Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan, pada sebuah acara workshop Koperasi Pegawai Pemerintah Kota Bandung (KPKB) di Bandung, Jumat (14/2/2020)

Bandung, innews.co.id – Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, sebanyak 81.686 koperasi di Indonesia dibubarkan. Tercatat pada 2016 ada 45.629 koperasi, 32.778 koperasi (2017), 2.830 koperasi (2018), dan 449 koperasi di 2019.

Data itu secara terbuka disampaikan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan, pada sebuah acara workshop Koperasi Pegawai Pemerintah Kota Bandung (KPKB) di Bandung, Jumat (14/2/2020).

Dia mencontohkan, dari 25 ribuan koperasi di Jawa Barat, tinggal 13 ribu yang ada, atau hampir 50 persen dibubarkan atau membubarkan diri. “Saat ini, jumlah koperasi yang ada di Indonesia 126 ribuan”, ujar Prof Rully.

Pihaknya, kata Prof Rully, akan terus melakukan seleksi. “Dengan seleksi ini, koperasi di Indonesia kini dalam kondisi lebih baik”, tegas dia.

Meski dari sisi jumlah lebih kecil, namun yang terpenting adalah kualitas dari koperasi dan benefit yang diterima anggotanya. “Untuk itu, kami akan terus menggenjot koperasi untuk bermanfaat bagi anggotanya,” kata dia.

Selain itu, lanjut Prof Rully, koperasi tidak bisa dilepaskan dari eksistensi UMKM. Apalagi ke depan, UMKM didorong untuk menjadi anggota koperasi. Begitu pun sebaliknya, anggota koperasi didorong untuk menjadi pelaku usaha.

Sebab dengan berkoperasi, menurut Prof Rully, UMKM di Indonesia akan lebih memiliki daya saing. Sebab, jika melihat kinerja ekspor UMKM di Indonesia, masih terbilang kecil di angka 14 persen karena lemahnya daya saing.

“Kita harus mengubah mindset, kalau koperasi itu skala usaha kecil. Jangan salah, jumlah koperasi besar di Indonesia 0,03% , lebih tinggi dibanding pengusaha besar yang hanya 0,01%,” kata Prof Rully.

Di 2020 ini, Kemenkop dan UKM sudah menyiapkan dana bergulir sebesar Rp1,8 triliun. Dana tersebut terutama diperuntukkan bagi koperasi yang bergerak di sektor riil, seperti kerajinan, busana, hingga sektor riil yang menggunakan teknologi tinggi. (RN)