Jakarta, innews.co.id – Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (30/1/2019) seolah bergemuruh dengan kehadiran sejumlah pengurus Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) yang dipimpin langsung Ketua Umum hasil Kongres VII di Makassar.

Kehadiran mereka yang tidak disangka-sangka itu rupanya ingin membicarakan soal mediasi. Sayangnya, mereka hadir diluar jadwal mediasi yang telah ditentukan pihak pengadilan.

Rombongan yang didampingi kuasa hukumnya terdiri dari Julius Purnawan, SH., MSi., Dr. Made Pria Dharsana, Gatot Triwaluyo, SH, dan sejumlah PPAT lainnya.

Dari informasi yang dihimpun, rombongan sempat bertemu dengan hakim mediator dan diperlihatkan draft perdamaian yang sudah ada. Namun, sepertinya Julius cs masih ingin mempelajari lebih jauh.

Ketika coba dikonfirmasi, Tagor Simanjuntak, SH., juru bicara PPAT Peduli IPPAT membenarkan kehadiran para petinggi IPPAT hasil Kongres VII di Makassar yang saat ini tengah digugat di pengadilan tersebut.

“Ya benar, mereka datang. Padahal, tidak ada jadwal mediasi. Dan, proses mediasi sudah selesai,” jelas Tagor dalam pesan singkatnya seraya menyoroti kehadiran Pria Dharsana yang faktanya tidak ada hubungan dengan perkara.

Perihal meski diluar jadwal mediasi, namun rombongan bisa bertemu hakim mediator, Tagor beranggapan, mungkin di antara mereka ada yang kenal Pejabat PN Hakim mediator sehingga mereka diberi kelonggaran. Atau dari pada menghalangi pemandangan orang di PN, mereka ditemui karena bawa supporter banyak, saingan dengan pendukung Hercules yang sidang hari itu di PN Jakbar.

Lebih jauh ia mengatakan, kehadiran mereka menjadi gambaran bahwa tidak menghargai panggilan PN, walau sudah dipanggil dengan semestinya. “Padahal, mereka kan ada kuasa hukum yang bisa mewakili untuk minta penundaan,” ujar Tagor.

Apakah kehadiran mereka akan mempengaruhi draft perdamaian dan sidang selanjutnya? “Kehadiran mereka tidak ada pengaruh apa-apa karena sudah 2 kali diberi kesempatan hakim mediator, tapi tidak dimanfaatkan. Dan, ada BAP-nya oleh Panitera,” tambahnya lagi.

Bagi Tagor, kehadiran rombongan diluar jadwal mediasi seolah mau mencitrakan mereka sudah terzolimi.

“Hanya modus seakan-akan terzolimi,” ujarnya lugas.

Ditambahkannya, proses persidangan akan lanjut.

Ketika coba dikonfirmasi kepada Julius Purnawan via WA, meski sudah dibaca, namun hingga berita ini dirilis tidak direspon sama sekali. (RN)