu, Andradjati berkesempatan bertemu Paus Paulus II DI Vatikan City saat Konferensi Tingkat Tinggi Pangan Dunia (World Food Summit) yang diselenggarakan oleh FAO di Roma, tahun 2003.

Lanjut, Andradjati ditugaskan ke Singapura. Banyak pengalaman menarik ia rasakan selama bertugas di Singapura. Sebagai negara transit, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dijalankan Andradjati.

Di sana pun, ia sempat menjadi Kuasa Usaha ad-interim KBRI Singapura selama lebih kurang 7 bulan berhubung Kepala Perwakilan RI, Duta Besar M. Slamet Hidayat ditarik ke Jakarta untuk menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Multilateral.

Bertugas di Benua Hitam

Setelah 3 tahun bertugas di Singapura, ia mendapat amanah baru dari Pemerintah Republik Indonesia, sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan dengan wilayah kerja 4 (empat) propinsi di Afrika Selatan (Western Cape, Eastern Cape, Northern Cape dan Free State).

Lepas dari Afrika, berbekal pengalaman, Andradjati dipercaya sebagai Direktur Afrika Kemenlu untuk menangani penyelenggaraan hubungan luar negeri dan politik luar negeri dalam lingkup bilateral antara Indonesia dengan 48 negara (setelah terbentuknya negara Sudan Selatan menjadi 49 negara) di kawasan Sub-Sahara Afrika.

Rupanya Benua Hitam menjadi tempat akhir dari perjalanan karir Andradjati. Ia dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi wakil bangsa dan negara Indonesia (Dubes RI) di Dakar, Senegal. Selain ditugaskan di Dakar, Senegal, Andradjati juga mendapat tugas tambahan yakni merangkap 8 negara lainnya di Afrika bagian Barat dan bagian Tengah, yakni Gabon, Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Pantai Gading, Sierra Leone dan Republik Demokratik Kongo (Kongo-Kinshasa). Jadi dia bertugas mewakili Indonesia di 9 negara di Afrika. Hingga ia mengakhiri tugas pada 2016

Sebagai Dubes, Andradjati juga aktif melakukan promosi produk ekspor Indonesia, baik untuk mengajak para pelaku bisnis di wilayah kerjanya untuk menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) yang diselenggarakan setiap tahun di Jakarta.

Disamping itu juga aktif melakukan promosi seni-budaya di wilayah kerjanya, baik melalui Resepsi Diplomatik dalam rangka HUT Kemerdekaan RI yang diselenggarakan di Wisma Duta Indonesia maupun penyelenggaraan Indonesian Day yang menampilkan tarian, pakaian daerah dan kuliner Indonesia serta menyelenggarakan Batik workshop dan peragaan busana batik oleh mahasiswa serta mahasiswi Senegal yang belajar Bahasa Indonesia di salah satu perguruan tinggi di Dakar.

Andradjati siap melangkah ke Senayan

Karir Andradjati di dunia diplomatik mungkin telah usai. Namun, pengabdiannya pada bangsa dan negara terus berlanjut. Salah satunya adalah ikut sebagai calon legislatif pada Pemilu 2019 dari Partai Perindo.

Jika dulu, ia abdikan dirinya bagi bangsa dan negara lewat jalur diplomasi di luar negeri, kini ia abdikan dirinya untuk rakyat Indonesia. Terus berjuang Pak Andradjati. (RN)