Catur Susanto, Kepala Pusat Data Kementerian Koperasi dan UKM RI

Oleh: Catur Susanto*

Model bisnis “economic sharing” atau ekonomi berbagi, saat ini berkembang pesat seiring makin maraknya aplikasi on demand yang berkembang di masyarakat.

Secara harfiah, ‘sharing economy’ adalah ekonomi berbagi. Istilah sharing bisa diartikan secara umum sebagai aktivitas berbagi yang bersifat sosial (charity), sehingga sering diasosiasikan sama sekali tidak memberdayakan masyarakat. Sementara istilah sharing economy lebih melingkupi ranah ekonomi.

Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai (value), kemandirian, dan kesejahteraan (welfare), sebagaimana tujuan utama koperasi sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Hal ini secara jelas dan tegas telah termaktub dalam platform bisnis koperasi yang memiliki identitas dan berbeda dengan badan usaha lain, yaitu: 1). Nilai dasar koperasi (kekeluargaan, kegotong royongan); 2). Prinsip koperasi, antara lain kemandirian, keterbukaan; 3). Tujuan (Goal Setting) koperasi dalam upaya kesejahteraan bagi anggota. Dalam koperasi, kekuatan anggota mempunyai sifat triple identity of the member atau tiga fungsi ganda anggota koperasi, yaitu sebagai pemilik, pengendali, dan pengguna koperasi yang merupakan fondasi utama organisasi.

Kekuatan anggota koperasi sebagaimana Data Kementerian Koperasi dan UKM yang diolah berdasarkan Online Data System (ODS) jumlah anggota koperasi secara nasional per 31 Desember 2018, sebanyak 20.049.995 orang, pengurus 379.079 orang, pengawas 126.343 orang, dan tenaga kerja koperasi berkisar 921.707 orang merupakan potensi dan kekuatan luar biasa apabila mampu diberdayakan.

Selanjutnya, pilar manajemen koperasi yaitu: pengurus, pengawas, dan manajemen (manajer dan karyawan) merupakan kekuatan representatif koperasi yang bersifat komplementer dalam mewujudkan tujuan utama organisasi.

Untuk itu, manajemen partisipasi dari para stakeholder yang terlibat dalam ekosistem koperasi harus mampu berbagi peran masing-masing sehingga idle capacity atau aset-aset yang potensial koperasi akan dapat lebih mudah diberdayakan. Semuanya akan melakukan peran masing-masing, baik anggota maupun koperasi, sehingga nantinya akan terjadi yang namanya hubungan timbal balik atau memberikan bagi hasil. Jadi sharing di sini adalah pembagian peran/tugas dan pembagian hasil. Pada hakikatnya, koperasi selain menciptakan tujuan kesejahteraan anggotanya, tujuan utamanya dalam rangka efisiensi tata kelola usaha yang bermuara: dari, oleh, dan untuk anggota.

Model ekonomi berbagi seperti ini sebetulnya telah dimiliki koperasi dan merupakan platform koperasi. Hanya yang membedakan, berkembangnya teknologi secara pesat sehingga munculah aplikasi, situs web dan platform market place sebagai perantara untuk saling memanfaatkan aset dan berbagi untung dengan cepat. Berbeda dengan metode badan usaha lainnya bahwa pola pikir yang diterapkan secara luas oleh banyak pengusaha dengan berupaya memiliki aset kunci dalam perusahaan. Model bisnis ekonomi berbagi sangat berbeda dengan model badan usaha lainnya, konsep koperasi di mana aset utamanya mungkin justru dimiliki oleh anggota. Sebagai analogi, ada seorang pemilik sawah melihat petani hendak melewati sawahnya. Dalam ekonomi berbagi, pemilik sawah justru membolehkan dan menawari petani untuk kerja sama dan berbagi untung. Dalam era digitalisasi saat ini model ekonomi berbagi banyak dikemas dalam bentuk aplikasi dan dikembangkan oleh generasi milenial. Bukan hanya di sisi transportasi, ekonomi berbagi ini sebenarnya bisa diterapkan di berbagai sektor bisnis selama banyak konsumen yang punya masalah dengan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya.

Hal ini hakikatnya sama dengan konsep utama pendirian koperasi dalam rangka menolong diri sendiri (self help) secara bersama-sama sebagai akibat adanya permasalahan bersama pula. Ekonomi berbagi akan mempunyai kelebihan pada ketersediaan luas dari pihak lain sehingga mampu memberikan kemudahan pemenuhan kebutuhan untuk penggunanya. Contoh konkret manifestasi koperasi sebagai implementasi economic sharing, seperti koperasi produsen akan mengakomodir masyarakat pedesaan yang mengalami kesulitan dengan varian masalah, misal: pembiayaan dan pemasaran. Dengan tumbuh dan berdirinya koperasi di suatu tempat akan menyatukan keberagaman permasalahan dari anggota yang nantinya akan mampu diakomodasi oleh koperasi.

Ketika satu anggota mengalami permasalahan pembiayaan pembelian mesin traktor dengan harga Rp 20 juta untuk menggarap sawah, maka dengan berkumpulnya minimal 20 orang akan semakin memperingan permasalahan petani apabila diselesaikan secara individu. Di sini sifat kohesivitas koperasi dan anggota merupakan hubungan yang bersifat interdepedensi dan simbiosis mutualisme.

Salah satu manfaat sosial terpenting dari economic sharing dalam koperasi adalah
penciptaan wirausahawan koperasi (wira koperasi) melalui sebuah platform kolaborasi anggota dan organisasi koperasi menjadi layanan bernilai tinggi atau memberikan layanan prima. Platform economic sharing merupakan alat strategis untuk mendistribusi kemakmuran sebagaimana pesan Bung Hatta mengenai koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Seharusnya model bisnis economic sharing saat ini bisa menjadi eksperimen mutakhir untuk mewujudkan cita-cita Bung Hatta. Platform economic sharing saat ini justru semakin berkembang menjadi miniatur dari ekonomi kerakyatan. (*)

* Catur Susanto, Aktivis dan Pegiat Koperasi